Minggu, 13 Maret 2016

Langkah kecil dalam catatan perjalanan Bahasa Using

Tanggal 6 Maret 2016 yang lalu, ada satu peristiwa yang di masa datang bisa tercatat sebagai salah satu langkah penting, sebuah tonggak bersejarah, dalam perjalanan perjuangan, perkembangan dan pelestarian Bahasa Using.
Hari itu, sebuah tabloid mingguan yang terbit di Banyuwangi yaitu "Bisnis Banyuwangi" untuk pertama kalinya memuat sebuah cerita pendek berbahasa Using di salah satu halamannya. Kebetulan cerita pendek tersebut ditulis oleh cerpenis muda Banyuwangi Nur Holipah dengan judul "Patung Gandrung".
Halaman Cerpen berbahasa Using itu akan menjadi sebuah bagian yang hadir secara
rutin setiap minggunya. Memang jika melihat ukurannya yang hanya setengah halaman terlihat sepele. Tetapi untuk perkembangan bahasa Using, kehadirannya menjadi amat sangat signifikan. Mengapa? Inilah untuk pertama kalinya bahasa Using mendapat tempat dalam sebuah penerbitan media cetak umum secara rutin. Setengah halaman itu memberi ruang yang begitu besar bagi bahasa Using untuk terus berkembang.
Selama ini memang bahasa Using tidak banyak diberi peluang untuk berkembang dalam bentuk bahasa tulis. Bahasa Using lebih berkembang dalam bahasa tutur lewat lagu-lagu tradisional, lewat basanan dan wangsalan atau dalam percakapan-percakapan.
Saat ini media yang masih secara rutin diterbitkan dengan menggunakan Bahasa Using adalah majalah Lontar Using yang diterbitkan oleh Balai Bahasa Jawa Timur. Tetapi rentang penerbitannya yang hanya enam bulan sekali dan ditambah dengan jangkauan distribusinya yang terbatas, majalah Lontar Using kurang menimbulkan dampak yang luas, terutama pada masyarakat umum sebagai penutur bahasa Using.
Sebelumnya, juga ada diterbitkan beberapa buku berbahasa Using di luar buku-buku pelajaran sekolah dan penunjangnya, yang diterbitkan secara mandiri, antara lain oleh Sengker Kuwung Belambangan, sebuah organisasi yang mempunyai perhatian kepada perkembangan bahasa Using. Buku-buku tersebut misalnya; kumpulan cerita:Kembang Ronce, Jala Sutera, dan Markas Ketelon. Kumpulan artikel: Nggesahaken Seni lan Sastra Banyuwangi dan Enam Mata Tentang
Banyuwangi. Novel: Nawi BKL Inah dan Niti Negari Bala Abangan dan buku penunjang pelajaran sekolah: Isun Dhemen Basa Using dan Nganggit Nganggo Basa Using.
Koran Radar Banyuwangi pernah memuat cerpen berbahasa Using sebanyak tiga judul dalam edisi minggunya, setelah itu selesai.
Jadi keberanian mingguan "Bisnis Banyuwangi" menyediakan halaman berbahasa Using sungguh seperti oase yang menyegarkan yang selama ini ditunggu-tunggu oleh para pegiat Bahasa Using.
Dengan adanya halaman yang didedikasikan menggunakan bahasa Using, diharapkan dapat memperluas jangkauan distribusi media berbahasa Using ke berbagai lapisan masyarakat. Para pengguna bahasa Using dapat menikmati karya sastra dalam bahasa Using lebih sering. Munculnya karya sastra yang lebih banyak ini juga memberi peluang berkembangnya bahasa Using. Karena pengarang seringkali memunculkan istilah dan lema baru yang belum tercatat dalam Kamus Bahasa Daerah Using-Indonesia yang sejak penerbitannya tahun 2002 lalu belum pernah diperbaharui.
Saya berharap, koran Bisnis Banyuwangi di masa mendatang, bisa memberi halaman lebih luas lagi untuk bisa mewadahi bentuk tulisan lain, tidak hanya sekedar cerpen. Karena untuk menjadi sebagai sebuah bahasa yang utuh, bahasa Using juga harus bisa dan banyak digunakan dalam berbagai bentuk tulisan lainnya: artikel populer, esai, pelajaran, reportase bahkan bahasa ilmiah.
Ayo, ikut menulis dalam halaman tersebut. Itu akan jauuuuh lebih mulia daripada sekedar berdebat apakah bahasa Using itu merupakan sebuah bahasa atau dialek, atau berebut merasa paling benar soal penulisan ejaan sementara ejaan yang baku sudah memiliki pedomannya dan sudah pula diajarkan di sekolah sejak tahun 2007.
Mungkin tidak ada keuntungan material dari langkah kecil upaya pelestarian ini karena ini bukan sebuah proyek yang berharap dan bergantung pada kucuran dana dari manapun. Akan tetapi percayalah, bahwa suatu saat nanti, upaya ini akan menjadi catatan indah dalam perjalanan perkembangan dan pelestarian Bahasa Using.
Kadhung kepingin basa Using iki ngadeg jejeg, aja mung abrak-abrak belarak, aja mung omong kelamong.
Mayo, gancang siapaken naskahe, padha milu nguri-uri basa Using, kadhung dudu awak dhewek hang nguripi aju sapa maning?.
Untuk ikut berpartisipasi dalam cerpen bahasa Using, tulis 6000 karakter atau kurang lebih tiga halaman, dan kirim ke: basausing@gmail.com.

Selasa, 01 Maret 2016

Obituari: Prof Ayu Sutarto


 Suatu sore setelah lebaran Juli 2015. Dalam medsos facebook saya menggunggah beberapa foto setelah berkeliling di Jember bagian utara, sepanjang jalan di atas sungai. Salah seorang yang memberi komen dalam foto itu adalah Professor Ayu Sutarto. Beliau mempersilahkan saya untuk mampir di sanggarnya yang asri di pinggir Kali Bedadung.
Selepas magrib saya menuju ke sanggar tersebut, bertepatan dengan Pak Ayu yang hendak meninggalkan rumahnya. Melihat saya datang, beliau yang hendak bersilaturahim ke tetangga, berbalik arah dan membawa saya ke sanggarnya.
Sebelumnya saya hanya mengenal beliau dari namanya yang sering disebut-sebut dalam perbincangan dengan budayawan Hasnan Singodimayan. Bahwa orang Pacitan ini sangat besar perhatiannya pada budaya Jawa Timur, khususnya Using, Tengger dan Madura.
Perkenalan lewat media sosial itu kemudian membawa pada pertukaran buku. Saya pernah memberikan beberapa buku berbahasa Using: Enam Mata Tentang Banyuwangi, Kembang Ronce, Markas Ketelon  dan Nawi BKL Inah.
Sore itu beliau menghadiahi saya sebuah dua buah buku. Sebenarnya ada buku yang ingin saya punyai dari beliau yaitu Kamus Budaya dan Religi Using. Tapi ternyata buku tersebut hanya tersedia di kampus Fak Sastra Universitas Jember, tempat beliau mengajar sehari-harinya. Akhirnya saya mendapatkan buku beliau lewat salah satu mahasiswanya.
“Senang  selalu menjadi yang pertama,” kata beliau. “Karena orang lain belum melakukannya.”
Memang beliau termasuk orang luar Banyuwangi yang mempunyai perhatian besar pada Banyuwangi. Oleh beberapa budayawan Banyuwangi, Pak Ayu dengan segala gelar dan jaringan akademisnya, selalu dianggap “membela” orang Banyuwangi dalam berbagai kesempatan.
Termasuk dalam ‘pembelaannya’ itu adalah terbitnya buku dongeng cerita rakyat Banyuwangi dan ensiklopedia bersampul merah itu.
Beliau sangat bangga dengan sanggarnya yang menjadi tempat pembelajaran anak-anak, tempat bermain, sekaligus oase penyejuk pada makin sedikitnya tempat bermain untuk anak-anak. Ada egrang, hulahop, dan berbagai mainan anak-anak yang tersusun rapi.
Di seberang tempat baca dan bermain anak-anak, ada lapangan kecil dan di sebelahnya lagi ada tempat yang paling beliau banggakan yaitu perpustakaannya yang berisi lebih dari 15.000 buku dan berbagai jurnal ilmiah. Tempat ini tidak hanya tempat baca. Di lantai atasnya, ada juga kamar yang bisa disewa untuk peneliti yang mau menginap. Di sebelah perpustakaannya, terdapat dapur kejujuran, di mana para tamu bisa membuat sendiri teh atau kopi, dan membayarnya pada tempat yang sudah disediakan. Saya katakan, USK Pinggir Kali Bedadung milik Prof Ayu, salah satu tempat jujugan wisata yang semestinya dipelihara dan menjadi percontohan untuk berbagai daerah. Misi menghidupkan dan nguri-uri budaya, sekaligus menjadi tempat akademisi menemukan berbagai rujukan untuk bacaan dan penelitian.
Pada akhirnya, saya mengemukakan  untuk memperbanyak lagi Kamus Budaya dan Religi Using. Beliau setuju, hanya dengan kompensasi yang digunakan untuk mendukung kehidupan USK. Saya setuju, meski belum sampai pada tahap membicarakan detilnya.
Terakhir, saya mendengar beliau masuk rumah sakit tanggal 14 Desember 2015, bertepatan dengan seminar bahasa Using yang diselenggarakan di pendopo Kabupaten. Direncanakan beliau akan menjadi salah satu pembicara dalam seminar tersebut. Tapi rupanya Yang Maha Berkehendak mempunyai rencana lain untuk beliau dengan memanggilnya tanggal 1 Maret 2016.
Prof. Ayu adalah pribadi yang ngemong, sangat bersahaja, merendah dengan kemampuannya yang luar biasa. Angkat topi untuk usahanya mendirikan USK dan menghidupinya dari kantong pribadi. Prof. Ayu adalah kekuatan yang menjadi sandaran banyak orang. Mudah-mudahan peninggalannya menjadi ladang amal yang tak berhenti mengalir untuk namanya yang saya yakin akan terus dikenang.

Jumat, 29 Januari 2016

Ayo tandang kanggo Basa Using!


Setelah seminar basa Using tahun lalu, masih ada orang Banyuwangi yang mempermasalahkan Peraturan Gubernur Jatim No. 19 tahun 2014. Pergub ini dalam Pasal 2 mengatakan:

“Bahasa daerah diajarkan secara terpisah sebagai mata pelajaran muatan lokal di seluruh sekolah/madrasah di Jawa Timur, yang meliputi Bahasa Jawa dan bahasa Madura, dengan Kurikulum sebagaimana tersebut dalam Lampiran.”

Pasal ini yang membikin kebakaran jenggot, termasuk Dewan Kesenian Blambangan (DKB), yang akhirnya memboikot seluruh acara pemprov Jatim. Seakan-akan dunia kiamat setelah bahasa Using tidak disebut-sebut dalam Pergub tersebut. Dan sebagian orang Banyuwangi dan yang mengatasnamakan masyarakat Banyuwangi, ngotot agar Pemprov Jatim menarik Pergub yang dikeluarkan tanggal 3 April 2014.
Sebenarnya, tanggal 22 Agustus 2014 (jadi usianya lebih muda dari Pergub), keluar sebuah Peraturan Daerah Jawa Timur no. 9 tahun 2014.

Pasal 18, Perda tersebut mengatakan :
“Bahasa daerah yang diajarkan sebagai muatan lokal sebagaimana dimaksud pada ayat (1) ialah Bahasa Jawa atau Bahasa Madura atau bahasa lainnya yang digunakan oleh masyarakat di wilayah kabupaten/kota setempat.”

Jadi, sudah jelas terang benderang, kita orang Banyuwangi sebenarnya tidak perlu ‘ngereken’ Pergub tersebut. Anggap saja Pergub tersebut tidak ada, karena secara hukum, Perda, yang dikeluarkan oleh eksekutif dan legislatif, kedudukannya lebih tinggi dari Pergub, yang hanya dikeluarkan oleh pihak eksekutif.
Apalagi Banyuwangi sudah mempunyai Perda Kabupaten Banyuwangi no. 5 tahun 2007, diundangkan tanggal 23 November 2007, sehingga tinggal usaha kita untuk menguatkan Perda Kabupaten dan yang sudah dikuatkan juga oleh Perda provinsi.

Mempersoalkan Pergub tersebut, hanyalah alasan untuk menutup-nutupi sebenarnya tidak banyak yang kita lakukan terhadap bahasa Using. Kita sedang mencari kambing hitam terhadap mandegnya perkembangan bahasa Using. Tidak usah sok “nasionalis” membela ditariknya kembali Pergub tersebut, sementara kita tidak melakukan apa-apa untuk bahasa Using itu sendiri. Pembelaan terhadap bahasa Using adalah berkarya sebanyak-banyaknya dengan menggunakan bahasa Using dengan aturan-aturan yang sudah jelas rujukannya. Tidak dengan mengobrak-abrik seenaknya sesuai selera masing-masing pribadi. Yang sebenarnya, ini lebih parah dari aturan Pergub efeknya, yaitu merusak bahasa Using yang sudah diajarkan di sekolah-sekolah dari tahun 1997.
Makanya, ayo bergerak untuk bahasa Using, perbanyak karya sastra lisan dan tulis serta karya lainnya, sehingga makin terasa pemberdayaan terhadap bahasa Using.  

Ayo tandang, sing kakeyan becong!

Jumat, 22 Januari 2016

Banyuwangi menuju Spanyol (Indonesia, juara dunia)

Siang hari sebelum acara malam penganugerahan juara, rombongan Indonesia diajak mengunjungi pameran wisata dunia FITUR di Ifema Madrid. Setelah mendaftar untuk mendapatkan badge, kami segera menuju Paviliun Indonesia.
   Di bagian informasi, dekat pintu masuk, saya mendapatkan majalah Fitur daily 1, yaitu sebuah majalah khusus yang diterbitkan panitia pameran untuk menunjang pameran. Sebuah foto yang tidak asing lagi, menghias halaman depannya. Siapa lagi kalau bukan orang Panderejo, Banyuwangi, menteri Pariwisata Arif Yahya. Siapa tidak ikut bangga melihat orang Banyuwangi yang mendunia.
   Setelah sampai ke paviliun Indonesia yang menampilkan banyak destinasi wisata, saya melihat kerumunan orang-orang yang ingin berfoto. Ah...ada tiga utusan dari Banyuwangi yang membawa konsep busana pernikahan versi BEC. Paviliun Indonesia menjadi sangat meriah dengan adanya tiga orang yang menampilkan busana yang begitu semarak dan penuh dengan ornamen yang indah.
   Sorenya, kami balik ke hotel untuk ganti baju dan langsung balik lagi ke tempat pameran, karena Gala dinernya dilaksanakan di sebelah tempat pameran. Panitia sebelumnya menginformasikan agar para finalis, berkumpul lebih awal karena ada briefing. Saat itu saya tanyakan, apakah nantinya akan ada pidato kemenangan? Dijawab kemungkinan besar tidak, hanya sekedar foto bersama.
   Gala diner di sebuah ruangan mirip ballroom dengan lebih dari 40 meja. Dari segi penempatan, sebenarnya saya sudah agak ragu. Tim dari Indonesia, Puerto Riko, Nepal, Kamboja, berada agak di belakang. Bersebelahan dengan Tim Indonesia lainnya Garuda Coca Cola dan Yayasan Karang Lestari Bali di meja sebelah.
   Sementara utusan Kenya, yang merupakan saingan Banyuwangi, berada di dekat panggung. Biasanya panitia mengatur, pemenang berada di dekat panggung, supaya saat diumumkan mereka lebih cepat untuk naik ke panggung.
   Ternyata saat diumumkan, Banyuwangilah juaranya. Pak Bramuda, langsung maju ke depan pentas. Cara membacakan pengumumannya, memang agak aneh. Juara satu disebut lebih dahulu, kemudian runner up pertama dan runner up kedua. Untung untuk kategori lainnya, dibaca dengan benar, dari yang buncit menuju juara pertama.
   Dalam pidato kemenangan yang mendadak dan tanpa persiapan, Pak Bram mengucapkan terimakasih kepada Pak Anas, Kementrian Pariwisata dan "Welcome to Indonesia, Wonderful Indonesia."
   Berikut press release yang dikeluarkan panitia:
Sebuah kabar menggembirakan, Indonesia diwakili Banyuwangi berhasil meraih predikat Juara Dunia dalam ajang United Nations World Tourism Organization (UNWTO) Awards for Excellence and Innovation in Tourism ke-12. Banyuwangi keluar sebagai "The Winner of Re-Inventing Government in Tourism" dalam kategori UNWTO Awards for Innovation in Public Policy Governance” atau "Inovasi Kebijakan Publik dan Tata Kelola Pemerintahan".

Ajang internasional bergengsi yang diselenggarakan sejak 18 Januari 2016 tersebut merupakan penghargaan inovasi di sektor pariwisata yang diselenggarakan oleh Badan Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) yang membidangi sektor Pariwisata dunia, yaitu UNWTO.

Banyuwangi menjadi pemenang setelah bersaing ketat dengan 3 negara lainnya dalam kategori yang sama yakni Kenya, Kolombia dan Puerto Rico. Indonesia menjadi satu-satunya negara dengan tiga nominasi sekaligus bersaing dengan 109 proyek lainnya yang digagas oleh berbagai negara, yaitu: Kolombia, Kenya, Puerto Rico, Lithuania, Spanyol, Swiss, Kamboja, Nepal, Afrika Selatan, Kroasia, dan Korea Selatan.

Banyuwangi sukses mempresentasikan tema besar strategi pengembangan pariwisata berkelanjutan pada 18 Januari 2016 dalam event 12th UNWTO Awards Forum di Madrid, Spanyol. Program yang digadang Pemerintah Kabupaten Banyuwangi, Jawa Timur, tersebut memanfaatkan teknologi informasi dan komunikasi (ICT) di bidang pariwisata.

Selain itu Banyuwangi juga memaparkan bagaimana daerahnya mengidentifikasi potensi wisata yang dimilikinya, menjaga kearifan lokalnya, hingga pengembangan pariwisata bersama stakeholder. Khusus yang menjadikan faktor penentu perkembangan pariwisata Banyuwangi adalah dicanangkannya program ekoturisme yang berpatokan pada dua hal, yaitu budaya dan keindahan alam.

Capaian Banyuwangi juara dalam 12th UNWTO Award menjadi hal istimewa mengingat sejak 2003 atau sejak awal bergulirnya ajang penghargaan tersebut, Indonesia tidak pernah sekalipun berhasil keluar sebagai juara. Indonesia menempatkan wakil di 3 kategori, 2 kategori menjadi The 1st Runner Up, dan menjadi juara 1. Dengan keberhasilan itu berhasil mengangkat pariwisata Indonesia dan semakin diakui dunia Internasional.

Selain Banyuwangi, dua wakil Indonesia turut menjadi finalis di dua kategori lain. Garuda Indonesia berhasil mendapatkan nomine "Innovation in Enterprises" dengan program "Bali Beach Clean Up", dan Yayasan Karang Lestari melalui program "Coral Reef Reborn" dalam katregori "Innovation in Non-Governmental Organizations".

Ajang United Nations World Tourism Organization (UNWTO) Awards for Excellence and Innovation in Tourism ke-12 memiliki 4 nominasi, yaitu: UNWTO Award for Innovation in Public Policy and Governance, UNWTO Award for Innovation in Enterprises, UNWTO Award for Innovation in Non-Governmental Organizations, dan UNWTO Award for Innovation in Research and Technology.

UNWTO sendiri adalah organisasi pariwisata dunia yang merupakan bagian dari PBB. UNWTO saat ini beranggotakan 157 negara, 6 anggota asosiasi, dan 480 anggota afiliasi dari sektor swasta, lembaga pendidikan, serta otoritas pariwisata. UNWTO menawarkan dukungan dalam memajukan pengetahuan tentang kebijakan pariwisata di seluruh dunia. Sebagai organisasi internasional terkemuka di bidang pariwisata, UNWTO bertugas mempromosikan pariwisata sebagai pendorong pertumbuhan ekonomi, pembangunan yang inklusif dan kelestarian lingkungan.

Berikut rincian pemenang utama 12th UNWTO Award:

Inovasi kebijakan publik:
1. Indonesia (Pemkab Banyuwangi)
2. Medellin, Colombia.
3. Puerto Riko

Kategori NGO:
1. Nepal
2. Indonesia (Yayasan Karang Lestari, Pemuteran, Bali)
3. Kamboja

Kategori enterprises:
1. Lithuania
2. Indonesia (Garuda dan Coca Cola)
3. Switzerland

Release Indonesia.Travel

Rabu, 20 Januari 2016

Pariwisata Banyuwangi menuju Spanyol (6)


Pada saat Lomba, panitia tidak hanya menampilkan presentasi para finalis saja. Justru yang menurut saya sangat menarik adalah pidato beberapa pakar pariwisata yang diundang memberi pencerahan sebelum presentasi dilaksanakan.

Misalnya ada Richard Butler, penerima penghargaan tertinggi untuk perorangan dari UNWTO tahun 2016 ini. Butler menggaris mengenalkan tentang Siklus Kehidupan Tempat Wisata. Seperti benda dan makhluk hidup, tempat wisata mempunyai siklus juga: Berkembang, Tumbuh dan akhirnya Menurun. Setiap saat harus ada penyegaran, sehingga sebuah tempat wisata bisa terus menjadi tempat yang menarik untuk pengunjung. Antara lain dengan menampilkan atraksi-atraksi baru.

Dinamisasi menjadi suatu keharusan untuk daerah tujuan pariwisata, sebagai bentuk untuk berkembang. Inovasi bisa dilakukan dengan cari Adoption (adopsi), Adaptation (penyesuaian) dan Appplication (aplikasi).

Misalnya, Adopsi terjadi pada dunia pariwisata, misalnya jaman dahulu mobil salju hanya digunakan untuk Penyelamatan. Sekarang mobil salju (mobil yang rodanya menggunakan gabungan ski dan roda berantai), menjadi bagian dari tempat rekreasi.

Adaptasi, misalnya bagaimana sekarang hotel menggunakan perangkat komunikasi internet untuk mengurus pemesanan (booking).

Aplikasi, dalam usaha “memperbaiki” kondisi wisata sehingga bisa mencapai “sustainable tourism” dilakukan usaha-usaha. Misalnya, mengajak para tamu hotel, untuk tidak mencuci handuknya setiap hari, sehingga bisa menghemat air dan sabun yang berpotensi menghabiskan lebih banyak energi.

Ada juga seorang anak muda Caroline Meledo, Senior Manager Corporate Responsibility jaringan hotel Hilton yang tersebar di 76 negara dengan 370 hotelnya, yang memberi sajian menarik. Dengan jaringannya yang sangat luas itu, hotel Hilton mencari terobosan sederhana untuk dapat memperbaiki lingkungan. Tidak hanya berhenti dengan Penundaan mencuci handuk, bahkan sabun-sabun batangan kecil sisa dari masing-masing kamar, mau dikemanakan?

Dalam program Soap Recycling, Hilton mengajari para pemuda di beberapa negara, mengolah sabun sisa, mensterilkannya, dan membuat sabun baru lantas kemudian dijual. Dengan cara begini, para pemuda yang dilatih bisa menghasilkan 1,6 juta sabun baru dan melahirnya 155.000 pengusaha baru.

Petinggi Facebook, yang membawahi Travel Strategy globalnya, Lee McCabe juga ikut memberi pencerahan soal bagaimana dunia maya mempengaruhi perkembangan pariwisata.

Facebook yang dulu hanya muncul dalam komputer meja, sekarang merambah dunia gawai bergerak dengan percepatan yang luar biasa dan menjadikan mesin uang, karena tahun 2015 ada 8.2 milyar dollar belanja iklan yang dihasilkan dari dunia maya.

Percepatan itu terlihat dari berkurangnya waktu sebuah media baru merambah penggunanya. Sudah diukur bagaimana sebuah media mencapai 50 juta orang. Radio perlu 38 tahun, tv perlu 13 tahun, internet perlu 4 tahun, Facebook perlu 3.5 tahun dan I-pod hanya perlu 3 tahun.

Dunia aplikasi merambah seluruh aspek kehidupan manusia. Tak hanya mobil, hotel, penerbangan dan Virtual Reality (vr). Saat ini bahkan calon wisatawan bisa melihat 360 video sebuah tempat wisata, dengan video yang bergerak seperti kemauannya masing-masing.

Singkatnya, inovasi itu adalah Connection (koneksi), Convenience (Kenyamanan) dan Context (personalisasi media).

Dan mengutip Steve Jobs, koordinator Knowledge Network UNWTO, Eunji Tae mengatakan inovasi membedakan seorang pemimpin dan pengekor. Dan sebuah pepatah Cina, mengatakan, kalau angin berhembus kencang, sebagian orang membangun tembok untuk berlindung, sebagian lagi membangun kincir angin.

Jadi, pariwisata perlu inovasi untuk bisa mencapai tingkatan yang lebih baik.

 

(Bersambung)

Pariwisata Banyuwangi menuju Spanyol (Bagian 5)


Malam dingin sekali. Suhu di Madrid mencapai 1-8 derajat. Saat menuju tempat tidur, Pak Bram lupa mematikan telepon. Jadilah malam itu sekitar pukul dua, ada panggilan semacam wake-up call dari Banyuwangi untuk Pak Bram, karena di Banyuwangi sudah pukul 8 pagi, saat untuk mengawali hari kerja. Tapi saya tidur lagi, karena esoknya badan harus fit, cukup tidur. Subuh jam 06.59 hari itu, jadi masih agak lama.

Setelah bangun, kami berdua masih meneruskan persiapan presentasi. Khususnya, merevisi skrip yang akan disampaikan Pak Bram nanti pada Forum Lomba United Nations World Tourism Organization (UNWTO) di gedung Palacio Neptuno.

Jam 07.00 sebenarnya sudah bisa makan pagi ala Eropa yang serba dingin. Tapi karena skrip belum 100 persen siap, kami tetap merevisi. Jam 08.00 baru kami turun makan pagi. Di restoran hotel tempat sarapan ala Eropa, cuma ada roti baget yang keras, roti bulan sabit croissant, keju, telor rebus, susu sapi segar, jus buah dan berbagai macam buah segar maupun buah kaleng seperti peach, pir, nanas dan melon. Untung ada kus-kus, yang seperti nasi, disajikan hangat. Sarapan ditutup dengan teh hangat atau kopi.

Jam  09.00 bis jemputan sudah menunggu di depan hotel kami yang terletak agak di luar kota Madrid. Kami akan singgah sebentar makan siang di restoran makan siang lebih awal, karena setelah berada di gedung tempat lomba, kita tidak ada waktu makan siang lagi, sampai jam 21.00!

Menuju resto bernama Amayra yang terletak di jalan Calle Alcala di tengah kota Madrid, kami melewati beberapa perempatan dengan patung-patung orang terkenal, antara lain Columbus yang menemukan benua baru Amerika.

Dalam perjalanan, menuju tempat makan yang berada di daerah pusat kota Madrid, pemandu wisatanya bercerita untuk tetap berhati-hati ketika kita berada di kawasan ramai. Ternyata pencopet tidak hanya ada di negara-negara berkembang, tapi di negara maju sekalipun juga ada.

Setelah makan siang, kami diburu untuk segera ke tempat lomba di Palacio Neptuno atau Istana Neptunus, sang Dewa Laut dalam mitologi Yunani. Ternyata disebut begitu karena gedung itu terletak di perempatan yang berdiri sebuah patung Neptunus. Panitia mengingatkan kami rombongan Indonesia, untuk lebih awal mendaftar karena pemeriksaan keamanan agak ribet.

Sesampainya di tempat, kami segera berkoordinasi dengan bagian teknis panitia yang mengurus soal materi yang akan ditayangkan dan presentasinya. Sebenarnya, seminggu sebelum acara pun kami sudah mengirimkan materi video dan presentasi yang akan disampaikan. Namun panitia bersikeras kepada kami untuk merevisi materi karena dianggap terlalu panjang. Sehingga, hal pertama  yang kami kerjakan adalah memastikan bahwa materi presentasi sudah sesuai dengan keinginan panitia.

Pada mulanya, tulisan yang disajikan dari tim Banyuwangi kepada panitia adalah: Empat strategi yang digunakan oleh Pemda Banyuwangi mengembangkan pariwisata. Empat strategi itu adalah:

1.       Mengubah mindset pegawai negeri jadi sekedar pegawai serta birokrat pada pemerintah daerah sehingga berubah menjadi seorang dengan mental wirausahawan yang tangguh.

2.       Membranding seluruh kegiatan wisatanya, dan menyebarkannya melalui berbagai media, utamanya media sosial.

3.       Pada tingkat pimpinan, pengambilan keputusan direvolusi dengan memakai bantuan teknologi sederhana seperti whatsapp. Masing-masing pimpinan unit kerja daerah, menjadi anggota whatsapp grup. Seluruh permasalahan dibicarakan lewat forum ini. Hasilnya, proses administrasi birokrasi yang dulu setiap kirim surat perlu waktu tiga hari, dan tiga hari kemudian baru dijawab, sekarang dipotong dalam hitungan menit. Dahulu, masing-masing Unit Kerja Daerah (SKPD) seakan bergerak masing-masing untuk menyukseskan targetnya. Sekarang, untuk gelaran wisata, mereka memberi kontribusi sesuai dengan bidangnya. Misalnya, karpet disediakan bagian umum, pameran diselenggarakan oleh bagian perindustrian dan perdagangan, humas ditangani oleh bagian pariwisata dan seterusnya.

4.       Menggelar event wisata yang menarik, lebih dari 30 event wisata setahun tanpa bantuan penyelenggara event (EO), dan semua ditopang oleh seluruh Unit Kerja pemerintah yang bergotong-royong.

 

Jadi presentasi dari Banyuwangi memerlukan banyak slide untuk menjeberkan masing-masing strateginya. Sementara dari peserta lain, mereka hanya membicarakan satu proyek untuk satu peserta. Mereka melakukannya jauh lebih mudah. Jumlah slide presentasi yang tadinya 42 lembar harus dipangkas menjadi 10 lembar.

Format presentasinya adalah:

1.       Forum dipimpin oleh seorang moderator, yang memberi pengarahan sebentar, mengenalkan para presenter dan memberi pengantar terhadap masing-masing proyek yang ditampilkan.

2.       Presentasi diawali dengan tampilan video satu menit dan kemudian presentasi selama lima menit, untuk menjelaskan seluruh proyek yang ditampilkan.

3.       Setelah semua peserta menyelesaikan tugasnya, moderator akan mengajukan pertanyaan lebih lanjut kepada masing-masing peserta.

 

(Bersambung)

Selasa, 19 Januari 2016

Pariwisata Banyuwangi menuju Spanyol (4)


Perjalanan dari Jakarta menuju Spanyol menggunakan penerbangan Qatar Airways yang tahun lalu menyabet penghargaan Skytrax sebagai penerbangan terbaik dunia. Tidak seperti penerbangan lain, ketepatan waktunya memang boleh dibilang bukan main, sama sekali tidak main-main.

Mengikuti jadwal terbang pukul 00.25, para penumpang sudah mulai masuk pesawat sejam sebelumnya. Pesawat Dreamliner buatan Boeing terbaru itu, sudah mulai meninggalkan tempat menuju landasan pacu, sebelum pukul 00.25 dan 00.25 benar-benar sudah takeoff meninggalkan daratan. Ketepatan waktunya perlu diacungi jempol. Tidak heran dari 259 tempat duduk, cuma satu tempat duduk yang tidak terisi.

Yang tidak kalah menarik adalah bagaimana Qatar Airways menyajikan tata cara prosedur keselamatan dalam penerbangan. Cara standar penerbangan lain, menggunakan awak pesawat untuk memeragakan segala prosedurnya. Mula-mula arahan untuk meletakkan segala barang pada tempatnya. Kalau tekanan dalam kabin turun akan ada masker yang keluar dari tempat di atas kepala penumpang. Andai pesawat terjatuh, penumpang paling depan harus memeluk dengkul, dan yang di belakangnya harus melindungi kepala. Andai pesawat mendarat darurat di air, semua barang harus ditinggal dan turun melalui tangga darurat berupa tangga balon udara.

Ada pula penerbangan yang menggunakan peragaan melalui video monitor di belakang masing-masing kursi, dengan pendekatan yang formal. Hanya memindahkan praktik langsung oleh awak pesawat dengan video. Qatar melakukannya dengan berbeda dan menarik.

Sebagai perusahaan yang menyeponsori salah satu klub sepakbola terbaik di dunia, yaitu Barcelona, Qatar menggunakan para pemain Barca untuk menjadi bagian dari prosedur keselamatan. Dan idiom-idiom lapangan sepakbola yang dikombinasikan dengan prosedur keselamatan. Ada Pelatih yang merapikan sepatu pada tempatnya, ada Messi yang menangkap bola yang dilempar saat dia duduk di atas meja.

Tekanan udara yang turun dalam kabin dan menyebabkan keluarnya masker oksigen, diperagakan saat para penggemar, terutama ibu-ibu dan remaja putri lainnya, seakan kehabisan nafas saat menyambut keluarnya Pique yang ganteng.

Peluit pada baju pelampung, ditiup oleh salah satu penonton di tribun yang menggunakan baju pelampung, menyebabkan Suarez berhenti menggocek bola. Para penumpang duduk di kursi pesawat berjejer di tengah lapangan (seperti saat pemain lawan melakukan pagar betis karena ada tendangan bebas) melakukan gerakan menunduk dan memegangi lututnya, saat Neymar melakukan tendangan bebas dan bola melewati atas kepala menuju gawang lawan dan gol.

Dibandingkan penerbangan lain, saya pikir ini prosedur keselamatan yang paling menarik.

Singkatnya, rombongan tim Pariwisata Indonesia, sampai di bandara Madrid sekitar pukul 14.00 waktu setempat. Saat menunggu kopor di karusel, bertemu rombongan kementrian Pariwisata yang lain, termasuk tiga orang dari Banyuwangi yang akan menampilkan BEC. Acara di Madrid ini termasuk ada acara pameran wisata.
 
 

Bis jemputan sudah menunggu, dan kami menuju hotel Tryp, yang mempunyai gimmick jualan: Madrid: This is my Tryp. Plesetan dari trip yang berarti perjalanan. Sepanjang jalan menuju hotel, terlihat pohon-pohon yang meranggas kehilangan daun karena sudah musim dingin. Temperatur menunjukkan angka 6 derajat Celcius.
 

Sampai hotel, setelah mendapat jatah kamar, saya dan Pak Bram, dapat istirahat sebentar kira-kira dua jam. Setelah itu, makan malam dipercepat pukul 17.30 dan dilanjutkan dengan koordinasi terakhir soal presentasi yang akan dilakukan esok hari.

Tim bekerja sampai pukul 23.00 lebih. Saya dan Pak Bram, masih meneruskan revisi materi yang akan disampaikan besok dalam kamar.  Besok hari Senin merupakan hari yang sangat menegangkan.