Senin, 26 September 2016

Lima Usulan untuk perbaikan Pariwisata Banyuwangi

Pada  saat hari Perayaan Kopi Se dunia yang digelar pertengahan September lalu di Jambu, Licin, saya bertemu beberapa orang asing dan berdiskusi dengan beberapa stakeholder pariwisata Banyuwangi, ada kerawat desa Jambu kecamatan Licin, ada Teguh Siswanto ketua panitia acara tersebut, asosiasi guide, penulis wisata Sanjaya Chandra, arsitek, fotografer, travel agent, pegiat kopi dan beberapa pegiat komunitas lain yang tertarik untuk membicarakan, bagaimana membuat pariwisata Banyuwangi lebih baik.
 
Ada lima hal yang saya rangkum dari diskusi tersebut dan dari wisatawan Kanada, Etienne, yang saya temui bersama Kisma Donna, seorang guide yang juga menjadi moderator pada diskusi hari kopi di Jambu. Etienne baru saja turun dari Ijen dan ikut menyeruput gurihnya kopi Banyuwangi.
 
1. Perlu pegawai pemerintah atau petugas yang membantu wisatawan asing khususnya di tempat pemberhentian kendaraan umum, misalnya di stasiun atau terminal bis. Petugas yang berseragam dan bermodal telepon ini, haruslah orang yang minimal bisa berbahasa Inggris. Gunanya? Setiap ada wisatawan yang turun, dia akan membantu menelepon hotel tempat sang wisatawan akan menginap, supaya dijemput. Hal yang paling menakutkan untuk wisatawan asing adalah baru saja menginjakkan kaki di Banyuwangi, dia dikerumuni oleh banyak orang yang ingin memanfaatkan orang asing untuk kepentingannya sendiri. Ditarik sana-sini oleh orang-orang yang akan membohongi dia soal tarif angkutan. Andai saja ada petugas itu, petugas lah yang akan mengamankan perjalanan turis ini. Kalau sudah booking hotel, dia yang akan menghubungi hotelnya, kalau belum, dia akan mencarikan kendaraan umum atau taxi dengan tarif yang sesuai.
 
2. Toilet umum yang bersih. Setelah dua jam naik kendaraan, biasanya orang perlu buang air. Nah, mestinya di beberapa tempat di Banyuwangi, misalnya di Ketapang, di beberapa daerah di kota, di Kemiren, di Jambu, di Ijen, di Pulau Merah dan di tempat-tempat wisata lainnya, tersedia toilet umum yang sekelas hotel bintang lima. Dan tentunya perlu dirawat dan dibersihkan selalu. Yang ada sekarang, banyak toilet yang standarnya belum cukup tinggi sehingga wisatawan asing khususnya, atau wisatawan lokal yang sudah mempunyai gaya hidup yang tinggi, jijik menggunakan toilet umum tersebut. Pastilah tidak ada keberatan kalau sekedar mengeluarkan uang Rp. 5.000 rupiah untuk sebuah layanan bintang lima. Ada usulan dari salah seorang anggota diskusi, kalau sekarang tidak cukup banyak toilet dengan kelas tersebut, kenapa pemda Banyuwangi tidak bekerja sama dengan perusahaan-perusahaan yang ada, misalnya bank, untuk membuat toilet bintang lima tersebut menggunakan dana CSR mereka. Sebagai imbalannya, mereka bisa menulis: Toilet yang bagus ini dibangun oleh bank A, misalnya.
 
3. Tarif yang jelas. Memang sangat tidak menyenangkan kalau merasa diri ditipu. Turis memerlukan tarif yang jelas untuk memasuki sebuah tempat. Tidak masalah misalnya tarif antara orang asing dan orang lokal dibedakan sepuluh kalinya, tetapi harus ditulis yang jelas. Yang juga penting adalah semua orang dikasih karcis sesuai yang dibayarnya. Perlu ada tulisan di setiap pintu masuk, “Kalau tidak mendapat pelayanan yang baik, misalnya karcis yang tidak sesuai, harap sms ke nomor sekian-sekian.”  
 
4. Ijen sudah penuh sesak. Menurut Etienne, perlu diberi aturan, berapa orang yang boleh mencapai puncak Ijen pada jam tertentu. Sehingga berapa jumlah orang yang naik, bisa disesuaikan berdasar jumlah orang yang turun. Terlalu banyak orang pada saat yang sama akan mengurangi kenyamanan wisatawan maupun kekuatan kapasitas tanah yang diinjak-injak oleh wisatawan.
 
5. Satu lagi usulan yang menarik dari arsitek Andit Ardianto yang harus dipertimbangkan oleh Pemda adalah, perlunya gerbang yang khas Banyuwangi saat memasuki kabupaten Banyuwangi. Terletak di pintu masuk, misalnya Paltuding, Bajulmati, Ketapang, atau Kalibaru dan Blimbingsari, sehingga secara psikologis wisatawan merasa mereka melewati sebuah peralihan. Jadi, masuk ke dalam Kabupaten Banyuwangi seperti sebuah memasuki ritual inisiasi, seperti memasuki sebuah gerbang menuju tempat yang enak untuk dijelajahi, seperti merasakan kelahiran kembali menjadi seorang yang merasa lebih baik karena memasuki Banyuwangi.
 
Mudah-mudahan bisa terwujud untuk kebaikan pariwisata Banyuwangi.

iwandear@gmail.com adalah yang menuliskan narasi pemenang penghargaan UNWTO untuk Banyuwangi dan PATA untuk Lalare Orkestra tahun 2016


Jumat, 23 September 2016

Jangan ada bikini di Pantai Boom Banyuwangi

Mau kemana pariwisata (Boom) Banyuwangi? Saya mendapat kiriman foto sepasang turis asing yang sedang berjemur berbikini dan penutup dadanya hampir melorot di pantai Boom yang hanya 500 meter dari daerah kota Banyuwangi.

Jangan memandang remeh masalah ini. Begitu tidak ada keberatan, lain kali mereka akan topless terbuka bagian atas, atau malah telanjang bulat di tempat publik.

Bukan masalah munafik atau tidak, Boom adalah tempat umum, tempat publik di mana banyak keluarga Banyuwangi menghabiskan waktu senggangnya bersama anak-anak dan anggota keluarga lainnya. Wisatawan yang telanjang bukanlah pendidikan yang baik untuk anak-anak Banyuwangi. Dalam standar etika ketimuran kita, bertelanjang di tempat umum adalah sesuatu yang tidak bisa diterima. Degradasi moral, bukanlah sesuatu yang kita harapkan dari dunia wisata yang makin berkembang di Banyuwangi. Dan degradasi moral, efeknya tidak selalu langsung di depan mata.

Mereka tidak boleh seenak udel berbuat menurut norma mereka. Bahkan di negeri mereka yang katanya liberal itu pun, tempat berjemur yang sampai telanjang di batasi pada tempat-tempat tertentu. Apalagi di “rumah” kita sendiri.

Pariwisata tidak berarti memberi keleluasaan orang lain untuk mengacak-acak etika masyarakat setempat. Setiap daerah punya standar etikanya masing-masing yang bisa diterima oleh masyarakat di tempat tersebut. Contohnya: meludah sembarangan, makan permen karet, menyeberang sembarangan (jaywalking), akan dihukum denda di Singapura. Padahal di Banyuwangi boleh-boleh saja. Jadi setiap daerah boleh menegakkan aturannya masing-masing selama dibenarkan oleh aturan.

Ada pepatah “Di mana bumi di pijak di situ langit di junjung”. Orang asing pun mengerti hal itu karena mereka juga punya pepatah yang mirip: When in Rome, do as the Romans do. Wisatawan asing ini pun sangat menghargai budaya setempat. Sebagai turis mereka, selalu mempersiapkan diri mempelajari tempat-tempat yang akan dikunjungi.

Tentu mereka akan sangat mahfum, kalau pemerintah daerah setempat mengeluarkan larangan: Dilarang berjemur menggunakan bikini atau telanjang di pantai ini. Apalagi kalau pemandu wisatanya mengingatkan juga akan hal ini.

Turis perempuan yang hendak berjemur, disarankan memakai pakaian renang biasa (beda dengan bikini) yang masih dapat diterima di Banyuwangi apabila dikenakan di pantai atau di kolam renang.

Lain halnya, kalau wisatawan ini berjemur berbikini atau telanjang di tempat-tempat yang sifatnya pribadi, misalnya di pinggir kolam renang di hotel tertentu yang tidak semua masyarakat umum punya akses.

Sebagai gambaran, pantai Boom ini merupakan oase masyarakat kota menghabiskan waktu luang bersama keluarga menikmati deburan ombak, bermain pasir dan bercengkerama.

Saat ini pantai Boom sudah ditata. Bentangan pasir yang lebar, tempat pelajan kaki yang nyaman, pedagang yang sudah diatur penempatannya sehingga tidak lagi menghalangi pandangan wisatawan yang berkunjung ke sana, dan sebuah amphiteater sumbangan CSR dari Telkomsel.

Meski berpasir hitam, pantai Boom tetap indah dengan pemandangan pulau Bali di seberang, dan pada saat cuaca terang, dua buah gunung perkasa di sebelah barat, yang kakinya mencengkeram kota Banyuwangi. Pantai ini juga penting untuk konservasi lingkungan karena juga menjadi tempat penyu mendarat dan bertelur meneruskan kelangsungan kehidupan.

Apalagi ke depan, Pantai Boom akan ditata menjadi marina yang akan didarati kapal-kapal wisata, dan dari video rancangannya, dilengkapi dengan tiga buah hotel pencakar langit. Nantinya, Boom akan menjadi tempat jujugan turis lewat laut.

Lain kali, akan lebih banyak turis yang menghabiskan waktunya di Boom. Jangan sampai terlambat.

iwandear@gmail.com

Kamis, 15 September 2016

Kilas Balik Lalare Orkestra dan hadiah Emas PATA


Sebelum Penghargaan internasional dan tepuktangan membahana pada pertunjukannya, lahirnya Lalare Orkestra awal mulanya adalah sebuah program dari Kementrian Pendidikan untuk merevitalisasi kesenian yang hampir punah.
Ketua Rumah Budaya Osing (RBO) yang juga guru SMPN1, Hasan Basri, dan Wakil Ketua Purwadi menggagas program pelestarian itu dengan memanfaatkan potensi lingkungan sekitar. Yang dilirik adalah potensi bambu. Benda yang banyak ditemui di hampir semua daerah terutama di Kemiren, yang merupakan markas RBO. Bambu yang banyak terdapat terutama di pinggir-pinggir sungai, menjadi tak berharga apabila hanya dibikin pagar, atau untuk pembuatan alas penjemur pindang.
Semula, pelatihan yang dibikin adalah pembuatan alat tabuh tradisional. Diundanglah ahli pembuat angklung dari Taman Suruh bernama Ardi dan guru SMPN1 Syaiful, yang sekaligus membuat jadwal berlatih memainkan alat mustik yang mereka bikin. Karena yang terlibat 29 anak-anak Kemiren, grupnya dinamakan Laren (Lare Kemiren).
Angklung dianggap terlalu mainstream, terlalu umum, kentulitan-lah akhirnya dijadikan pilihan. Menurut Syaiful, angklung menggunakan bumbung, dengan resonansi menjadi satu bagian dengan bilah bunyi. Biasanya, angklung terdiri dari 14-15 nada. Sementara Kentulitan tidak memiliki ruang resonansi, resonansinya terpisah dan terbuat dari kayu yang juga dipakai sebagai penyangga.Mereka ini  juga belajar membuat angklung, slenthem, patrol, saron, pethit yang semuanya terbuat dari bambu.
Suatu saat, pertemuan Masyarakat Adat yang dituanrumahi oleh RBO, menampilkan Laren. Ketua Dewan Kesenian Blambangan (DKB) Samsudin Adlawi yang mendatangi acara tersebut tertarik untuk menampilkannya sebagai bagian dari Banyuwangi Festival.
Untuk latihan rutin yang diadakan DKB bertempat di RBO maupun di SMPN1 Banyuwangi, direkrutlah dedengkot musik Banyuwangi Yon DD, Ketua sanggar Damarwangi Sayun Sisiyanto, Ribut dan Syaiful. Syaiful, yang juga melatih anak-anak bermain musik tradisional sebagai Penata Artistik dan Pelatih Senior di Sanggar Jingga Putih Gladag Rogojampi pimpinan maestro Sumitro Hadi, menarik pula anak asuhannya dari SMPN1 Banyuwangi tempat sehari-hari ia mengajar, dan juga dari Rogojampi, Singojuruh, dan Srono. Sayun juga mengajak murid-muridnya dari Wonosobo, Srono, Muncar dan sekitarnya. Hingga jumlahnya mencapai 100 anak.
Yang membedakan keduanya adalah Laren memainkan lagu-lagu “sawahan” lagu-lagu kuno desa Kemiren. Misalnya lagu Kertas Mabur, Kembang Jeruk, Thetho Lelung, Lemar-Lemir, Lebak-lebak, Walang Kekek.
Sementara Lalare Orkestra memainkan musik dan lagu daerah yang lebih modern dan diaransemen ulang.  Lagu-lagu yang dibawakan antara lain: Ulan Andhung-andhung, Padhang Ulan, Umbul-umbul Belambangan, Belajar Ngaji, Ayo Sekolah, Kupu Cedhung, Usum Layangan.
Pentas mereka pertama adalah saat Penghargaan Seniman Dan Budayawan Banyuwangi oleh DKB bertempat di RBO bulan Desember  2014. Lantas disusul Green and Recycle Fashion Week tanggal 13 Maret 2015. Dan puncaknya pada tanggal 1 Agustus 2015, di pentas Taman Blambangan, digelarlah Festival Perkusi dan Konser Lalare Orkestra. Lalare Orkestra, menampilkan 13 lagu tradisional, disaksikan oleh sekitar 5000 penonton. Penampilannya yang hampir tiada cacatnya itu, berkat latihan dan kerja keras, mengundang tepuk tangan ribuan penonton. Mereka ini masa depan Banyuwangi, yang menjaga warisan kesenian tradisional Banyuwangi.
Tidak salah, kalau organisasi pariwisata Asia Pacific PATA, mengganjarnya dengan sebuah Penghargaan Emas kategori Warisan Budaya dan Kebudayaan, yang diserahkan tanggal 9 September 2016 di acara konvensi PATA di ICE Serpong Indonesia. Dalam penghargaan PATA Gold Award, Indonesia mendapat tiga penghargaan, salah satunya Lalare Orkestra.
Sebelumnya, pada bulan Januari 2016, Indonesia (Banyuwangi) memenangkan Penghargaan bergengsi  Bidang Inovasi dalam Kebijakan Publik dan Pemerintahan, dari  United Nations World Tourism Organisation (UNWTO), badan PBB urusan pariwisata.
 
 Ditulis oleh Antariksawan Jusuf, Ketua Paguyuban Sengker Kuwung Belambangan yang menuliskan naskah kemenangan Banyuwangi untuk UNWTO dan PATA 2016.

Jumat, 29 Juli 2016

Dari Tabloid Bisnis Banyuwangi 25-30 Juli 2016


Antariksawan Jusuf, Bawa Budaya Using “Go” Internasional

Sosoknya sederhana, bersahaja. Namun semangatnya tak pernah padam nguri-nguri buydaya Using. Dialah, Antariksawan Jusuf, putera asli Banyuwangi yang go internasional. Salah satu karyanya yang paling bergengsi adalah membuat makalah dalam mensuksekan pariwisata Banyuwangi di kancah internasional. Terbaru, dia kembali mengharumkan Banyuwangi dalam ajang PATA Gold Award 2016. Tak hanya itu, pelestarian bahasa Using menjadi jalur perjuangannya di Banyuwangi. Seperti apa, kisahnya?

Meski berada di balik layar, Kang Iwan, sapaan akrab, Antariksawan Jusuf, layak diacungi jempol. Setelah sukses mengangkat Banyuwangi sebagai kota pariwisata dunia awal tahun 2016 lalu, kini penghargaan bergengsi bidang pariwisata kembali direbut Banyuwangi. Yakni, penghargaan dari Organisasi Pariwisata Asia Pasifik (PATA), yang mengganjar PATA Gold Award 2016 dalam kategori Warisan Budaya dan Kebudayaan (Heritage and Culture: Lalare Orchestra).

Kang Iwan mengisahkan, rasa bangga dan kecintaan yang mendalam akan kampung halamannya yang membawanya pada lomba-lomba pariwisata yang diikutinya.  Penghargaan PATA ini adalah penghargaan internasional tentang pariwisata kedua yang diterimanya tahun ini. Sebelumnya ia juga menyabet penghargaan tertinggi pariwisata dari United Nations World Tourism Organisation (UNWTO) yang diserahkan di Madrid Spanyol bulan Januari lalu.

Penghargaan PATA Gold Award tidak kalah bergengsinya dari UNWTO karena keduanya melewati persaingan ketat 212 proprosal yang masuk dari 71 negara dan individu. Penghargaan lainnya untuk Indonesia adalah PATA Gold Award untuk Marketing – Primary Government Destination: Total Solar Eclipse – Indonesia, yang menceritakan suksesnya pemerintah Indonesia menjual fenomena alam gerhana matahari total. Satu lagi adalah karya fotografi untuk kategori Travel Journalism – Travel Photograph – Journey of the Wanderer yang dibuat oleh Handi Lakonso dan dimuat dalam majalah inflight Garuda Indonesia Colors.

Menurut Kang Iwan, yang juga ketua Paguyuban Sengker Kuwung Belambangan (SKB) ini, ia menulis beberapa karya tentang pariwisata Banyuwangi. Selain Lalare Orchestra, ia juga menulis soal bandara Banyuwangi baru yang mengusung konsep green bandara dan kuartet Warisan budaya Banyuwangi, yang tidak hanya berfungsi sebagai bahan mainan anak-anak yang mendidik, tapi juga mengenalkan berbagai kekayaan Banyuwangi kepada wisatawan di Banyuwangi, singkatnya kuartet tersebut bisa juga sebagai bahan promosi wisata. Project Banyuwangi, tentang Rumah Apung Bangsring, sebenarnya juga ditulis untuk ajang PATA 2016 oleh Arif Wibowo, insinyur yang kembali untuk membangun kampungnya Lulian (Olehsari). Tetapi rupanya nasib mengatakan lain. Tulisan mengenai Bangsring tidak membuat dewan juri terkesima.

Mengapa Lalare Orkestra? “Judul selengkapnya adalah: Lalare Orkestra – The Future of Traditional Music Maestros. Di antara sekian banyak event dalam balutan Banyuwangi Festival, Lalare Orkestra adalah yang juga mengemban misi pendidikan juga. Saya kira nilai plusnya ada di situ. Meski baru sekali diselenggarakan, Lalare Orkestra menyimpan bara semangat orang-orang Banyuwangi mencintai kesenian mereka sendiri. Mereka ini adalah masa depan Banyuwangi. Kalau masih anak-anak saja mereka bisa tampil dengan luar biasa begini, pasti di masa depan Banyuwangi akan lebih baik dalam bidang keseniannya. Sementara daerah lain kesulitan mencari anak-anak yang mau meneruskan kesenian tradisional daerahnya, Banyuwangi malah berlimpah. Dan yang tampil dalam Lalare Orkestra adalah anak-anak terbaik yang terpilih. Mereka ini aset besar Banyuwangi untuk tetap menjadi jujugan pariwisata unggulan.”

Ia menambahkan: “Pariwisata Banyuwangi tak hanya mengandalkan pantai yang indah, karang-karang laut yang terjaga, gunung berapi yang punya kawah besar indah, tetapi saya kira yang lebih penting adalah orang-orangnya yang mempunyai gairah besar untuk berkesenian, menjaga ritual adatnya, yang menjaga kekayaan kulinernya, dan yang mempersiapkan generasi anak-anak untuk menjaga semuanya.”

Kecintaannya pada masa depan anak-anak Banyuwangi, yang semestinya mengemban pula warisan nenek moyang berupa Bahasa Using, membuat Kang Iwan bersama teman-teman yang mempunyai visi sama, mendirikan Paguyuban Sengker Kuwung Belambangan. Prihatin akan nasib Bahasa Using dan anak-anak yang mewarisi bahasa ini, ia menerbitkan beberapa kumpulan cerita pendek, cerita anak-anak dan buku-buku penunjang pelajaran sekolah.

“Mereka ini yang membawa obor Bahasa Using ke depan. Mereka mesti didukung. Sayangnya, orang Banyuwangi tidak punya tradisi menulis tentang bahasanya. Sehingga banyak ilmu dari orang-orang tua yang hilang begitu saja. Orang-orang tua yang ilmu tentang Usingnya begitu banyak, akan membawa ilmu mereka ke liang lahat kalau tidak segera ditulis dan dibukukan. Tanpa bahasa Using, kesenian dan ritual adat Banyuwangi juga dalam bahaya. Karena semuanya menggunakan bahasa Using.”

Untuk itu, Sengker beberapa kali mengadakan pelatihan menulis menggunakan bahasa Using, mengadakan lomba mengarang memakai bahasa Using dan membukukannya. Usaha inilah yang selama ini ia lakukan bersama paguyuban SKB.

“Jadi menurut hemat saya, pemerintah juga harus punya perhatian besar terhadap pelestarian bahasa Using supaya dapat menjaga roh kesenian dan adat yang ingin mereka jaga sampai masa depan,” katanya.

Menurut Kang Iwan dari pembicaraanya dengan salah satu pelatih dan penyusun program Lalare Orkestra, yaitu Moh. Syaiful guru SMPN1 Banyuwangi, melihat performa Lalare Orkestra, masing-masing kecamatan ingin menampilkan orkestra anak-anak mereka masing-masing. Hal ini akan menumbuhkan industri pendukung pariwisata yang sangat bagus untuk Banyuwangi. Guru kesenian, pembuat gamelan, pelatih tari otomatis akan mendapat cipratan dari pariwisata yang berkembang.

Menurut rilis yang dikeluarkan PATA, tahun 2016  ini ada 4 kategori yang diberi PATA Grand Award, 26 PATA Gold Awards, dan satu Honorable Mention.

PATA adalah organisasi non-profit yang berurusan dengan perkembangan travel dan pariwisata ke, dari dan dalam lingkungan Asia Pasifik. Anggotanya terdiri atas 95 pemerintah, negara bagian dan badan pariwisata kota, 29 perusahaan penerbangan, bandara, perusahaan pelayaran, dan 63 institusi pendidikan, serta ratusan perusahaan yang terlibat dalam industri pariwisata.

Tahun ini Indonesia akan menjadi tuan rumah konferensi PATA yang akan berlangsung di Indonesia Convention and Exhibition (ICE) di Bumi Serpong Damai, Tangerang Selatan, tanggal 7-9 September. Sementara penyerahan hadiah akan dilaksanakan hari Jumat tanggal 9 September, saat berlangsungnya PATA Travel Mart.

“Harapan saya sederhana hanya ingin menggali potensi Banyuwangi. Dan ini bisa dilakukan siapa saja yang ingin membangun Banyuwangi. Jadi warga generasi muda Banyuwangi bersama-sama kita berkarya,” pungkasnya (Wid)

 

 

 

 

 

Kamis, 21 Juli 2016

Lalare Orkestra: The future of traditional music maestros


Project title: Lalare Orkestra: The future of traditional music maestros

Synopsis:

The people of Java island’s most eastern regency Banyuwangi have always been proud with their traditional music. Aside from their rituals, from sacred trance dance to an elaborate wedding celebration, traditional music is inseparable. Traditional popular songs find their huge fans beyond the regency’s border, creating a growing music industry. In 2008, there were over 50 recording companies.

Unlike in some parts of the country which saw many traditional performing arts under threat, Banyuwangi traditional performing arts are alive and healthy. A regular music group normally consists of maximum 13 people, among others with two sets of bamboo slit drums, a set of gongs, triangle, flute, traditional violin.

The Lalare Orkestra (Children Orchestra) is a performance by 100 school children of various age from 8-13 years old, aiming to create a powerful branding for traditional music and bringing traditional music performance to the next level. The child musicians are hand-picked by music maestros who serve later as their trainers.

The 100 children from various districts in Banyuwangi enjoyed a six-month practice under supervision of traditional music maestros before performing before thousands of audience as a part of Banyuwangi Festival.

For Banyuwangi and the audience in general, it was the first time a traditional music peformance enjoyed an applause they have never seen before.

With the success of the performance, the government of Banyuwangi will make it a regular event featured on the Banyuwangi Festival which stretches almost a year long.

In 2016 Banyuwangi festival,  the member of young musicians will be doubled to 200 performers.

Impact of project:

With the rising popularity of the Lalare Orkestra, every 25 districts in Banyuwangi prepare to have their own child orchestra as they dream to perform in Banyuwangi Festival. The government is to hold a competition among children music groups annually.

Uniqueness of project:

Massive child musicians performing orchestratic

Budget:

The local government of Banyuwangi regency provided all the financial backup up to Rupiah 200,000,000 ($15,384), and expecting to see the future of Banyuwangi traditional music maestros.

 

Roles and responsibility of person involved:

Moh. Syaiful, music trainer

Links:



https://www.youtube.com/watch?v=uOARODEZ-0g

 

Minggu, 10 Juli 2016


Paguyuban Sengker Kuwung Belambangan (SKB) tanggal 7 Juli 2016 melaksanakan penandatanganan Nota Kesepakatan dengan tiga seniman Banyuwangi: Andang CY, Bs Noerdian dan Machfud Hr (almarhum, yang diwakili oleh ahli warisnya) perihal penerbitan lagu-lagu mereka.

“Pak Andang mengaku prihatin dengan perkembangan lagu-lagu Banyuwangi sekarang ini sehingga beliau sangat ingin mengenalkan lagu-lagu Banyuwangi klasik yang mempunyai lirik yang mendidik, yang penuh semangat dan santun kepada anak-anak sekolah. Itu sebabnya Pak Andang sangat berharap penerbitan ini bisa terlaksana dan dibagikan secara gratis ke sekolah-sekolah di seluruh wilayah Kabupaten banyuwangi,” jelas Ketua SKB Antariksawan Jusuf.

Sebenarnya, lagu-lagu tersebut tadinya sudah berada di tangan sebuah penerbit di Surabaya sejak tahun 2013, tapi tidak kunjung terwujud. Kemudian Pak Andang meminta SKB untuk mengambil alih hak naskahnya dari penerbit tersebut untuk diterbitkan sendiri.

Selain not angka, buku yang memuat kumpulan lagu-lagu klasik tersebut dilengkapi pula dengan not balok. Diharapkan buku tersebut bisa disertai dengan rekaman lagu-lagunya. Mimpi Pak Andang, kalau ada CD rekaman lagu-lagunya, bisa diputar saat jam istirahat sekolah, sehingga lagu-lagu tersebut makin akrab di telinga anak-anak sekolah di Banyuwangi.

Lagu-lagu “Trio Mabasan”, begitu mereka menyebut grupnya, sering dijadikan lagu-lagu pilihan dalam lomba paduan suara tingkat nasional bahkan sampai tingkat dunia. Itulah sebabnya, sungguh amat disayangkan jika anak-anak sekolah di Banyuwangi  sendiri kurang mengenalnya.

Jumlah buku yang akan dibagian secara gratis sebanyak 1.400 eksemplar, yang mana jumlah tersebut sudah menjangkau seluruh sekolah yang ada di Kabupaten Banyuwangi, mulai tingkat SD, SMP, SMK dan SM

“SKB merupakan sebuah organisasi non-profit yang tidak menggunakan dana APBD dalam kegiatannya. Semua pendanaan kegiatan SKB dilakukan secara mandiri dan atau gotong-royong dengan para simpatisan, utamanya para perantau asal Banyuwangi. Untuk kegiatan yang diperkirakan menelan biaya seratus jutaan ini, SKB akan mencarikan dana kepada pribadi-pribadi atau lembaga-lembaga yang bersedia ikut mendukung kegiatan ini,” jawab Antariksawan.

Diharapkan, tahun ini buku serta CD sudah dapat dihibahkan ke sekolah-sekolah di Kabupaten Banyuwangi.

SKB sudah dua kali melakukan kegiatan hibah  buku-buku berbahasa Using untuk sekolah-sekolah di Banyuwangi, bekerjasama dengan Ikawangi Jabodetabek, juga dengan organisasi alumni angkatan Damar ’84. Sampai saat ini ada 12 judul buku berbahasa Using dan satu seri kartu permainan Kuartet tentang Banyuwangi yang telah diluncurkan oleh SKB. Selain menerbitkan buku, SKB juga beberapa kali mengadakan pelatihan menulis dan mengadakan lomba mengarang cerita pendek berbahasa Using setiap tahun, yang hasilnya diterbitkan dalam sebuah buku.

Mudah-mudahan dengan kegiatan-kegiatan semacam ini, bisa pula menumbuhkan geliat komunitas-komunitas lain untuk melakukan kegiatan serupa. Sehingga pelestarian semua kekayaan budaya bisa dilakukan dengan lebih baik, bersama-sama dan berkesinambungan.

 

Rabu, 29 Juni 2016

Bahasa Using Baku



Generasi Banyuwangi yang menjalani masa sekolah SD sebelum tahun 2000 memang tidak pernah merasakan pelajaran Bahasa Using. Dan itu adalah generasi yang sekarang berumur 25-an ke atas, yang bisa dikatakan buta bahasa Using baku.
Jadi tidak bisa ‘dipaido’ kalau ada yang masih suka mengklaim bahwa bahasa Using di desanya paling deles dan menuliskannya dengan cara semaunya sendiri.
Bahasa Using tulis yang baku sudah diajarkan di sekolah-sekolah. Meski bahasa Using sudah diperkenalkan terbatas pada tiga kecamatan tahun 1997, baru pada tahun 2006 lah Dewan Kesenian Blambangan mengeluarkan dua buku yang sangat penting:

1.       Tata Bahasa Baku Bahasa Using

2.       Pedoman Umum Ejaan Bahasa Using (Cara Menulis dan Membaca Bahasa Using)


Isi buku tersebut, antara lain menjawab pertanyaan orang-orang Banyuwangi yang belum pernah belajar penulisan baku, misalnya mengapa ditulis “Using” bukan “Osing”.

Mengapa perlu bahasa baku? Penulisan baku diperlukan justru untuk menyatukan berbagai dialek yang ada pada bahasa Using. Sama seperti bahasa Inggris, dialek Ratu, dialek Cockney di London timur, dialek Amerika, dialek Australia, tulisannya sama, meskipun cara mengucapkannya lain-lain. Bahasa Indonesia juga begitu. Sebuah kata, dibaca dengan berbagai variasi bunyi karena yang mengatakan orang dari Medan, Jawa, NTT yang berbeda-beda cara mengucapkannya. Tetapi tulisannya tetap sama. Tidak apa-apa, sah-sah saja.

Nah, bentuk ragam baku inilah yang sudah diajarkan di sekolah-sekolah dari tahun 1997 sampai sekarang. Lantas bahasa Using, dialek mana yang dipakai? Kemiren? Parijatah? Mangir? Apakah memakai /bain/, /bawin/, /bahin/, /byaen/, /bewen/? Dialek dalam bahasa Using begitu banyak. /Isun/? /Ihun/? /Isen/? /Un/? Atau /paran/? /Paren/? /Paen/? Di sinilah perlunya pembakuan, sehingga semua orang merujuk pada penulisan yang sama tetapi boleh mengucapkan sesuai dengan dialeknya masing-masing.

Jadi,

/isun/ adalah yang baku. /isen/ /ihun/ ini lebih ke variasi bahasa percakapan.

/bain/ adalah yang baku. /baen; bewen; bawin; bahin/ adalah variasi ucapnya.

Dalam pengucapan, semua dialek benar adanya. Tidak ada desa yang lebih deles dari desa lainnya.

Kalau kita sedang menuliskan sesuatu dan kita ragu-ragu, kemana kita mesti mengecek kebakuan kata tersebut? Lihat di Kamus Bahasa Daerah Using-Indonesia, yang juga diterbitkan oleh DKB tahun 2002.

Kamus itu adalah kamus pertama dan belum pernah direvisi selama ini, sehingga banyak pula kata-kata yang belum tercatat di sana. Untuk itu, apabila ada keraguan, dan dalam kamus kata itu belum ada, kita bisa menggunakan prinsip-prinsip yang ada pada buku Tata Ejaan Bahasa Using. Atau bertanyalah pada guru yang mengajarkan bahasa Using. Atau pada grup diskusi  FaceBook seperti Pelajaran Bahasa Using. Jadi kesalahannya tidak diulang-ulang. Kalau kita semua sudah membiasakan diri untuk menulis sesuai dengan aturan yang baku, niscaya bahasa Using akan lebih kuat. Kalau kita seenaknya menulis seperti kemauan kita, sama saja dengan meruntuhkan bangunan bahasa Using yang sudah dibangun oleh para pendahulu yang meletakkan dasar untuk pengajaran bahasa Using.

Jadi jangan lagi menulis:

/ojo/ tapi tulislah /aja/

/osing; oseng/ tapi tulislah /using/

/apuo/ tapi tulislah /apuwa/

/dadung/ tapi tulislah /dhadhung/

Kadhung dudu rika isun, sapa maning hang arep nguri-nguri basa Using?

 
iwandear@gmail.com