Rabu, 28 Mei 2014

Repertoar Gandrung di Gedung Kesenian Jakarta

Saya mendapat undangan untuk sebuah acara repertoar tari. Berikut saya kutip dari Release undangannya - bertajuk “Gama Gandrung” (Perjalanan Gandrung). Cuma saya bolak-balik susunannya sehingga lebih enak dibaca. Saya tidak menambah-nambahi segala superlative yang muncul dalam tulisan ini.

   Persembahan tari tradisional kontemporer berlatar belakang tari Gandrung Banyuwangi, yang akan dipentaskan di Gedung Kesenian Jakarta (GKJ), Rabu 11 Juni 2014, pukul 20.00 wib.
   Masih dari Releasenya: Aktifitas kita keseharian secara sadar dikelilingi oleh rupa budaya yang sedianya menyadarkan pada nilai-nilai. Bagi seniman, nilai-nilai (tatanan dan tuntunan), dapat dieskpresikan menjadi karya seni penuh makna simbolis, didaktis, sekaligus menghibur. Inilah yang akan dipresentasikan penari muda berbakat, penyandang gelar Museum Rekor Dunia Indonesia (MURI) sebagai koreografer kelas dunia termuda berbasis seni tari tradisi, Bathara Saverigadi Dewandoro.
   Pelajar Kelas 2 SMU Angkasa 2 Jakarta Timur ini mengagumi sejarah kesenian Gandrung. Tari Gandrung memuat berbagai makna, seperti ungkapan syukur, suka cita, harapan, sampai dengan kesakralan. Lwat Tari Gandrung inilah simbolisasi tentang harmonisasi antara alam dan manusia dicoba untuk digambarkan oleh para penari yang akan kami persembahkan.
   Penari remaja yang akrab disapa Bathara ini, kini tengah fokus latihan persiapan bersama belasan remaja seusianya.
   ”Garapan tari ini akan disajikan dalam kelompok tari berjumlah sedang, berkisar antara tujuh penari wanita, tujuh penari pria dan 12 orang pemusik. Mengelaborasi tari dengan tembang (nyanyian), musik dan dialog atau puitisasi untuk menguatkan nulai dramatiknya agar ungkapannya lebih menarik dan pesan yang ingin disampaikan terserap penonton,” terang Bathara, yang bertekad memperlihatkan bahwa karya tari tradisi masih melekat pada jiwa generasi muda.
   Reputasinya di ranah seni – khususnya seni tari – sempat membawa Bathara ini ke jagad internasional. Kematangan secara empirik, ditambah kemauannya mengeksplorasi dan melakukan berbagai eksperimen, menjadikan karya-karyanya menonjol. Gagasannya akan ”gerak” dalam memotret persoalan cukup menarik. Bathara pernah dipercaya Pemerintah Indonesia membawa misi kesenian ke India tahun 2008, atas prakarsa Kementrian Pendidikan dan Kebudayaan RI.
   Bathara kerap juga tampil menjadi narasumber di berbagai kegiatan variety show televisi, di antaranya melalui acara ”Inspirator Muda Indonseia, Kick Andy” Metro TV, dan acara ”Tea Time” Metro TV tampil bersama penyiar senior Desi Anwar. Bathara juga sempat membintangi Film Televisi (FTV) ”Tusuk Konde” yang disutradarai Enison Sinaro.
   Bathara memang tumbuh di lingkungan seniman tradisi. Ayahnya Suryandoro, adalah begawan tari alumni Institut Seni Indonesia (ISI) Surakarta Program Studi Komposisi Tari. Sementara ibunya, Dewi Sulastri, adalah master tari dunia alumni Institut Seni Indonseia Yogyakarta.
   Repertoar tari ”Gama Gandrung” karya Bathara Saverigadi Dewandoro, didukung pemusik Sri Waluyo, Penata Artistik Agus Linduaji, dan Penata Kostum Yani Wulandari.

Sinopsis: Gama Gandrung
Mereka bersolek layaknya perempuan yang molek, mengayunkan langkah tanpa lelah dalam sisa tenaga kerinduan. Berkeliling dengan kerling menawan untuk sebuah kemenangan batin. ”Gandrung Lanang” biasa orang menyebutnya.
   Dan tak kasat jika terancang sebagai strategi perang. Semua sirna, kecantikan lelaki itu pudar ketika masyarakat tak menerimanya. Hasrat tak pernah berhenti karena panggilan jiwa. Semi melepas keraguan dan hadir sebagai pengganti. Lestari menjadi harapannya.
   ”Gandrung Wadon” menjamur menerobos ruang dan waktu. Meski perjalanannya tak henti diterpa goda karena kenakalan semata. Mereka tak mengerti hakekat yang sebenarnya. Mereka yang punya asa untuk kembalinya martabat Gandrung Banyuwangi agar tetap berkibar.
   Kini saatnya, menoleh ke belakang menyaksikan masanya.


Komentar saya: Penting untuk seniman tari Banyuwangi melihat repertoar ini agar bisa membuat perbandingan, pengemasan sebuah tari tradisional menjadi tontonan untuk masyarakat modern.

Senin, 19 Mei 2014

Ahead of the World Cup 2014, Football is on fire in Banyuwangi

   Football is hot and on fire in Java’s easternmost region of Banyuwangi. Not because fans are eagerly waiting the upcoming 2014 FIFA World Cup, but because the game is played here with a ball that is literally on fire.
   Barefooted, most players come from Muslim boarding schools. They may play the burning ball on a concrete court normally used to dry rice, to a wider grass court.
   It is just like the sport of football played anywhere in the world, with kicking, heading, penalties, a referee, a commentator, and spectators, only in this version it is held at night, with a burning ball and played for a shorter period of time.
   The ball is made from a coconut which has been soaked for a couple of hours in kerosene. During each match, the referee has to stop the play a couple of times in order to pour more kerosene when the fire fades.
   According to one of a school teachers at a Muslim boarding school in Banyuwangi,  H. Nursalim, there is no magic involved in the match.
   Among people from other regencies, especially in East Java, Banyuwangi is identified as a hotbed for magic. In the late 1990s, dozens of alleged black magic practitioners were murdered. Some of them, however, turned out to be religious teachers, peasants and shamans. They became the victims of prejudice and hatred. The perpetrators of the killing spree remain a mystery to this day.
   “What I have told them to do is to perfrom wudhu before playing and pray Bismillahirrohmanirrohim (In the name of Allah, the compassionate and the merciful),” Nursalim said. Wudhu is a tirual of cleansing performed by every Muslim before daily worship. Its ritual includes washing with running water five parts of the body: the face, two hands, the head, two ears, and two feet.
   “In the act of prostration while we pray, sevens parts of our body touch the earth. So, we decided seven should be the number of players in a team,” said Nursalim.
   The popularity of the school’s fire football team has extended to other neighboring regencies of Situbondo, Besuki and Panarukan. The school’s team has often been invited to the regencies to play a charity events. All of the proceeds are normally used to build mosques, Nursalim said.
   To make the game more interesting, organizers of the charity matches often claim the school teams come from opposite parts of Banyuwangi and that they are in competition. And for this purpose, the school has prepared several colored jerseys. In the event of playing in other regions, they entertain the spectators by holding the match on a real football field.
   So far, none of the students have been injured. Intensive training normally takes place in the Islamic month of Sya’ban before the students end their academic calendar at the school.
   “What is most important to us is that the students are having fun.”
   (In the old days, children in Banyuwangi practice fire-footballing in smaller alleys, in a vacant badminton field  or nearby school yard using terracota bricks which have been made into balls. It is soaked in kerosene for two days and the fire lasts longer than those of coconut ball.
It was a good past time during Ramadhan when most schools were in holiday.)

iwandear@gmail.com

Senin, 12 Mei 2014

Polesan untuk Pariwisata Banyuwangi

(Artikel dari Hani Z. Noor yang dimuat oleh Radar Banyuwangi 11 Mei 2014. Saya tambah beberapa poin lagi, barangkali bisa menjadi pertimbangan)

Saya sudah melihat banyak perkembangan yang menggembirakan dalam pariwisata Banyuwangi. Pemda yang menggelontor event berbulan-bulan, sangat memanjakan wisatawan. Apakah itu Festival Keluwung, Tour de Ijen, Gandrung Sewu, atau BEC.
   Kondisi boom yang sekarang sudah bisa dinikmati pun membuat saya berpikir, memang perlu polesan-polesan kecil untuk membuat Banyuwangi lebih menarik.
   Misalnya beberapa usulan berikut:

  1. Papan informasi di berbagai tempat. Informasi yang menarik, yang memberi pemahaman latar belakang sejarah, dapat mencerahkan wisatawan. Misalnya daerah pelabuhan Boom yang sekarang kelihatan tidak menarik, akan berbeda apabila ada keterangan: “Pelabuhan ini, dulu sebagai tempat ekspor pisang ke Australia. Tahun 1924, ekspor pisang ke Australia mencapai 187.802 tandan. Sejak 1913, Banyuwangi sudah mengekspor pisang. Departemen Pertanian Hindia Belanda memulainya dengan mengirim ahli buah-buahan Mr. Westendorp ke Banyuwangi dan melihat prospek ekspor pisang. Lantas ia mengambil bibit dari Buitenzorg (Bogor). Kantornya menhabiskan 600 gulden untuk budidaya pisang ambon, untuk membagi 18 ribu bibit pisang kepada penduduk Banyuwangi. Dan juga menanam bibit pisang seluas 5 bahu sebagai cadangan.” (Sumber jurnal Strungking edisi 3, Koseba).
  1. Dengan bermodalkan papan informasi, banyak hal yang bisa digali. Misalnya mereproduksi tiruan Tugu Penthol yang ada di depan pojok Pendopo Kabupaten. Dengan diberi keterangan bahwa tugu ini merupakan tanda batas kekuasaan VOC dan Regent atau bupati jaman kolonial. Tentu sangat menarik untuk foto-foto para wisatawan. Atau bisa juga untuk icon-icon lain.
  1. Pasar sebagai tujuan wisata. Pasar Banyuwangi sebenarnya menyimpan potensi sebagai tujuan wisata. Kalau pasar dibangun dengan bersih, tidak ada sampah dan tidak bau, akan menjadi tempat yang sangat nyaman dikunjungi. Tidak seperti pasar tengah kota yang saya lihat sekarang ini, mengganggu kenyamanan pengguna jalan karena pedagang tetap saja tidak patuh berjualan dibalik pagar besi. Mereka menggelar dagangannya diluar pagar besi, ditambah lagi kendaraan pembeli yang di parkir dibagian luarnya semakin membuat sempit jalan yang seharusnya bisa dilalui kendaraan dengan lapang. Keberadaan pasar kota ini membuat pemandangan pertokoan terlihat kumuh dan tidak rapi karena para pedagang sayur dan ikan berada di bahu jalan, di trotoar bahkan menempel di teras toko. Seharusnya mereka mulai didisiplinkan untuk berjualan di dalam los pasar sejak awal berjualan di pagi atau sore hari. Sehingga tidak perlu lagi banyak petugas satpol PP mengobrak-abrik mereka ketika jam tujuh pagi mereka harus berpindah tempat jualan. Dan penting juga memberi keterangan tentang apa saja yang unik di pasar tersebut. Untuk turis domestik dari daerah lain, menarik untuk mengetahui bahwa orang Banyuwangi menjual kelor sebagai sayuran. Karena di tempat lain, kelor hanya untuk memandikan mayat. Di tempat lain, kelor diyakini bisa mengeluarkan susuk dalam tubuh. Jadi orang Banyuwangi tidak ada yang pakai susuk. Belum lagi ada kelenthang, bahan utama sego tempong yaitu terong welut, ada bobohan, ada gundho, dan ada belencong yang tidak ada di daerah lain. Dan juga ikan laut di Banyuwangi sangat segar. Berbeda dengan tempat lain yang bandengnya kadang bau tanah karena dipelihara di empang atau tambak, bandeng laut Banyuwangi, menyajikan rasa yang memanjakan lidah. Karena masih segar, tanpa pengawet baik es maupun formalin.Tapi jangan sampai ada lagi, orang yang berjualan telur penyu, yang menunjukkan orang Banyuwangi tidak pro-kehidupan penyu yang merupakan binatang dilindungi. Wisatawan yang pro-lingkungan membenci ini dan akan membuat promosi yang jelek tentang Banyuwangi.
  1. Youth Hostel. Kebesaran Banyuwangi tak hanya harus dinikmati oleh kalangan berduit saja, yang bisa tinggal di hotel-hotel berbintang. Banyak anak-anak muda yang berkantong pas-pasan tetapi ingin menikmati Banyuwangi juga. Jangan meremehkan kaum ini sekarang. Mereka ini yang sangat narsis dan selalu ingin menyebar apa yang dikerjakannya kepada teman-temannya. Ini promosi gratis. Mungkin saja mereka ini tidak secara langsung membawa wisatawan, tetapi promosi gratisnya sangat menguntungkan. Mereka cukup bisa terima tempat tidur yang berupa kasur tingkat, satu kamar berempat atau berenam, kamar mandi bersama (namanya Youth Hostel). Tak perlu ada pelayanan berupa makan pagi. Karena mereka sudah menemukan penjual sego cawuk, sego tempong atau nasi bungkus yang harganya juga masih bisa mereka jangkau.
  1. Memberi piagam. Untuk para pendaki yang sudah tiga atau lima atau sepuluh kali mendaki Ijen, berdasarkan buku tamu yang terdapat di Paltuding, bisa dibikinkan piagam. Hal kecil ini bisa jadi kebanggaan wisatawan dan mendorong mereka untuk selalu kembali ke Ijen. Ada sebuah penerbangan, yang memberi piagam untuk orang yang melewati garis equator, sesuatu yang kecil tapi membuat penumpang senang menyimpannya sebagai kenang-kenangan.

Saya tambah beberapa poin lagi:

  1. Menyebar brosur-brosur ke sekolah-sekolah seluruh Jawa dan Bali, untuk menghabiskan liburannya di Banyuwangi. Apa saja yang bisa dilakukan. Dengan Ijen bisa didaki dalam hitungan menit dengan bis, sangat gampang dicapai oleh rombongan anak sekolah.
  1. Menyebar virus pertunjukan malam minggu. Saat ini yang ada pertunjukan malam minggu pertama tiap bulan di halaman Taman Blambangan, barangkali bisa ditularkan menjadi pertunjukan di kecamatan-kecamatan lain. Sehingga turis dan wisatawan lainnya bisa mengunjungi daerah lain.
  1. Tempat kerajinan. Banyuwangi mempunyai tempat kerajinan, misalnya pengrajin batik. Tetapi tak satupun tempat pembatik yang layak ditampilkan untuk turis yang berkunjung. Mestinya Dinas Perindustrian dan Perdagangan, bisa menyediakan tempat, dimana turis bisa melihat proses membatik, ikut membatik dan hasil batikannya bisa mereka bawa sebagai oleh-oleh. Atau ada pelayanan yang mengirim hasil karya mereka. Atau bisa juga disediakan satu sentra aneka kerajinan, misalnya di satu blok terdiri dari beberapa stand yang bisa disewakan untuk para pengrajin. Bisa beberapa stand batik, stand kerajinan gerabah, stand kerajinan anyaman.
  1. Tempat latihan menabuh gamelan, yang rutin diadakan pada jam-jam tertentu.Wisatawan dapat ikut berlatih kalau perlu.
  1. Museum mainan Banyuwangi, agar bisa untuk mengajari anak-anak Banyuwangi sendiri mencintai nagarinya. Mengenalkan dan mengajak mereka menikmati permainan-permainan, membuatnya sendiri. Ada workshop setiap hari minggu. Para wisatawan bisa membuat sendiri suvenirnya dan membawanya pulang.
  1. Pusat Jajanan Tradisional mungkin perlu dikembangkan, di lokasi yang strategis dan khusus makanan tradisional Banyuwangi yang boleh dijajakan. Misalnya, jajanan pasar: Orog-orog, kulpang, jenang gelimpang, lak-lak, lempog gedhang, dll. Makanan khas: sego cawuk, lontong pecel janganan bali ontong, sego tempong, dll.
  1. Tetapi yang juga tak kalah penting, membuat akses yang layak menuju tempat-tempat wisata. Jalanan yang rusak adalah hal pertama yang diingat oleh wisatawan.

Rabu, 07 Mei 2014

Masa depan Bahasa Using dan Lomba Mengarang

Kemana Bahasa Blambangan (atau Bahasa Using seperti penyebutannya selama ini) sepuluh tahun lagi? Saya mengusulkan sebutan Bahasa Blambangan karena dengan penyebutan wilayah (bukan etnis tertentu), bahasa ini akan jauh lebih bisa berkembang dan lebih bisa diterima oleh seluruh kelompok masyarakat.
   Bisa dianalogikan demikian: Orang Indonesia berbicara bahasa Indonesia, bukan
bahasa Melayu. Meski pun cikal bakalnya adalah bahasa Melayu. Mungkin saja, kalau bahasa Melayu yang dijadikan bahasa nasional akan mengalami kendala, soal rasa memiliki pada penduduknya.
   Bisa jadi akan timbul masalah, bahasa mana yang lebih baku, bahasa Melayu di Riau atau Melayu yang berkembang di daerah lain? Tetapi dengan nama yang merujuk pada wilayah, yaitu Indonesia,  orang Melayu pun tak banyak pertanyaan soal bahasa mereka yang diacak-acak oleh etnis lain.
   Bahasa Using menjadi identitas Kabupaten Banyuwangi karena etnis lokal yang menggunakan bahasa Using dianggap sebagai penduduk asli Banyuwangi dan memang jumlahnya mayoritas. Tetapi banyak juga etnis lain seperti Jawa, Madura, Arab, Tiongkok, Mandar, Bugis, Bali, peranakan Belanda dan lain-lain sebagai akibat posisi Banyuwangi sebagai daerah pelabuhan maritim.
   Etnis non-Using ini membentuk jumlah yang signifikan. Tanpa penyebutan wilayah sebagai identitas bahasa, mereka ini tidak akan punya sense of belonging yang menghambat perkembangan bahasa resmi tersebut.
   Kalau disebut bahasa Using, etnis lain ini tidak punya “kewajiban” untuk berbahasa tersebut karena mereka merasa bukan etniknya. Jadi bisa muncul pembicaraan seperti: “Saya etnis Mandar, tapi tinggal di Banyuwangi. Saya tetap berbahasa Mandar. Saya bukan orang Using.” Akan berbeda kalau disebut bahasa Blambangan. “Saya tinggal di Blambangan. Meski dari Mandar, saya harus bisa berbahasa Blambangan karena saya tinggal di sini.” Keadaan ini layaknya Bahasa Melayu yang dijadikan cikal-bakal Bahasa Indonesia
   Yang agak menakutkan, sebagian penutur bahasa Using, dari kelompok etnik Using ada yang merasa, bahwa bahasa kampung mereka lah yang paling asli, paling orisinal. Bahasa orang kota, atau bahkan desa lainnya, sudah tercemari bahasa pendatang.
   Mestinya bahasa Blambangan dibawa bergerak maju, bahwa sebuah bahasa tidak ada yang berdiri sendiri. Dan demi pengembangannya, jumlah kosa kata harus terus ditambah, bisa digali dari dalam atau pun menyerap bahasa lain.
   Bahkan bahasa semaju Bahasa Inggris, juga mesti mengambil istilah Prancis: Bon Appetit, sebuah ungkapan selamat makan, suatu kegiatan yang mereka lakoni bahkan sebelum mereka berinteraksi dengan orang Prancis.
   Bahasa Using mempunyai kosakata yang agak terbatas. Dikarenakan, bahasa ini tidak banyak diberi kesempatan mengembangkan dirinya dalam area bahasa tulis. (Apakah ini sebuah kesengajaan atau tidak, saya tidak ingin membahasnya). Setelah di-perda-kan menjadi bahasa resmi, boleh dibilang tidak sampai hitungan sepuluh buku yang ditulis dalam bahasa tersebut. Jangan pula disebut adanya periodikal, majalah dan koran.
   Sastra yang berkembang lebih banyak pada dongeng tutur lisan dan lagu-lagu. Sehingga terasa tergagap-gagap ketika dijadikan bahasa tulis. Dan pada gilirannya, banyak kata-kata yang harus menggunakan bahasa Indonesia atau Inggris yang memang lebih banyak ekspresi pilihannya untuk mengungkapkan pikiran dalam bahasa tulis. Meskipun ini juga merupakan suatu proses menuju bahasa yang lebih baik, lebih utuh.
   Nah, untuk usaha melawan gejala penciutan bahasa itu, saya bermimpi makin banyak naskah berbahasa Using yang ditelurkan. Saya dibantu oleh beberapa teman melakukan upaya kecil, diantaranya menyelenggarakan pelatihan menulis cerita pendek berbahasa Using, saya bikin lombanya, kemudian hasil lombanya saya jadikan buku antologi cerita pendek berbahasa Using. Bersama teman-teman yang peduli ini pula, saya berusaha mengangkat dan mempertahankan kelestarian Bahasa Blambangan ini melalui buku. Beberapa buku berbahasa Using sudah diterbitkan, baik secara Nasional maupun Lokal.
   Memang tidak mudah. Pada periode pertama bulan Desember 2013 lalu, peserta yang ikut sejumlah sekitar 30 orang. Mereka ini membayar untuk ikut serta dengan kompensasi mendapat sebuah buku Basa Using, sertifikat, makan kecil dan minum.
   Untuk menjangkau kalangan lebih banyak, saya sasar anak-anak sekolah dasar yang di sekolah diajari bahasa lokal oleh guru kelasnya. Karena saya melihat tidak banyak materi pengayaan yang mereka dapatkan karena materi yang tersedia juga sangat terbatas. Selain buku pelajaran, hanya ada sebuah buku dongeng, buku peribahasa dan nasihat.
   Jadi saya undang guru-guru pengajar SD untuk mengikuti pelatihan penulisan cerita pendek dan dongeng berbahasa Using. Harapan semula, kelas maksimal sebanyak 50 orang, supaya proses belajarnya ideal. Ternyata yang muncul ada sebanyak 84 guru.
   Saya tadinya gembira melihat antusias guru-guru SD ini, walaupun untuk itu panitia harus menyiapkan tambahan sertifikat dan konsumsi dadakan. Saya berharap guru-guru ini mau menulis dongeng untuk murid-muridnya. Sehingga mereka diharuskan untuk membuat dongeng. Di samping itu, ilmu yang mereka dapatkan pada pelatihan, bisa ditularkan pada murid-muridnya. Pada gilirannya, murid-murid yang sudah di”kompori” ini mau beramai-ramai mengikuti Lomba Mengarang Cerita Cendek Bahasa Using.
   Ternyata eh ternyata, setelah tiga bulan, hanya ada sembilan orang guru yang mengumpulkan dongeng karyanya. Dan tebak, berapa anak Sekolah Dasar (SD) yang ternyata ikut lomba cerpen? Dua orang. Sampai untuk kategori ini dihapuskan dari Lomba karena minimal peserta yang ikut harus sebanyak lima orang.
   Saya cukup bersedih dengan kenyataan ini. Apakah mereka ini ikut pelatihan ini hanya mengincar sertifikat yang ditandatangani oleh kepala Dinas Pendidikan Nasional untuk mendapat kredit poin? Entahlah. Memang motivasi orang sangat beragam.
   Seluruh peserta Lomba Mengarang tahun ini memang menurun secara kuantitas. Total karya yang mereka kumpulkan sebanyak 46 naskah, menurun dari tahun lalu yaitu sebanyak 54 naskah. Tetapi menurut Ketua Dewan Juri, Abdullah Fauzi, secara kualitas karya tahun ini lebih meningkat.

   Untuk itu saya masih bersyukur. Dan masih berharap akan tumbuh karya-karya lagi dengan menggunakan bahasa Using atau bahasa Blambangan.

Kamis, 24 April 2014

Nggesahaken Seni lan Sastra Banyuwangi

Apa yang membedakan Angklung Jawa Barat, Bali atau Banyuwangi? Pelajaran apa yang bisa diambil dari Angklung Caruk?
   Pertanyaan-pertanyaan tersebut, bisa diperpanjang dengan berbagai pertanyaan lain, sebenarnya apa yang menyebabkan kesenian Kuntulan yang tadinya melulu milik anak-anak pesantren, bisa menjadi kesenian profan? Atau apa yang menyebabkan kesenian Damarwulan dinamai Jinggoan atau Janger?
   Bagaimana gaya peringatan Maulid gaya Using? Mocoan Pacul Guwang? Atau apa saja komponen-komponen Kiling Banyuwangi?
   Kalau kita sudah sering mendengar nama Temu atau Mak Onah, lantas siapakah Pak Pi’i dari Kemiren? Atau apa peran Pak Mul dalam membesarkan adat Kebo-keboan.
   Apakah yang membuat sastra Using berkibar? Apakah layak disebut Using? Ataukah kita hanya dicekoki istilah yang akhirnya membuat kita jadi bertanya-tanya, siapakah kita?

Pertanyaan-pertanyaan itu terjawab pada buku Membicarakan Seni dan Sastra Banyuwangi. Buku ini terbit dwi bahasa, Indonesia-Using. Jadi kalau dibalik, ada versi bahasa Usingnya yang berjudul: Nggesahaken Seni lan Sastra Banyuwangi.
   Buku kumpulan artikel yang ditulis beberapa orang ini, direncanakan akan diluncurkan tanggal 4 Mei 2014 di Pelinggihan Dinas Pariwisata dan Budaya pukul 09.00.
   Para penulis antara lain: Dwi Pranoto, Eko Budi Setianto, Hasan Sentot, Hasan Basri, Mas Robin, dan Moh. Syaiful.
   Buku ini diterbitkan oleh penerbit Pustaka Larasan Bali.
   Pada saat yang sama, acara tersebut juga akan menampilkan para pemenang Lomba Mengarang Cerita Pendek Berbahasa Using 2014. Lomba, yang ditutup tanggal 27 April ini, berhadiah total empat juta lima ratus ribu rupiah. Lomba mempunyai kategori: SD, SMP, SMA, dan Umum. Masing-masing kategori akan menampilkan tiga karya terbaik.
   Sementara, karya lain yang bukan merupakan salah satu yang terbaik, tetapi dianggap baik oleh panitia tetap akan dibukukan. Seluruh penulis yang karyanya dicantumkan dalam buku, akan mendapat hadiah buku.
   Dan seluruh peserta, akan mendapatkan piagam keikutsertaan dari panitia.
   Hasil lomba ini, seperti lomba tahun sebelumnya, akan dibukukan menjadi Kembang Ronce Cerita Cendhek Using 2014, pada bulan Desember nanti.

   Yang tertarik untuk mengikuti Lomba ini bisa mengirimkan cerpennya ke: cerpenosing@gmail.com.

Selasa, 18 Maret 2014

Kereta dan Sepeda Motor Listrik: Belajar dari China

Awal Maret 2014 lalu saya mendapat tugas ke Shanghai China, menghadiri salah satu pasar program televisi. Memang bukan tugas saya yang pertama ke sini, sebelumnya pernah juga tahun 2008 dan 2005 kalau tak salah. Jadi Shanghai bukanlah kota yang terlalu asing. Meski pembangunan bergerak terus dan banyak gedung baru, kawasan The Bund yang tersohor masih tetap seperti itu.
   Tak perlu lah saya ceritakan pengalaman jelek tahun 2008. Saat itu travel agent yang diurus kantor, hanya membawakan voucher booking hotel, yang hanya berisi tulisan huruf latin. Tak seorang pun dapat mengenali hotel yang tertulis di situ. Bahkan petugas informasi di bandara Pudong yang bisa bahasa Inggris sekalipun.
   Kali ini saya membawa voucher yang bertuliskan nama dan alamat hotel dalam tulisan Mandarin. Saya pikir masalah sudah selesai. Ternyata saya menemukan problem baru. Petugas yang menawarkan taksi dalam bandara tahu hotel tempat saya menginap. Namun menawarkan tarif empat kali lipat (600 Yuan, sekitar Rp. 1,2 juta) dari tarif normal, yang dikasih tahu oleh petugas money changer yang sangat membantu sekitar maksimal 250 Yuan. Petugas tersebut bisa mengecek, berapa jauh dari satu tempat ke tempat lain, dan kira-kira argo taksinya berapa.
   Akhirnya atas saran petugas money changer itu juga, saya ambil kereta Maglev (Magnetic Levitation), satu-satunya kereta kecepatan tinggi maglev komersial yang dioperasikan di dunia. Ada dua yang lain, di Birmingham Inggris dan Berlin Jerman, tetapi kedua maglev ini kecepatan rendah, dan operasionalnya sudah ditutup sebelum kereta maglev Shangai dibuka tanggal 1 Jan 2004.



   Seperti namanya, Maglev, yang dibikin oleh perusahaan Jerman, Siemens dan Thyssenkrup, “melayang” di atas rel, karena dorongan "magnet" di atas relnya. Karenanya tidak seperti kereta biasa, nyaris tak bersuara. Dan bisa digeber sampai kecepatan lebih dari 500 km per jam.
Kecepatan 301 km/jam saat di foto


   Jadi jarak dari bandara Pudong ke kawasan kota, di stasiun di jalan Longyang, sekitar 30 km, hanya ditempuh dengan waktu 7 menit. Tiketnya sekitar Rp. 100,000. Keretanya bersih, rapi, dan di dekat pintu masuk, terdapat tempat untuk menyimpan tas dan koper.

Numpang nampang di depan Maglev

   Sebenarnya dari bandara Pudong, tersedia juga Metro (kereta bawah tanah), tetapi berhenti di setiap stasiun, jadi tidak begitu menarik untuk orang-orang yang ingin lebih cepat menuju hotel. Orang-orang lokal yang lebih tahu mesti berhenti di stasiun mana, mesti ganti kereta nomor berapa, di stasiun pergantian yang mana, biasanya lebih memilih Metro. Di samping lebih murah, juga lebih dekat dengan tempat tinggalnya.








Di dalam Metro, kereta bawah tanah
   Metronya pun tidak jelek. Buatan dalam negeri dan stasiun-stasiunnya lebih bersih daripada kereta bawah tanah yang di New York atau di London. Salut untuk pemerintah China yang bisa menyediakan transportasi umum dengan baik. Sebagai orang asing yang tidak berbahasa Mandarin sama sekali, saya bisa selamat naik dari daerah sekitar Century Park menuju The Bund, kawasan paling terkenal di Shanghai yang terlihat riang penuah warna. Beli tiket di mesin, cara menggunakannya, semua hampir sama dengan MRT di Singapura.

Pemandangan The Bund menjelang malam

   Sampai di ujung stasiun Maglev, saya terpaksa naik taksi. Selain lebih nyaman, naik kendaraan lainnya juga tidak gampang. Meski stasiun bis ada di dekat situ, tidak mudah menentukan bis mana yang   lewat dekat hotel. Dan berbicara kepada petugas sama sekali tidak membantu.
   Tapi naik taksi sekali lagi bukan tanpa tantangan. Sopir yang bisa sedikit bahasa Inggris, menawarkan Rp. 400.000 untuk rute yang sebenarnya cukup hanya Rp. 100.000. Terpaksa tawar menawar, supir minta Rp. 200.000, sampai akhirnya setuju di angka Rp. 160.000. Meski dengan ngedumel. Tanpa argo. Para supir yang mangkal dekat stasiun Maglev, sebenarnya menawarkan dengan argo, tetapi kita tidak pernah tahu, lewat mana, dan saya lebih merasa aman dengan angka yang sudah disepakati, daripada pakai argo dan jumlahnya kita juga tidak tahu.

   Di pinggir jalan raya, rata-rata trotoarnya lebar, jalanan bersih, bahkan panel listrik pinggir jalan di lukis, sehingga menjadi seperti karya seni berpenampilan menarik.
   







Trotoar lebar dan panel listrik dihias cantik

Di sungai-sungai yang membelah beberapa kawasan, terlihat orang-orang memancing ikan, menunjukkan indikator pengelolaan air yang bagus. Ikan masih bisa hidup.

   Yang mengagetkan memang, kebanyakan sepeda motor dari yang kecil mirip sepeda yang ditempeli mesin, sampai yang penampilannya besar untuk mengangkut barang, kebanyakan sepeda motor listrik.
   Tanpa bunyi, bergerak cepat dan eco-friendly. Saya melihat jajaran sepeda motor yang di parkir di pinggir jalan dan mereka lagi di-charge memakai kabel gulung yang diolor sampai di dekat sepeda motor.                                                                     
                                                                                    Sedang mengecharge sepeda motor di trotoar

   Saya mimpi Banyuwangi punya kereta yang tidak berisik, punya sepeda motor (bahkan angkutan umum) yang eco-friendly, bisa menambah prestasi Banyuwangi yang sudah juara dalam hal penanaman pohon satu miliar, sedekah oksigen untuk bumi.
   Kata hadist, Belajarlah sampai ke negeri China. Yang baik bisa diambil pelajarannya, yang jelek, dibuang ke laut saja.


iwandear@gmail.com

Sabtu, 01 Maret 2014

Haji Tejok, Maestro Angklung (Radar Banyuwangi 28 Feb 2014)



Senin, 24 Februari 2014. Saya mendapat pesan singkat dari pelukis Kang S Yadi K, “Telah meninggal dunia H. Sutejo Hadi Hanafi” Sawahan Pengantigan, dimakamakan pk 8.30.” Pesan yang sungguh meretakkan hati siapa saja yang punya kepedulian terhadap kelangsungan kehidupan berkesenian tradisional Banyuwangi.
Satu buku telah terbakar lagi. Utamanya buku tentang ilmu gending dan angklung Banyuwangi, yang dibawa ke liang lahat. Sebenarnya saya tidak begitu kenal dengan Pak Tejo, yang biasanya disebut Haji Tejok oleh orang-orang yang mengenalnya.
Pada saat acara pertunjukan perdana Malam Mingguan di Gesora Taman Blambangan awal 2013, saya dikenalkan oleh Wak Hasnan Singodimayan. Terus beberapa kali bertemu dalam acara lain, cuma sekelebatan. Tidak pernah ngobrol intens. ”Salah satu maestro angklung Banyuwangi,” demikian Wak Hasnan membisiki saya.
Pada saat Lebaran 2013 yang lalu, saya diantarkan oleh anak Wak Hasnan, Bonang Prasunan, bersilaturahmi ke rumah Haji Tejok, di Sawahan Pengantiga, dekat Masjid Al Amin Pengantigan. Rumahnya agak masuk gang, dan sebagaimana tuan rumah orang Banyuwangi lainnya, saya dijamu bagai tamu lebaran. Suguhan disajikan, gerunggung rengginang ketan dan kue Banyuwangi lainnya.
Mengetahui saya sedang berminat untuk menerbitkan naskah-naskah Banyuwangi, Haji Tejok mengungkapkan keinginannya untuk menulis buku tentang angklung Banyuwangi. Saya sanggupi untuk mencarikan jalan dan cara menerbitkan bukunya.
“Ya, nanti bulan Desember ambil naskahnya ya. Sekarang pun sebenarnya sudah ada, hanya belum lengkap. Masih kesingsal di beberapa tempat.”
Bulan Desember, pada saat acara peluncuran buku dan pelatihan menulis yang saya adakan, saya berusaha mampir, tetapi beliau sedang berkunjung ke tempat saudaranya di daerah Banyuwangi Selatan.
Sebenarnya, beliau bercerita, sudah pernah menulis buku soal angklung tersebut. Tetapi draft buku tersebut dipinjam orang dan sampai sekarang tak tahu dimana gerangan.
Begitu menyatunya Haji Tejok dengan angklung, kata Wak Hasnan, beliau bisa mengenali ada satu bambu yang hampir pecah di antara puluhan suara angklung.
Semasa hidupnya, Haji Tejok bercerita, mulai mengenal angklung sedari kecil. Sampai dewasa, ikut grup angklung. Yang saya ingat dari ceritanya, pada saat pertunjukan angklung caruk, pasti ada rapalan yang mesti diamalkan. Khususnya saat menghadapi dua desa yang dia sebutkan namanya.
”Jangan sampai naik, tanpa apa-apa. Ada saja gangguannya, mulai dari angklung yang ditabuh tapi tak bersuara, sampai si penabuh mengeluarkan berak darah. Memang itu yang terjadi.” Malah ada grup-grup yang tidak berani, lebih baik mengurungkan niatnya untuk caruk, daripada tidak bisa pulang.
Saya termasuk awam mengenai angklung, angklung caruk dan tetek bengeknya. Tapi yang saya catat dalam hati, Haji Tejok sudah berkeinginan menurunkan ilmunya pada anak cucunya orang Banyuwangi. Tetapi sekarang, keinginan itu entah dimana.
Dan saya kehilangan buku Banyuwangi. Buku dalam arti sebenarnya, yang sedang digarap oleh beliau. Dan buku yang terbakar seperti kiasan saat sang maestro membawa pengetahuannya ke liang kubur. Buku tentang kekayaan budaya Banyuwangi.
Pak Haji Tejok, anda mendahului saya. Saya cuma bisa mengucap, mudah-mudahan kuburnya dilapangkan, dosa-dosa diampuni. Dan doakan saya bisa menemukan buku angklung yang anda impikan untuk diwariskan. Entah akan saya gali darimana.
Antariksawan Jusuf
(iwandear@gmail.com)