Selasa, 25 November 2014

Kajian Pustaka dan Peran Dewan Kesenian Blambangan


Tanggal 21 November lalu saya mendapat amanah menyelenggarakan acara Hibah Buku dari Ikawangi untuk Banyuwangi. Buku yang akan dibagi adalah:

1.       Markas Ketelon (cerita anak-anak untuk kalangan Sekolah Dasar negeri dan swasta) berbahasa Using

2.       Kembang Ronce 2014 (kumpulan cerita pendek untuk kalangan SD, SMP, SMA/SMK negeri dan swasta) berbahasa Using. Merupakan kumpulan cerpen yang dihasilkan dari Lomba Mengarang Cerita Pendek Berbahasa Using tahun ini (diumumkan bulan Mei 2014 lalu).

3.       18+, merupakan sepenggal cerita perjalanan salah seorang sesepuh Ikawangi, sampai beliau menjadi petinggi sebuah perusahaan. Yang dibagian ke seluruh sekolah dari SD-SMA.

Selain 802 SD, 263 SMP-SMA/SMK, buku juga dibagikan ke para pejabat UPTD (Unit Pelaksana Teknis Daerah, pimpinan departemen Pendidikan yang ada di kecamatan) yang membawahi 24 kecamatan, para MKKS (Musyawarah Kerja Kepala Sekolah) yang membawahi 6 kelompok (SMP Negeri dan Swasta, SMA Negeri dan Swasta, SMK Negeri dan Swasta).

Buku juga dibagikan kepada beberapa pejabat terkait, perpustakaan daerah, rumah-rumah baca, seniman, budayawan hampir 300 eksemplar.

Yang paling menggembirakan saya adalah Dewan Kesenian Blambangan (DKB) ikut serta mengambil peran. Menurut Dinas Pendidikan, DKB memohon untuk ikut membuat kajian mendalam mengenai buku-buku yang khusus tentang budaya dan bahasa Using. Termasuk tiga buah buku di atas. Pertimbangannya banyak buku-buku yang akhir-akhir ini beredar di sekolah dengan muatan yang tidak sesuai dengan norma dan nilai yang berlaku di masyarakat.

Sudah seharusnya sebuah lembaga yang mengurus kesenian Blambangan, melakukan hal ini. Saya berharap, hasil kajiannya dipaparkan kepada umum dengan mengundang semua stakeholder Basa Using, semua orang dan lembaga yang berkepentingan dengan hidup matinya bahasa Using yang nasibnya sekarang sedang di ujung tanduk ini.

Sewajarnya DKB melakukan pengkajian pustaka  ini secara rutin dengan memaparkan kajiannya yang mendalam kepada masyarakat sebagai bentuk pertanggungjawaban kepada publik. Karena belakangan banyak buku-buku yang beredar, tentang Banyuwangi secara umum.

Misalnya: Siapa Mereka? Tokoh Seniman dan Budayawan Banyuwangi (Eko Budi Setianto), ada Kembang Pethethan (Yeti Chotimah), Lilin yang Habis Terbakar (Eko Budi Setianto), Sepotong Senja, Sepotong Malam, Sepotong Roti (Taufik Wr. Hidayat) dan judul-judul buku lain yang sekarang sedang dalam proses penerbitan.

Andai kajian pustaka ini dapat digelar rutin, misalnya sebulan sekali, DKB tentu akan menghidupkan salah satu simpul kebudayaan, berdiskusi tentang buku, memberi pencerahan. Pada ujungnya, memberi kontribusi nyata terhadap perkembangan kesenian di Banyuwangi. Serta memberikan iklim berkesenian secara umum yang sehat dan berwawasan mondial.

Senin, 24 November 2014

Ikan segar, bagiak dan festival


Minggu pertengahan November lalu saya pulang kampung ke Banyuwangi, membawa amanah dari Ikawangi untuk Hibah Buku ke sekolah-sekolah di Banyuwangi. Sekalian esoknya saya ikut menyaksikan Banyuwangi Ethno Carnival. Di saat-saat jam makan, selalu saya sempatkan merasakan nikmatnya makan ikan bakar, sego cawuk dan membeli oleh-oleh sale pisang dan bagiak.

Suatu saat saya makan ikan bakar bersama beberapa teman. Saya katakan kepada mereka: berbahagialah yang tinggal di Banyuwangi. Ikannya selalu segar. Hing ana iwak hang manju. Ikan pancingan besar-besar, segar gampang ditemui di pasar Kidul di Biskalan.

Teman-teman yang belum pernah tinggal di kota-kota besar seperti Surabaya atau Jakarta, tentu belum pernah merasakan betapa Banyuwangi begitu dilimpahi banyak kenikmatan oleh Yang Maha Kuasa, yaitu ikan segar yang selalu melimpah. Di Jakarta khususnya, kita selalu makan ikan laut yang pilihannya hanya dua: ikan yang berformalin dan ikan yang sudah berhari-hari mungkin berminggu-minggu disimpan dalam es. Formalin atau sejenisnya, itu adalah pengawet mayat. Di pasar-pasar tradisional, ikan laut selalu bebas dari lalat, karena lalat tidak suka formalin. Rasa ikan, jadinya hambar tidak manis dan berdaging segar seperti di Banyuwangi. Banyak orang Banyuwangi tidak sadar akan hal ini, take it for granted.

Sama halnya dengan oleh-oleh sale pisang atau bagiak. Dua jenis kue yang bagi orang yang tinggal di Banyuwangi, tidak dirasakan sebagai makanan yang istimewa. Untuk orang-orang Banyuwangi yang sekarang tinggal di luar tanah kelahirannya, dua jenis kue itu membawa banyak kenikmatan. Seakan saat makan sale dan bagiak, mengingatkannya akan indahnya kampung halaman, melepaskan dahaga rindu akan kampung halaman.

Jadi orang Banyuwangi harus disadarkan bahwa mereka punya ikan yang segar, kue yang enak dan makanan yang kelasnya bisa disejajarkan dengan jenis oleh-oleh dari daerah lain. Tentu dengan kemasan yang bagus.

Pada saat yang sama, saya sering mendengar keluhan teman-teman yang punya kepedulian tentang Banyuwangi, bahwa anak-anak muda di Banyuwangi, malu menggunakan bahasa Using. Pada saat mereka keluar Banyuwangi, misalnya untuk kuliah di luar kota, mereka baru merasakan betapa mereka punya suatu bahasa yang sangat bisa dibanggakan. Bahasa yang tidak kampungan, dan bisa sejajar dengan bahasa lain. Bahkan ada kebanggaan tersendiri, kalau di luar sana, berbicara bahasa Using dengan teman sekampung. You don’t know what you got until it’s gone. Anak-anak muda yang malu menggunakan bahasa Using ini, tidak tahu betapa mereka punya sesuatu yang bisa dibanggakan, dan baru merasakan betapa berharganya, saat sesuatu itu sudah hilang. Anak muda harus ditumbuhkan kebanggaannya menggunakan bahasa Using.

Sama halnya Banyuwangi Ethno Carnival (BEC). Konsep semula memang BEC ini dibikin seperti Jember Fashion Carnaval, karena otaknya orang yang sama. Ini yang menurut saya salah besar. Dengan segala hormat, Jember tidak punya akar kebudayaan seperti Banyuwangi yang kaya. Makanya festival yang mereka bikin adalah mengekor Carnival de Rio (walau dengan modifikasi), sehingga temanya misalnya Musim Dingin. Apa yang ada di benak orang Jember ketika disodori Musim Dingin? Mungkin yang ada dipikiran mereka, Musim Bediding, saat ayam banyak yang mati. Tetapi tetap bisa muncul karena mereka tidak punya akar.

Meski akhirnya BEC, diberi sentuhan lokal, misalnya tema Kebo-keboan, atau Seblang, warna JFCnya masih terasa. Jenis festival-festivalan seperti ini, pada saat ditiru di daerah lain, misalnya di Solo, Semarang, Pekalongan, Situbondo, Buleleng Bali, jadi kehilangan keunikannya. Pada saat anda disodori foto dari festival Buleleng dengan Situbondo, anda tidak akan tahu bedanya. Setali tiga uang dengan BEC.

Orang-orang Banyuwangi perlu disadarkan, betapa mereka mempunyai kebudayaan yang sangat kaya, yang sangat bisa ditingkatkan kelasnya ke nasional bahkan internasional. BEC akan dijadikan kalender pariwisata nasional, karena menterinya kebetulan dari Banyuwangi.
Yang sangat disayangkan, mengapa pilihannya ke BEC, bukan Festival Kuwung yang lebih tradisional, yang punya ciri kebanyuwangian yang kental. JFC, BEC atau carnaval-carnival lainnya akan sangat gampang diamati, ditiru, dan dimodifikasi (ATM) oleh daerah lain, dan akan kehilangan identitasnya karena semuanya seragam. Kenapa bukan Kuwung? Entahlah itu memang sebuah pilihan. Sekali lagi, yang saya lihat kita take for granted dan tidak sadar apa yang kita punya karena hal tersebut belum hilang dalam genggaman kita. Apakah itu kesenian tradisionalnya, apakah itu bahasa Using, apakah itu banyaknya ikan segar di pasar.
 
Saya lebih memilih Festival musik keplakan, yang bisa mengundang pemusik dari berbagai daerah juga, daripada jazz. Atau Festival Tabuhan Caruk, yang sangat atraktif, dan sebentar lagi mungkin tinggal kenangan, karena minimnya tanggapan.

Senin, 03 November 2014

The Imminent death of Banyuwangi’s Using Language

“Tiada bahasa, bangsa pun hilang (Without a language, a nation is lost), so goes the catchphrase of national hero Muhammad Yamin.

   As we commemorate the Youth Pledge of 1928, when our founding fathers declared Indonesian the unifying language, the future of the almost one million Using language speaking people of Banyuwangi in the eastern tip of Java is at stake.

   Banyuwangi in East Java is known for its unique culture which seems to have been uprooted from else where compared to the neighboring regencies.

  The traditional music, the rituals, and the language are totally separated from the rest of other Java’s regencies.

   Its literature mostly spoken form of poem, featured widely in rituals such as (trance dance) Seblang or erotic Gandrung dance, is uttered in Using language. And even charmed spells, locally known as ‘santet’ which Banyuwangi is also famous for, is done in Using language.

   Thanks to the die-hard supporters among others the late Hasan Ali, the local Using language has been officially learnt in the classrooms since 2007. Ali, the father of popular singer-cum-senator Emilia Contessa, also wrote a local 24,000-entry Using-Indonesian dictionary and also a book of Using grammar.

    Using language which was initially considered as a dialect of Javanese language, has been identified as a language of its own since 1987. Udayana University lecturer, Suparman Herusantosa, in that year wrote a thesis entitled “Using Language in Banyuwangi Regency”, for his doctoral degree from University of Indonesia in Jakarta.    

   Herusantosa said that Javanese and Using language genealogically share the same root. After studying words of Using language and Javanese, Herusantosa found that the two languages come from the same root but had developed on its own separate courses.

   But the dark time lingers over the fate of Using language. Gubernatorial Decree No. 19/ 2014 issued in April this year, states that the government recognizes only two local languages in East Java. Javanese, spoken in middle and western part of East Java and Madurese, a language spoken in the island Madura and in the regencies of Jember, Bondowoso, Situbondo and along northern coastal areas of the province.

  The two local languages will be the only ones to serve as mandatory local languages taught in schools.

   The decree defies an earlier recommendation from a Congress of Javanese Language in October 1996 which states that in principle Using language may be taught in schools as a local language.

   The recommendation was signed by Drs. Atlan, the then head of provincial education and culture agency of East Java.

   The Regional Legislative Council issued similar recommendation which promoted Usling language as part of the curriculum. Even the ministry of Education and Culture in Jakarta has permitted the teaching of the local language in schools.

   Using language is the soul of the Using people who considered themselves separated from their Javanese cousins.  Geographically Banyuwangi is separated from other Javanese regencies, with Baluran forest in the north, Ijen mountains in the west and Kumitir forest in the south and Bali Strait in the east.

   Blambangan, an ancient kingdom in the area now called Banyuwangi, was known for its fierce resistance to both the Dutch and Mataram kingdom of Central Java. The Dutch colonial rulers brought in thousands of people from Java and Madura to fight against  Banyuwangi people.

   The refusal to cooperate with the Dutch has created once a derogatory term ‘Using’ which means ‘No.’ From then on, the Dutch labels the locals as “Usingers”.

   The geographical situation has created isolation. Unlike Javanese language which has structural functions to address to different people of different social ranks, Banyuwangi’s Using language remain egalitarian without any “polite form.”  

   In its cultural perfomances, Banyuwangi’s culture does not draw a line to separate its art forms, unlike Javanese culture which differentiates between the refined art of the palace and the art of common people. Banyuwangi gamelan (traditional musical instrument) runs very fast compared to the slow style of Java’s gamelan.

   The most recent gubernatiorial decree has sparked an outcry from several prominent figures in Banyuwangi. One of them is Hasnan Singodimayan who says the days of Using language are numbered.

   “Once it is ousted from schools, the people of Using will soon be wiped out. The culture will not survive without its language,” Singodimayan who is also a leading novelist and guardian of Banyuwangi’s culture.

   Without any help from the local government, the language will soon be neglected and forgotten. “The decree will speed up the process.”

   The death of Gandrung, and other rituals  such as the Seblang trance danceand Kebo-Keboan is inevitable, simply because they use Using language.


The Jakarta Post 1 Nov 2014

Jumat, 31 Oktober 2014

Ilustrasi ring buku Kembang Ronce Cerita Cendhek Basa Using 2014

Ilustrasi ring buku Kembang Ronce, Cerita Cendhek Basa Using 2014,
digarap seru apike ambi kang Taufik Shaleh alias Majun bin Bahlul

Mahar (Paling Apik Nomer 1, Umum), Ratna Laros 

Keseret Jaran Goyang (Paling Apik Nomer 2, Umum), Moh. Syaiful


 
Getun (Paling Apik Nomer 3, Umum), Nur Holipah
 
 
 
 
Gandrung Warung Kopat (Paling Apik Nomer 1, SLTP), Nilam Sari
                      

                                                      
                                    Cemeng Manggis (Paling Apik Nomer 2 SLTP), Nur Aini


                                                                                                                                                                          

                                                              
Petang Sapi ambi Macan (Paling Apik Nomer 3, SLTP): Moch Nashir Idham Khalid

Kamis, 30 Oktober 2014

Sinau Nulis Cerita Cendek (2)


Sinau Nulis Cerita Cendhek Basa Using (2)

Hang disinauni: Sing Bisa Lali

Salah sijine naskah hang dikirim dienggo Lomba Nulis Cerita Cendhek Basa Using 2014

 

Ati-ati ambi logika basa:

(Naskah asli) Unine manuk-manuk mulai ngoceh ring ndhuwuran pas serngenge arep njumbul. Hing kerasa iki wis subuh. Uwong-uwong padha tangi kabeh, arep melaku nang masjid. Isun magih enak ayem ring peturon ambi ngucek-ngucek mata. Sak marine adzan, isun buru adus. Awak gemigil sing ketulungan ngerasakaken banyu hang adhem kaya es. Taping masiya gedigu, bisa nggawe seger nang awak. Marine sembahyang, isun langsung mapan maning ring peturon. Mula wis, kadhung hawa adhem wayah subuh iku, enake turu. Paran maning kadhung wis nyandhing selimut. Arep tandang gawe aras-arasen, mata rasane abot arep melek.

1.     Unine manuk-manuk mulai ngoceh ring ndhuwuran pas serngenge arep njumbul.

               Pitakonan: Hang ngoceh iku manuk tah unine?

              Enake bisa: Unine manuk-manuk seru ramene....

Utawa: Manuk-manuk mulai ngoceh...

              Utawa: Manuk ngoceh unine seru ramene...

2.     Ring ndhuwuran, ndhuwuran paran? Mestine uwit-uwitan ya? Utawa ning ndhuwur umah?

3.     Sing ketulungan: nong kamus hing ana ucap: ketulungan. Mula kudu ati-ati, ambi ujar basa liyan.

(Naskah edhit) Unine manuk-manuk ngoceh ring uwit-uwitan ndhuwur pas serngenge arep njumbul seru ramene. Hing kerasa iki wis subuh. Uwong-uwong padha tangi kabeh, arep melaku nang masjid. Isun magih enak ayem ring peturon ambi ngucek-ngucek mata. Sak marine adzan, isun buru adus. Awak gemigil  ngerasakaken banyu hang adhem kaya es, masiya gedigu, bisa nggawe seger nang awak. Marine sembahyang, isun langsung mapan maning ring peturon. Mula wis, kadhung hawa adhem wayah subuh iku, enake mung dienggo turu. Paran maning kadhung wis nyandhing selimut. Arep tandang gawe aras-arasen, mata rasane abot arep melek.


Ati-ati pisan ambi ucap-ucap basa liyan utawa ucap kang wis ana padhanane ring Basa Using:

1.       Mic wis ngadheg jejeg, terus hun pites tombole. Mic ring Basa Using ditulis mik. Tombol hang dimaksud kenop. Kadhung tombol iku nang Basa Using aran nangka enom.

2.        Komputer wis murup. Hing ana ujar murup nong Basa Using (iki Basa Jawa). Hang ana urip.

3.       Tangan ambi utek-utek komputer. Utek=otak. Nawi hang dikarepaken, nguthek-uthek. Ring Basa Using, aksara hang dienggo yaiku:

Vokal: a, e, i, o, u

Konsonan: b, c, d, dh, g, h, j, k, l, m, n, ng, ny, p, r, s, t, th, w, y

(Buku Lancar Basa Using kanggo kelas 4)

Dadi utek beda ambi uthek

4.       Ngengkel (iki Basa Jawa): hang ana mempeng.

5.       Bumbu, hang apikan lan kerasa Usinge, ragi.

6.       Ngelamun: mata walangen

7.       Mas Yoga: Mestine Kang Yoga. Taping mula ana lare-lare Using hang nyeluk nyang uwong Jawa, Mas. Kudune dijelasaken Mas Yoga iku sapa, apuwa diceluk Mas dudu Kang.

8.       Makene diweruhi uwong akeh. Lebih enak nganggo ujar moncer.

9.       Sebelah/samping: (iki Basa Jawa lan Basa Indonesia). Hang ana sandhing.

Selasa, 28 Oktober 2014

PR Bahasa Indonesia hang paling abot

Iki salah sijine cerita hang ana ring Markas Ketelon. Buku kumpulan cerita hang akehe 19 judul iki, hang arep dibagi nong SD sak Banyuwangi, kesuwun nyang ngersayane uwong-uwong Ikawangi Jabodetabekgon. Masiya gedigu, hang kepingin tuku, ya ana hang dicetak dhewek, dudu dipicisi Ikawangi.
   Dienggo lare-lare SD, ana ujar-ujar hang rada sara, dadi hun wani catetan ring ngingsor saben-saben halamane.


                                                      

 
PR Bahasa Indonesia hang paling abot
 
Nawi melaku setengah melayu metu teka umahe. Ring tangane uwis ana sak jumput beras. Beras jumputan uwis dadi kuwajiban lalare hang arep menyang Markas Ketelon. Beras iki hang engko dikelumpukaken. Kadhung uwis sekilo, arep ”diedol” nyang salah siji uwong tuweke hang mbutuhaken.
   Sakliyane Nawi, hang apake megawe ring kantoran lan emake dodol sego rawon lan pecelan, lalare Markas hing tau diuwani sangu sekolah. Emake Ahim lan emake Osok paceke nggawani rantang bontot dienggo sangu sekolah. Dadi jak loron hing bisa nyejekaken[1] picis sangune.
   Emeh gadug Markas Ketelon, Nawi uwis ndeleng Osok lungguh ring ngarep Markas. Endhase temungkul ring antarane dhengkule. Tangane meluk sikile.
   Osok hang pawakan awake mula cilik, tambah katon cilil. Tambah parek Nawi nyang Markas, iyane tambah weruh gok kancane iku mbrebes mili.
   Hing kaya biyasahe, ambekana anake uwong hing duwe, Osok hing tau nangis. Paran maning nangisi melarate.
    Edheng-edheng Nawi lungguh njejeri. Tangane ngerangkul nyang pundhake kancane. Cangkeme cep hing ngomong paran-paran, makene kancane nerusaken tangise. Ngetokaken kabeh masalahe.
   Hing patiya suwi Ahim njumbul. Nawi ngewani isyarat, makene kancane hing nggudha Osok.
    Pungkasane jak telon lungguh ring ambal-ambalan Markas. Sikil gemantung. Rada suwi hing ana hang ngetokaken suwara. Cumpleng[2], mung ana silire angin. Pungkasane, Osok hang ngawiti omongan ambi nyeka iluhe. Matane tambah katon jelekong.
   Byek, isun duwe masalah gedhi.”
   Masalah paran? Durung mbayar sekolah tah?” pitakone Nawi.
   Osok gedheg.
   ”Digudha kanca sekolah tah?” jare Ahim milu takon.
   Osok gedheg maning.
   Isun ana PR Bahasa Indonesia,” gedigu jare Osok, serta cangkeme mangap.
   Hing kerasa, Nawi ambi Ahim, ngakak seketane[3].
   “Hahaha.”
   Osok nyontok pokange kancane.
   Rungokaken sulung tah. Iki PR hang abot. Seru abot temenan,” jare Osok.
   Osok larene patheng lan seregep, mulane padhang pikire[4]. Iyane paling gancang kadhung marekaken tugas sekolah. Malah Nawi lan Ahim hang paceke takon nyang iyane kadhung ana pelajaran hang rada sara ring sekolah. Dadi, ya rada hing mupakat kadhung alasane mung PR iku mau.
    Saben pelajaran mengarang, Osok paceke ulih biji hang paling apik. Iyane seru pintere ngetap ujar-ujar dadi ukara hang endah.
   ”Judhule: Pekerjaan Ayahku.”
   Kancane keloron mara-mara celakep. Kabeh bisa ngerasakaken abot sanggane kancane. Kabeh anggota Markas kudu bisa nggendhong indit[5] ambi kancane.
   Apake Osok, Man Imik, mung tukang sampah. Paran hang arep diceritakaken bab tukang njuwut dheket? Klambine hang kemproh? Awake hang mambu? Tah tangane hang kapalen? Gerobage bain ibarate uwis kaya lebuh[6] hang kudu dialesi. Uwong-uwong paceke nekepi bacot kadhung tepak diliwati. Paran hang kudu diceritakaken Osok? Hing ana sithik-sithika blas hang bisa nggawe atine mongkog.
   Sok, Sira tau milu apakira njuwut dheket tah?” takone Nawi.
   “Durung tau. Masiya sepisana sing tau,” jawab Osok. “Saktemene isun ya kepingin, taping hing tau ulih ambi apak.”
    “Makene Apak bain hang njuwuti dheket. Sira sinaua bain hang patheng. Lan aja sampik anakisun dadi tukang njuwut dheket pisan. Sira kudu dadi uwong hang pinter,” gedigu Osok nerokaken semaure bapake.
   Mara-mara Nawi ngajak,”Kesuk kan prei. Ayo kabeh milu ngersaya nulungi Man Imik, ambi ndeleng, saktemene paran penggaweane Man Imik iku. Aja lali idin sulung nyang emak ya.”
   Marek iku kabeh bubar, mulih nyang umahe dhewek-dhewek.
   Kisuke meruput[7], lare telu uwis milu Man Imik. Gentenan ulihe njuwut dheket hang diwadhahi temba ring umahe uwong-uwong, diuncalaken nyang gerobag.
   Ambune dheket aja takon. Taping sing pati suwi, ambune uwis rada ilang kerana uwis biyasah.
   Kala-kala, ana tangga-tangga hang mesam-mesem ndeleng tingkahe lalare jak telon iku. Ambi gendhingan, lare telu iku njuwuti dheket.
   Ana salah sijine warga, Bik Lehak, hang ngewani ngombe. Liyane ana pisan hang ngelungaken gedhang.
“Wah...Man Imik uwis duwe asisten saiki? Kesuwun ya lare-lare,” jare Bik Lehak. “Kadhung sing ana Man Imik, isun paceke ngelu, dhekete hing ana hang njuwut.”
Tangga liyane, Bik Asiyah, ninggali pesen: “Man Imik, aja lali ya, dina Minggu ngerijigi suket nang latar.”
Nggih,” sahute Man Imik.
Emeh jam sanga, uwong papat uwis gadug ring lebuh, panggonan buwang dheket.
Man Imik ngampeti dheket pelastik lan ngelumpukaken ring karung.
”Agih, tulungana njuwut romot pawon iki, lebokaken nyang karung hang iki,” Man Imik ngongkon lare ketelon.
Sedhilutan bain, uwis marek, kerana dilakoni bareng.
Katone Man Imik ngamet dheket bahan pelastik lan terus diedol. Lan romot pawon, sisa tugelan janganan, dikelumpukaken dienggo kompos[8], hang arep diedol pisan.
Nyak...kek iki dienggo Sira ketelon,” jare Man Imik, ngelungaken picis kenthing. “Kesuk, hing kathik nulungi maning ya. Makene Man bain hang njuwut.”
Lare ketelon padha girang, mulih. Utamane Osok. Iyane saiki uwis weruh bapake duwe tugas hang penting. “Bapakisun dudu mung tukang njuwut romot,” batine.
Uwong-uwong padha bingung kadhung bapake prei megawe. Kadhung bapake kadheman lan hing ana uwong hang njuwut romot seminggu, dheket numpuk sak arat-arat.
Bapak ya ulih upah, lan ulih picis pisan teka ulihe ngadol romot pelastik. Picis halal. Paran maning, bisa ngurangi polusi lingkungan. Bapak ulih pisan picis tambahan teka ngadol kompos nyang tangga-tangga. Ulih persenan teka ngerijigi suket lan ndandani taman-taman tanggane.
Ring batine Osok, uwis ana judhul karangan dienggo PR Bahasa Indonesia hang paling abot.
”Ayahku pahlawan lingkungan.”
Bapakisun hing mung tukang romot. Malah bapak dudu tukang romot. Tukang romot mung bisane buwang dheket. Bapakisun hang tukang njuwuti dheket. Bapakisun nyelametaken lingkungan. Lan kerana tangane bapakisun, akeh uwit-uwitan tangga hang dadi subur kerana diwani emes[9] sehat. Dudu emes kimia gawenan pabrik.
Osok ya kudu kesuwun pisan nyang kancane keloron hang uwis nulungi iyane nemokaken jawabe.
Jak telon mandheg ngombe dhawet ring rombonge Man Misran, ring ngingsor uwit Nyamplung gedhi ring parek lurung, mbayar ambi picis hang diwani Man Imik.
Aja lali wisuh sulung,” Nawi ngengetaken kancane.
Jak telon seru girange bisa tuku dhawet mbayar dhewek ring dina hang panas.
Man Misran,  malah ngimbuhi dawete setengah gelas maning. Nawi iyane milu ngerasakaken pisan girange lalare jak telon iku.
“Kesuwun nggih Man Misran,” jare Ahim. “Weruh digu, mau tukune setengah bain, imbuhe sak gelas,” nggawe kancane milu gemuyu.
“Dina iki mbayar, kesuk gratis,” jare Man Misran.
“Saestu tah Man,” jare Ahim rada hing percaya.
“Iya, kesuk ya digu maning. Dina iki mbayar, kisuke gratis,” saute Man Misran ambi munyik nggeridho lare-lare.
 “Hahaha...hun tanggo temenanan. Kisuk uwis emeh arep mampir merene maning,” jare Ahim. Kancane mung bisa mesem.



[1] nyejekaken: memisahkan; menyisihkan
[2] cumpleng: sepi; lengang; sunyi
[3] seketane: sekuat-kuatnya
[4][4] padhang pikire: pandai; cerdas
[5] gendhong indit: saling menunjang; saling menanggung
[6] lebuh: tempat membuang kotoran atau sampah
[7] meruput: pagi sekali
[8] kompos: pupuk campuran yang terdiri dari bahan organik seperti daun dan jerami yang membusuk dan kotoran hewan
[9] emes: pupuk

Minggu, 12 Oktober 2014

Lonceng Kematian Bahasa Using

Dimuat di Jawa Pos nasional 12 Oktober 2014 halaman 4


Di mana posisi Bahasa Using, yang merupakan bahasa daerah di Banyuwangi, dua tahun mendatang? Lonceng kematian untuk Bahasa Using itu berdentang kencang.

   Bulan April lalu, Peraturan Gubernur Jawa Timur no. 19 tahun 2014 tentang Mata Pelajaran Bahasa Daerah sebagai Muatan Lokal wajib di sekolah/Madrasah, menyebut bahwa bahasa daerah di Jawa Timur hanya terdiri dari Bahasa Jawa dan Bahasa Madura.

   Peraturan ini sama dengan menafikkan keberadaan Bahasa Using yang sudah diajarkan di sekolah SD/Ibtidaiyah dan SMP/Tsanawiyah sejak tahun 2007.

   Aturan inipun tidak mempertimbangkan rekomendasi menyusul Kongres Bahasa Jawa bulan Oktober 1996, yang menyetujui pada tingkat provinsi Jatim bahwa pada prinsipnya Bahasa Using dapat diajarkan sebagai bahasa daerah.

   Seperti ditulis oleh sarjana Belanda Bernard Arps (Terwujudnya Bahasa Using di Banyuwangi dan Peranan Media Elektronik di dalamnya, 2010), bahwa Bahasa Using direkomendasikan sebagai bahasa daerah yang diajarkan di sekolah.

   Setelah rekomendasi yang dikeluarkan oleh Drs. Atlan, kepala Kantor Wilayah Dep. Pendidikan dan Kebudayaan Jawa Timur saat itu, DPRD Banyuwangi pun melakukan hal serupa.

   Bahkan pada tahun 1997, menteri Pendidikan dan Kebudayaan mengizinkan pengajaran Bahasa Using.

   Bagaimana mungkin peraturan gubernur melewatkan fakta-fakta di atas?

   Tadinya memang bahasa Using disebut sebagai dialek Jawa. Seperti banyak pemahaman yang diyakini oleh penutur bahasa Jawa di tempat lain. Tetapi Suparman Herusantosa dalam disertasi doktornya di Universitas Indonesia, berjudul Bahasa Using di Kabupaten Banyuwangi (1987), menemukan bahwa Bahasa Using dan Bahasa Jawa sejajar secara genealogis bahasa, yang merupakan perkembangan dari bahasa Jawa kuno.

   Dengan meneliti berbagai kata-kata Using dan Jawa, Suparman berkesimpulan dua bahasa tersebut akar bahasanya sama, tetapi masing-masing berkembang pada jalannya sendiri.

    Bahasa Using sebagai identitas adalah sebuah hal mutlak untuk eksistensi masyarakat Banyuwangi yang secara kasat mata memang mempunyai budaya yang berbeda dengan masyarakat Jawa pada umumnya.

   Dalam berbahasa, Jawa penuh dengan basa-basi dibanding dengan Using, yang belaka suta, apa adanya. Tidak seperti Bahasa Jawa, Bahasa Using egaliter, memakai bahasa yang sama tanpa membedakan manusia dari kasta, jabatan, posisi atau kekayaan. Kalau pun ada bahasa halus (besiki), itu karena masih kuatnya budaya kerajaan Blambangan , yang telah dihapuskan oleh VOC pada tahun 1772, serta kuatnya pengaruh alim ulama yang menggunakan bahasa Besiki.

   Demikian juga kesenian Banyuwangi berbeda dengan kebudayaan Jawa, budaya feodalisme keraton yang membedakan budaya keraton dengan budaya kawula alit. Kebudayaan Banyuwangi berasal dari aktivitas spiritual yang tidak membedakan kebudayaan keraton dan kawula alit. Seperti yang terjadi pada jaman Majapahit atau Bali atau kebudayaan pesantren.

  Gamelan Jawa berirama lamban dibanding gamelan Banyuwangi yang bergerak sangat cepat.

   Sejak tahun 1997, Tata Bahasa Baku sudah ada, ditambah buku pelajaran sekolah, bahan bacaan pengayaan, maupun Kamus Bahasa Daerah Using-Indonesia yang ditulis oleh almarhum Hasan Ali, ayah penyanyi Emilia Contessa.

   Sehingga Peraturan Gubernur yang sewenang-wenang ini makin mempercepat proses kematian Bahasa Using. Sebelumnya sudah ada aturan dalam Kurikulum 2013 yang mengharuskan seorang guru tingkat SMP mengajar mata pelajaran sesuai dengan keahliannya. Sehingga, untuk bahasa Using sebagai muatan lokal, tak seorang gurupun yang dapat mengajarkannya karena tak seorang pun yang bergelar sarjana Bahasa Using.

   Dan sejak tahun 2013 itu, seluruh SMP di Banyuwangi sudah meniadakan pelajaran Bahasa Using. Ke depan, pada tingkat sekolah dasar pun, tidak diketahui apakah akan ada mata pelajaran bahasa daerah ini sebagai muatan lokal.

   Tanpa aturan yang membela keberadaannya, masa depan Bahasa Using sudah suram. Secara teori, peraturan itu mengancam keberlangsungan bahasa Using, sesuatu yang sangat bertentangan dengan rumusan para founding fathers negara ini. Yaitu kebudayaan Indonesia adalah sumbangsih puncak-puncak kebudayaan lokal. Suatu hukum besi yang memberi ruang kebudayaan daerah untuk maju pesat.

  Artinya, kegelapan yang sama mengintai pada eksistensi masyarakat etnik Using Banyuwangi yang berjumlah hampir satu juta orang. Sebuah jumlah yang sangat signifikan untuk mempertahankan identitasnya.

   Tanpa Bahasa Using sebagai pelajaran, kematian Bahasa Using semakin cepat. Dan kematian bahasa ini ke depan akan memusnahkan kesenian Gandrung, misalnya. Karena lirik-lirik lagu dalam kesenian Gandrung atau upacara-upacara tradisional lainnya misalnya ritual trance Seblang, Kebo-keboan dan ritual lainnya, menggunakan bahasa Using.

   Pada akhirnya, keberadaan masyarakat Using yang menjadi sasaran.

   Karena kebudayaan Using/Banyuwangi adalah sebuah kebudayaan yang berakar pada peradaban Blambangan atau Majapahit Kedaton Timur, maka sepatutnya seluruh masyarakat yang peduli dengan kebudayaan Majapahit untuk bergerak, berjuang mempertahankan peradaban ini.

   Save bahasa Using, save uwong Banyuwangi, save peradaban Blambangan.