Kamis, 07 Mei 2015

Catatan tentang protes DKB terhadap Pemprov Jatim

Saya mendukung protes keras Dewan Kesenian Blambangan (DKB) kepada Gubernur Jawa Timur yang menerbitkan peraturan Nomor 19 tahun 2014, karena tidak mengakui Basa Using sebagai mata pelajaran bahasa daerah. Bahasa yang diakui hanya Bahasa Jawa dan Bahasa Madura. (tempo.co 6 Mei 2015)

Salut juga untuk DKB yang akan memboikot kegiatan-kegiatan seni-budaya yang digelar oleh pemerintah Jawa Timur. Dengan tidak memasukkan bahasa Using sebagai muatan lokal, Gubernur Soekarwo dianggap tidak mengakui budaya Banyuwangi.

Banyuwangi, yang kental dengan adat, tradisi dan kesenian punya andil memperkaya wajah Jawa Timur. Dan sudah seharusnya mendapatkan perhatian yang lebih tentang bahasanya. Karena adat dan kesenian Banyuwangi, berhubungan erat dengan bahasanya. Gandrung tidak akan hidup, tanpa bahasa Using, karena gending-gending Gandrung dilagukan dengan bahasa tersebut. Seblang tidak bisa terlaksana kalau bahasa Using hilang.

Dengan tidak diakui sebagai pelajaran daerah, Bahasa Using makin cepat menuju liang lahatnya. Sejak 2007, Basa Using diajarkan di sekolah, SD maupun SMP. Saat ini hanya diajarkan di sekolah dasar kelas 4,5, dan 6. Sementara di SMP, dengan kurikulum 2013 yang tidak mengakui guru yang tidak punya kompentensi sesuai dengan mata pelajaran yang diajarkan, bahasa Using lebih dulu dihapuskan mata pelajaran basa Using. Memang, sampai saat ini belum ada sarjana Bahasa Using, jadi tak seorang pun bisa menjadi pengajarnya. Sesederhana itu.

Bahasa Using mulai diperjuangkan masuk pelajaran sekolah sejak awal 2000an. Almarhum Pak Hasan Ali menyusun buku Tata Bahasanya, aturan Ejaannya, sampai menyusun Kamus Bahasa Daerah Using-Indonesia, yang memuat sekitar 24.000 entry.

Perlu dicatat, buku pegangan pelajaran SD, hanya ada masing-masing satu buku pelajaran di masing-masing level kelas yang diterbitkan tahun 2005 oleh Pemda. Ada juga dua buah buku pengayaan berupa Dongeng Cerita Rakyat Banyuwangi (2002) dan buku Unen-Unen Basa Using (2003).

Setelah itu, pemda Banyuwangi sendiri seperti tidak punya kepedulian. Dalam 5-6 tahun terakhir, tidak ada pelatihan sekali pun untuk guru-guru bahasa Using. Tidak ada buku-buku baru sebagai pelajaran bahasa Using. Tidak ada buku pengayaan untuk anak-anak sekolah. Tidak ada bentuk karya tulis, misalnya cerpen, puisi, novel, majalah yang diterbitkan. Setelah anak-anak belajar di sekolah, lantas apa? Karena bahasa tidak hanya diajarkan sebagai mata pelajaran, lantas berhenti di dalam kelas. Apalagi sebagai mata pelajaran, bahasa Using relatif baru. Perlu usaha ekstra keras untuk ikut mendudukkan bahasa Using menjadi pelajaran yang mapan.

Dengan terbitnya pergub di atas, pemerintah daerah Banyuwangi makin punya alasan, untuk tidak menganggarkan pengembangan bahasa Using. Lengkaplah sudah proses menuju kematian bahasa Using. Kalau kita peduli, mestinya kita melakukan sesuatu. Mulai dari yang kecil, menggunakan basa Using di rumah, ikut menulis dalam bahasa Using, ikut membuat karya tertulis bahasa Using. Kadung duduk awak-awak hang nguri-nguri sapa maning?
Jadi selain "menyalahkan" orang lain dalam hal ini pemprov Jawa Timur, pemerintah daerah Banyuwangi harus instropeksi mengenai perlakuannya yang membuat kematian bahasa Using lebih cepat.

Jumat, 01 Mei 2015

Catetan ring Lomba Nganggit Cerita Cendhek Basa Using 2015

Isun girang temenan, ring edhisi nomer telu Lomba Mengarang Cerpen Berbahasa Using 2015, wis melebu proses ngewani biji. Proses sedurunge yaiku Lombane, wis ditutup nubengi 30 April 2015 jam 12 bengi.

Isun, makili panitiya, ngelungaken terima hang gedhi nyang kabeh uwong hang uwis ngirimaken karyane. Ana hang ngirim siji ana hang loro, ana uga hang telung judul. Hang nggawe girange ati, jumlah hang milu, nambah timbang hang taun soren.

Tingkat SD, padha ambi hang taun soren, loro pisan. Syarat hang digawe panitia, saben kategori paling sithik pesertane ana limang karya. Dadi, kerana mung loro, tingkat SD iki dipilokaken nyang SMP.

Tingkat SMP, hang taun soren mung lima, saiki ana 11. Lan hang nggawe dhemen maning, SMP teka Rogojampi lan Purwoharjo hang akeh karyane. Masiya tah wis, panggonan-panggonan hang akeh uwong Usinge, kayata Banyuwangi, Cluring, Gintangan, Glagah, Licin, Kabat hing patiya ana abane.

Tingkat SMA, hang taun soren kurang teka lima, sampek diwurungaken lombane, lan pungkasane dipilokaken nyang tingkat Umum, saiki ana 10 naskah, lan apik-apik kabeh. Kadhung hun dileng sak klerepan, wis nduweni rasa cerpen hang enak diwaca.

Tingkat UMUM, ya semono uga, ana 28 peserta, munggah timbang taun sedurunge hang 26 jumlahe.

Lan wis kaya lomba sedurunge, para juri iki hing weruh judul iki penulise sapa. Dadi pas ngewani biji, bener-bener temenanan.

Hang dibiji ring Lomba iki: 1. Struktur cerpene (penokohan, alur cerita lll) 2. Basa Using (kelendi ejaane, ungkapane lll) 3. Inti ceritane duweni pelajaran hang apik tah sing (moral of the story)

Marek diwani biji, juri namtoaken, limang karya hang duweni biji paling dhuwur. Marek digu juri, rapat maning namtoaken, sapa hang paling apik nomer 1,2,3. Kerana iki sastra lan hubungane ambi rasa, ambi ati, hing ana hang arane pemenang. Hang dipilih hang paling apik. Istilahe, masiya karyane elek kabeh, ya dipilih hang paling apik hang endi. Lan hang milih iku ya menungsa pisan, dadi ana hang lebih dhemen tulisane hang kaya gedigi, kaya gedigu ya maklume wis. Taping juri ya wis nduweni karep, endi hang paling apik iku hang didadekaken juwara. Kurang lupute, terimonen bain, hing ana surat-suratan, gugat-gugatan.

Hang sing dadi juwara aja ngersula sulung. Saben peserta engko ya ulih piagam. Lan kadhung karyane apik, muga-muga bisa melebu nyang buku: Kembang Ronce Cerita Cendhek Basa Using 2015, hang Insyaalloh diterbitaken ulan November tah Desember.

Antenana asile, lan tekanana acara pengumuman pemenange tanggal 9 Mei 2015 jam 08.00 isuk ring Pelinggihan Dinas Kebudayaan dan Pariwisata, Jalan A. Yani 78 Banyuwangi. Tepak acara iku, ana pisan Peluncuran Kumpulan Cerita Cendhek Basa Using, hang dianggit Moh. Syaiful lan Nur Holipah: Jala Sutra.

Hang sing bisa teka ring acara mauka, bisa dileng pengumumane ana ring grup Facebook: Cerpen Osing.

Kadhung, kedadiyan akehe peserta saben tahun nambah terus, basa Using tambah dadi sagah, tambah gagah, tambah urip, tambah moncer. Kadhung hing awak-awak hang nguri-uri basa Using, sapa maning, yara? Ayo wayahe manjer kiling basa Using. (iwandear@gmail.com)

Selasa, 21 April 2015

Telah Lahir Tokoh Sastra Using Muda



 
Perasaan bangga dan hati berbunga-bunga campur aduk saat membaca naskah kumpulan cerpen bahasa Using, yang akan diterbitkan dengan judul Jala Sutra. Kumpulan cerpen ini, hasil kolaborasi dua orang tokoh sastra muda Using – Moh. Syaiful dan Nur Holipah – yang sudah berulang kali juara dalam Lomba Mengarang Cerpen Bahasa Using.

Saya mengucapkan selamat, kepada kedua orang tersebut, karena karya ini saya pikir menjadi salah satu tonggak karya sastra berbahasa Using.  Sebelumnya bahasa Using hanya melahirkan satu dua karya novelet, novel, dan serial serta kumpulan cerpen dari beberapa orang.

Kenapa bangga? Selain karyanya yang menarik dan sangat kental ke-using-annya, saya menemukan beberapa kata, yang belum tercatat di kamus. Memang itulah salah satu tugas orang Blambangan/Banyuwangi: menyempurnakan kamus Using-Indonesia yang sudah susah payah disusun oleh almarhum Hasan Ali.

Kumpulan cerpen yang direncanakan terbit dan diluncurkan tanggal 9 Mei 2015 ini, saya pikir menjadi salah satu karya yang sangat penting untuk perkembangan bahasa Using ke depan. Mereka berdua ini saya perkirakan tokoh sastra Banyuwangi yang punya cerpen basa Using lebih dari lima judul.

Kata-kata baru dalam kumpulan cerpen yang belum termuat di kamus itu antara lain:

Mencirak (bangun dengan mata terbelalak), manuk begug (dalam bahasa Using lain ada yang menyebut manuk engguk, burung hantu), gencret (sejenis burung), nubengi (tadi malam), godor (ukuran cetakan gula merah), jemparing (anak panah), cemiklak (panas terik), melimbung (pikiran: terbang ke sana ke mari tak karuan), mertakak (melihat untuk memastikan), mrenco-mrenco (tersebar; tidak berdekatan), rabinumah (rumah tangga), cuplek (lesung pipi), pigeng (otot kaku karena posisi yang terus-menerus sama), tunjil (buah yang ukurane kecil meskipun sudah matang), nyeremuh (pikiran yang tidak-tidak), merinci (tersenyum), mekakat (berdiri dan menuju tempat tertentu), lurud (luluran dengan bahan kemuning, campuran berbagai bahan yang membuat kulit jadi kelihatan kuning), kenyih (lemas; tak bertenaga), wara (tidak mau), derem (langit mendung), ngujeti (membuka sesuatu yang menutup bungkusan), ngolob (merekatkan plastik dengan ujung api), keloler (bunga pohon Keluwih yang panjang, biasanya saat kering bisa dibakar sebagai obat nyamuk bakar), meciklak (balik dengan tangan hampa), angkul-angkul (menggendong anak tanpa selendang), mecenu (diam termenung).

Sungguh inilah yang membanggakan, karena dengan demikian basa Using itu berkembang, sudah dalam jalur yang benar. Seperti kita ketahui, kamus yang diterbitkan tahun 2002 itu belum mengalami perbaikan sama sekali sampai sekarang. Tugas kita-kita yang merasa ikut mempunyai basa Using inilah untuk terus menyempurnakannya. Masih banyak kata-kata yang belum tercatat dalam kamus itu dan tugas kita mencatat untuk memperbanyaknya.

Bahasa Using tidak bisa menjadi besar hanya dengan berdebat apakah ejaannya using atau oseng. Budaya Blambangan tidak menjadi lebih dihargai karena perdebatan ulang tahun Banyuwangi mestinya tanggal 18 Desember atau 24 Oktober atau 20 Oktober. Tugas kita sebagai generasi yang bertanggung jawab, adalah mewarisi semangat Jagapati dan pejuang lain mempertahankan Blambangan, supaya budayanya berkembang, bahasanya berkembang, dan budaya-bahasa Blambangan sejajar dengan budaya-bahasa lainnya. Cara menghidupkan dan mengembangkannya adalah nguri-uri, peninggalannya. Dengan KARYA.

Kalau yang masih berkeyakinan soal teori ejaan, using itu ditulis oseng, banting ditulis banteng, piring ditulis pereng, mancing ditulis manceng,  buktikan dengan karya yang memakai cara menulis yang seperti diyakini. Sehingga basa Using lebih baik dan Lebih sagah. Bahasa Using lebih kaya karena karya. Bukan sekedar caci maki dan nyamah dan maido karya orang lain. Buktikan, keyakinan soal ejaan itu, bikinlah kamus karena kamus pak Hasan Ali itu jelek. Bikinlah dengan ejaan yang diyakini lebih bagus. Bikin, dan bukan nyamah. Berkarya dan bukan maido.

Saya yakin baik Syaiful maupun Holip, tidak mau dikatakan sebagai tokoh sastra. Tapi bagi saya, dengan menunjukkan karyanya, mereka berdua tokoh sastra Using yang sebenarnya. Orang Blambangan yang mau ikut mengembangkan karya sastra Using/Blambangan tanpa banyak cingcong, hing kakean cangkem. Ini karya basa Usingku, mana karya basa Usingmu. Maju terus sastra Using, sastra Blambangan. (iwandear@gmail.com)

Rabu, 25 Maret 2015

Peluncuran Kuartet Banyuwangi


Peluncuran Permainan Kuartet Banyuwangi

BANYUWANGI, 20 Maret 2019: Organisasi mandiri Sengker Kuwung Belambangan (SKB), menerbitkan kartu permainan dengan sentuhan baru, yang dinamakan Eskabe’s Kuartet Banyuwangi.

“Permainan ini tidak hanya akan menambah kekayaan khasanah permainan anak Banyuwangi, tetapi bisa juga sekaligus menjadi suvenir pariwisata Banyuwangi,” kata Ketua SKB Antariksawan Jusuf.

Menurut PLT Kepala Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Banyuwangi M. Bramuda yang hadir pada peluncuran Kuartet Banyuwangi, kuartet ini menjadi propoganda yang bagus untuk pariwisata Banyuwangi.

Untuk turis asing, mereka sekaligus bisa mempelajari banyak hal tentang Banyuwangi. “Bahkan kuartet ini sudah dipesan oleh Ketua BIPA (Bahasa Indonesia untuk Penutur Asing, seperti TOEFL-red) di Bali sebagai bahan pelajaran,” tambah Antariksawan yang akrab dipanggil Iwan. Dalam waktu senggangnya, wisatawan bisa mengisi waktu dengan bermain sekaligus mengetahui kekayaan warisan yang dipunyai Banyuwangi.

Kuartet Banyuwangi bisa juga menjadi bahan ajar guru untuk mengenalkan murid-muridnya tentang kekayaan warisan alam yang ada pada daerah mereka. Bermain sekaligus belajar.

“Anak-anak dikenalkan pada tempat-tempat bersejarah, yang mungkin sebelumnya mereka tidak tahu. Dikenalkan pada tempat-tempat wisata. Pada kekayaan sayuran Banyuwangi yang tidak dipunyai tempat lain,” kata Iwan.

Permainan kuartet ini bisa dimainkan mulai dari usia anak-anak sampai dewasa, minimal 3 orang.

Terdapat delapan seri gambar, yang masing-masing serinya terdiri atas empat kartu. Dalam Kuartet Banyuwangi’s Heritages series ini, delapan kategori judulnya adalah:

1.       Kota Kerajaan Blambangan (Macan Putih, Ulupangpang, Kutha Lateng, Bayu)

2.       Tempat Wisata (Ijen, Pulau Merah, Boom, Kemiren)

3.       Tradisi (Petik Laut, Seblang, Barong Ider Bumi, Kebo-keboan)

4.       Kesenian (Gandrung, Janger, Angklung, Kundaran)

5.       Sayur (Belencong, Bobohan, Kelentang, Kelor)

6.       Makanan (Rujak soto, Sego Cawuk, Sego Tempong, Rujak Cemplung)

7.       Tempat Bersejarah (Inggrisan, Pengadilan, Gudang Boom, Pabrik Gula Sukowidi)

8.       Binatang (Penyu, Banteng, Tamban, Kidang)

Aturan mainnya:

Setelah kartu dikocok, dibagikan, masing-masing pemain mendapat empat buah kartu. Sisa tumpukan kartu, di taruh di bawah. Dari kartu yang ada di tangan tersebut, pemain harus melengkapi satu seri dengan cara memintanya kepada lawan mainnya. Misalnya, seorang pemain memegang kartu SAYUR, berjudul Belencong, berarti dia harus meminta BOBOHAN, KELENTANG atau KELOR. Sampai menjadi satu seri lengkap, lantas kartu bisa diturunkan (tidak dimainkan lagi).

Seorang pemain yang diminta, harus menyerahkan kartunya, apabila dia punya. Kalau tidak, pemain yang mendapat giliran meminta, mengambil satu kartu sisa yang ada di tumpukan. Giliran pemain lain yang akan meminta kartu. Begitu seterusnya sampai kartu habis, dan delapan seri terkumpul.
Ada lagi varian lain yang membuat permainan lebih menarik dan lebih lama, yaitu pada saat pemain A meminta sebuah kartu pada pemain B, dan ternyata pemain B punya, pemain B tidak menyodorkan kartu tersebut, tetapi menyuruh pemain A untuk memilih dari semua kartu yang ada pada tangan pemain B. Sehingga bisa jadi kartu yang diambil adalah bukan kartu yang diinginkannya.

Sampai kartu habis, bisa ditentukan siapakah yang paling banyak mendapat seri kartu, dia lah pemenangnya.

 

Paguyuban mandiri bernama Sengker Kuwung Belambangan yang bertujuan untuk menjaga, melestarikan dan menegakkan budaya Belambangan dengan melakukan berbagai dokumentasi, pelatihan dan festival.

Kamis, 05 Maret 2015

Kuartet Banyuwangi


KUARTET BANYUWANGI

Eskabe’s Kuartet Banyuwangi, merupakan sebuah permainan lama yang diberi sentuhan baru.

Permainan ini bisa dimainkan mulai dari usia anak-anak sampai dewasa. Minimal tiga anak/orang.

Terdapat delapan seri gambar, yang masing-masing serinya terdiri atas empat kartu. Dalam Kuartet Banyuwangi’s Heritages series ini, delapan kategori judulnya adalah:

1.       Kota Kerajaan Blambangan (Macan Putih, Ulupangpang, Kutha Lateng, Bayu)

2.       Tempat Wisata (Ijen, Pulau Merah, Boom, Kemiren)

3.       Tradisi (Petik Laut, Seblang, Barong Ider Bumi, Kebo-keboan)

4.       Kesenian (Gandrung, Janger, Angklung, Kundaran)

5.       Sayur (Belencong, Bobohan, Kelentang, Kelor)

6.       Makanan (Rujak soto, Sego Cawuk, Sego Tempong, Rujak Cemplung)

7.       Tempat Bersejarah (Inggrisan, Pengadilan, Gudang Boom, Pabrik Gula Sukowidi)

8.       Binatang (Penyu, Banteng, Tamban, Kidang)

Aturan mainnya:

Setelah kartu dikocok, dibagikan, masing-masing pemain mendapat empat buah kartu. Sisa tumpukan kartu, di taruh di bawah. Dari kartu yang ada di tangan tersebut, pemain harus melengkapi satu seri dengan cara memintanya kepada lawan mainnya. Misalnya, seorang pemain memegang kartu SAYUR, berjudul Belencong, berarti dia harus meminta BOBOHAN, KELENTANG atau KELOR. Sampai menjadi satu seri lengkap, lantas kartu bisa diturunkan (tidak dimainkan lagi).

Seorang pemain yang diminta, harus menyerahkan kartunya, apabila dia punya. Kalau tidak, pemain yang mendapat giliran meminta, mengambil satu kartu sisa yang ada di tumpukan. Giliran pemain lain yang akan meminta kartu. Begitu seterusnya sampai kartu habis, dan delapan seri terkumpul.

Sampai kartu habis, bisa ditentukan siapakah yang paling banyak mendapat seri kartu, dia lah pemenangnya.

Nilai tambah permainan:

1.       Kartu ini bisa menjadi permainan yang mendidik untuk anak-anak. Mereka dikenalkan kepada berbagai warisan kebudayaan dan alam yang ada di Banyuwangi. Mereka jadi mengenal, beberapa tempat wisata, tempat bersejarah, makanan dan lain-lain.

2.       Untuk anak-anak yang baru belajar membaca, permainan ini bisa menjadi latihan membaca.

3.       Untuk anak-anak yang lebih besar, bisa menjadi pemicu mereka untuk mengetahui lebih jauh.

4.       Untuk para guru, permainan ini bisa menjadi sarana belajar dan bermain.

5.       Untuk para turis, selain bisa untuk bermain menghabiskan waktu bersama teman, bisa juga menjadi promosi mengenalkan warisan budaya dan alam pada mereka.

6.       Sebagai oleh-oleh, kartu ini dapat mengenalkan Banyuwangi pada orang-orang lain dan dapat menimbulkan keingintahuan mereka tentang Banyuwangi.

 

Kuartet ini diterbitkan oleh sebuah paguyuban bernama Sengker Kuwung Belambangan yang bertujuan untuk menjaga, melestarikan dan menegakkan budaya Belambangan dengan melakukan berbagai dokumentasi, pelatihan dan festival.

Seluruh kegiatan organisasi ini diselenggarakan dengan cara mandiri, tidak menggunakan dana APBD. Salah satunya adalah dengan menerbitkan permainan kuartet ini.

Senin, 02 Maret 2015

Novum Etno, di mana Banyuwanginya?




 
Tanggal 28 Februari 2015 lalu, dua acara tentang Banyuwangi meramaikan sebuah akhir pekan di ibukota.

Pertama, peluncuran program Banyuwangi Festival 2015 yang diselenggarakan di Gedung Sapta Pesona kementrian Pariwisata. Kedua sebuah fashion show yang menjadi bagian Indonesian Fashion Week di Jakarta Convention Center.

Pada fashion show-nya, saya menemukan kekecewaan, mungkin pada saat mendapat undangan saya berharap terlalu tinggi seperti halnya orang-orang Banyuwangi yang datang pada acara yang berlabel Novum Etno, Colorful Banyuwangi by Priscilla Saputro.

Pada materi untuk persnya, dikatakan: Fashion show ini menyuguhkan warna-warni masyarakat Banyuwangi yang kental dengan seni dan budaya luhur yang kuat tetapi sekaligus muga masyarakat yang modern dan maju karena kota Banyuwangi ini terus berkembang menuju masyarakat yang maju dan berbudaya.

Dikatakan Priscilla memilih desain bertema Androgini, di mana unsur-unsur ketegasan pria diangkat dalam pakaian wanita, menjadikannya pakaian kerja wanita yang berkarakter kuat.

Pagelaran yang dibuka dengan gending Impen-impenan dari Krakatau, membawa suasana magis. Muncul beberapa peragawati mengenakan wig seperti omprok Seblang Ulih-ulihan. Ditambah dengan beberapa slides pemandangan Banyuwangi, dan secuil motif batik Gajah Uling dan sebagian dalam posisi yang miring. Selain itu tidak saya temukan sesuatu yang bisa mengingatkan orang akan Banyuwangi.

Andaikata, dari awal penonton tidak dijejali informasi bahwa ini pagelaran fashion Banyuwangi, saya yakin mereka tidak mengenali fashion show itu membawa sesuatu tentang Banyuwangi.

Memang upaya Pemda Banyuwangi untuk memajukan industri kreatif batik, dengan mengundang desainer luar yang sudah punya nama dalam industri perbatikan, perlu didorong lebih jauh.  

Dalam beberapa kali rangkaian 58 rancangan pakaian, saya yakin tidak lebih dari 10 baju yang saya kenali menggunakan batik Banyuwangi sebagai ornamennya.  Itu pun ada sebagian yang tidak benar letaknya. Sisanya lebih menekankan pada model baju siap pakai.

Suvenir dalam tas pun, berupa scarf bermerk Batik Nyonya Indo yang merupakan brand milik Priscilla. Memang ada tambahan udeng capil tongkosan, untuk tas yang disediakan untuk jurnalis. Sisanya tidak ada nama Virdes, Srikandi, Sritanjung, Sayu Wiwit, Pringgokusumo, Godho, Tatsaka, Salsa atau Tripikal. Paling tidak untuk menemani suvenirnya.

Tadinya saya berharap, pagelaran fashion Batik Banyuwangi ini menampilkan Gajah Uling, Kangkung Setingkes, Moto Pitik, Paras Gempal dan lainnya, yang dibalut dalam sebuah pagelaran baju rancangan desainer Yogya tersebut. Jadi memang betul-betul ada kolaborasi, sang desainer menggunakan unsur Banyuwangi untuk karyanya. Saya juga tadinya berharap, fashion show Banyuwangi ini menampilkan juga desain-desain batik baru yang dilombakan dalam Banyuwangi Batik Festival tahun lalu.

Mungkin harapan saya terlalu besar. Tapi dari profil websitenya, Priscilla memang lebih banyak bekerjasama dengan pembatik dari Yogya, Jawa Tengah dan Jawa Barat. Jadi mungkin Banyuwangi hanya menjadi sekedar proyek dari ujung jauh di timur sana.

Mudah-mudahan penilaian saya salah. Pagelaran yang ditutup dengan gending Cakrak Ungkal di Jakarta Convention Center tersebut, mudah-mudahan tak membuat batik Banyuwangi terus “turu sing kathik bantal.”

Wisata Banyuwangi dan janji 2,5 milyar


 
 
Tanggal 28 Februari 2015 lalu, dua acara tentang Banyuwangi meramaikan sebuah akhir pekan di ibukota.

Pertama, peluncuran program Banyuwangi Festival 2015 yang diselenggarakan di Gedung Sapta Pesona kementrian Pariwisata. Kedua sebuah fashion show yang menjadi bagian Indonesian Fashion Week di Jakarta Convention Center.

Saat meluncurkan Banyuwangi Festival 2015, Menteri Pariwisata Arief Yahya, Beberapa jam sebelumnya, di Gedung Sapta Pesona kementrian Pariwisata, Bupati Banyuwangi Abdullah Azwar Anas dan Menteri Pariwisata Arief Yahya, menggelar peluncuran

Menteri Pariwisata berjanji akan membantu menggelontorkan 1,5 milyar untuk membantu tiga acara wisata Banyuwangi, yaitu International Tour de Banyuwangi-Ijen, Festival Gandrung Sewu dan Banyuwangi Ethno Carnival.

Tahun ini Banyuwangi Festival menggelar 38 acara, termasuk Festival Toilet Bersih sampai Festival Kuwung.

Untuk mencapai target 50 ribu wisatawan, Banyuwangi disarankan untuk membuat Master Plan Kawasan Strategis Pariwisata Nasional. Sementara memang Banyuwangi menyumbang sekitar 15 tempat wisata, lebih banyak dibanding Jember (3) dan Situbondo (1).

Infrastruktur yang menunjang pariwisata juga akan dibangung: 1. Perpanjangan landasan Bandara Blimbingsari dari 1800 meter menjadi 2500 meter agar bisa didarati pesawat jet, tidak lagi hanya turboprop yang menggunakan baling-baling, 2. Pelebaran jalan Banyuwangi-Blimbingsari, serta 3. Mensertifikasi 100 anak Banyuwangi dengan standar ASEAN. Dan disarankan membangun Marina. Selain mengundang banyak kapal wisata, juga menciptakan pemandangan yang indah.

Banyuwangi juga akan dipromosikan dalam 3B yaitu Bali, Banyuwangi, Bromo. Karena Banyuwangi secara internasional belum dikenal, masih harus ditempelkan ke brand yang lebih mendunia yaitu Bali.

Menteri Pariwisata, bahkan memberi insentif lain. “Kalau tahun 2015 ini wisatawan asing mencapai 50.000 orang , saya akan beri 2,5 milyar tahun depan.”

Ada dua catatan saya tentang launching yang megah tersebut: 1. Audio CD yang dibawakan untuk mengiringi dua tari Banyuwangi yang kurang bagus, akan berbeda kalau dibawakan live. 2. Icon BEC lengkap dengan kostum yang lebih identik dengan Jember Fashion Carnaval. Lengkap dengan lensa mata yang lebih mirip binatang daripada orang. Sama sekali tidak ada unsur Banyuwanginya apalagi memperlihatkan kekayaan budaya Banyuwangi. Masih banyak kostum berunsur Banyuwangi yang bisa ditampilkan, ada Gandrung, Barong, Kebo-keboan, Seblang yang berakar dalam masyarakat, tinggal memolesnya kalau hendak ditampilkan lebih sebagai marketing gimmick. 

 Mudah-mudahan, Banyuwangi cepat membuat lompatan.