Minggu, 11 Juni 2017

Asal ungkapan "Aja kakehan sereyat"

Bahasa Using Banyuwangi, mengenal kata /sereyat/ dan biasanya digunakan dalam sebuah frasa /kakehan sereyat/ atau /aja kakehan sereyat/.

Menurut budayawan Hasnan Singodimayan, kata ini berkembang jaman peralihan masa sebelum Islam ke masa di mana Islam memasuki Blambangan. Sebagai informasi, Blambangan merupakan salah satu kerajaan Hindu terakhir yang ada di Pulau Jawa. Menurut sejarahwan penulis buku Perebutan Hegemoni Blambangan, Dr. Sri Margana, Belanda berkepentingan untuk mengislamkan daerah ini untuk meredam perlawanannya yang terus-menerus terhadap Belanda. Sejak pertengahan 1770-an ada beberapa petinggi kerajaan Blambangan yang beralih keyakinan menjadi pemeluk Islam.
Dari agama baru yang mereka anut, terdapat aturan-aturan yang tidak sesuai dengan kepercayaan penduduk sebelumnya. Dalam praktiknya, sering terjadi ada orang yang ingin mengingatkan bahwa perbuatan tertentu tidak sesuai dengan syariat agama. Dan reaksi orang yang diingatkan adalah: “Aja kakehan syariat” (maksudnya syariat agama Islam). Dengan berjalannya waktu, kata “syariat” ini berubah menjadi “sereyat”, dan artinya pun berkembang.

Saat ini, kata /sereyat/, dalam Kamus Bahasa Daerah Using-Indonesia, berarti:

1.       Aturan; ketentuan

2.       (dalam percakapan) tingkah; ulah

Sementara /kakehan sereyat/ artinya:

1.       Terlalu banyak aturan

2.       Terlalu banyak tingkah

Kata /sereyat/ saat ini, lebih banyak digunakan dalam frasa /aja kakehan sereyat/ atau /kari kakehan sereyat/, yang arti /sereyat/nya merujuk pada ‘terlalu banyak tingkah’, dalam berbagai hal dan situasi.

Dalam sebuah situasi, misalnya, anak kecil yang terjatuh karena ulahnya tidak bisa diam saat sedang bermain dengan teman-temannya, saat menangis dan menuju ke orang tuanya, sang ayah menghardik dengan mengatakan: “Kakehan sereyat, paran!” ‘terlalu banyak tingkah, sih!”

Semoga berguna.

iwandear@gmail.com

 

Selasa, 28 Februari 2017

Karya Sastra Using mengalahkan karya Sastra Jawa pada Rancage 2017


 
 

Minggu akhir Februari dan awal Maret 2017 akan tercatat sebagai salah satu tonggak bersejarah untuk Sastra Using. Minggu terakhir bulan Februari ini diumumkan bahwa karya novel sejarah dwi bahasa Using-Indonesia, berjudul Agul-Agul Belambangan yang ditulis oleh Moh. Syaiful, menyabet Hadiah Sastra Rancage 2017.
Waktunya berdekatan dengan minggu pertama bulan Maret, saat perayaan satu tahun, munculnya cerita pendek berbahasa Using di tabloid mingguan Bisnis Banyuwangi tanpa jeda.
Dua kejadian berurutan ini sungguh menggembirakan sekaligus memunculkan keprihatinan tetapi membanggakan. Menggembirakan karena untuk pertama kali karya sastra Using diikutsertakan pada penilaian Sastra Rancage. Yayasan Kebudayaan Rancage sudah sejak tahun 1989 memberikan hadiah sastra mula-mula hanya kepada karya berbahasa Sunda. Lantas melebar, dengan memasukkan kategori Sastra Jawa, Bali, Lampung, Batak. Rancage menilai karya bahasa daerah yang secara rutin menelorkan karya berturut-turut dalam tiga tahun terakhir.  

Memprihatinkan karena karya sastra Using, dimasukkan ke dalam kategori Jawa. Meski ada perdebatan bahwa Using merupakan bahasa tersendiri, dan kubu lain yang mengatakan bahwa Using hanyalah dialek Jawa, akhirnya panitia memutuskan merujuk pada Peraturan Gubernur Jawa Timur (nomor 19 tahun 2014) yang dalam Bab I Pasal 1 no. 9 tercantum : “Bahasa Daerah adalah bahasa yang digunakan secara turun-temurun oleh masyarakat Jawa Timur yang terdiri dari bahasa Jawa dan Bahasa Madura.” Yang akhirnya diambil kesimpulan bahwa Bahasa Using merupakan dialek Bahasa Jawa, sehingga karya sastra Using dilombakan dalam kategori bahasa Jawa.

Membanggakan karena untuk pertama kalinya ikut, Karya Sastra Using sudah mampu menyabet hadiah Rancage mengalahkan karya-karya sastra berbahasa Jawa lainnya.

Novel Agul-Agul Belambangan sebenarnya ditulis dalam bahasa Using oleh Moh. Syaiful, yang juga sekretaris Paguyuban Sengker Kuwung Belambangan (SKB). Naskahnya kemudian diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia secara keroyokan oleh anggota SKB lainnya, misalnya kang Hasan Sentot, Hani Z. Noor, Satria Pujangga dan Nur Holipah. Sementara covernya yang apik dikerjakan oleh Taufik Saleh.

Naskah tersebut sempat mengalami penundaan penerbitan beberapa bulan karena banyak yang didiskusikan dalam WAG SKB, misalnya perdebatan tentang senjata yang dipakai pasukan Belanda saat itu, apakah sudah ada pistol atau menggunakan laras panjang. Dalam naskah asli, diceritakan tentang orang yang bertamu dan mendapat suguhan kopi. Akhirnya disepakati, minuman yang disajikan adalah secang sereh yang memang lebih dulu ada daripada komoditi baru, yaitu kopi.

Memang di situlah salah satu kesulitan menulis novel sejarah, harus teliti untuk membaca referensi sehingga diharapkan tidak muncul kesalahan pemahaman apa yang sudah ada atau belum dalam kurun waktu tertentu.

Penggagas Hadiah Rancage Pak Ajip Rosidi mengatakan tahun 2016 terdapat 20 judul buku sastera yang terbit dalam bahasa Jawa selama tahun 2016, termasuk dua judul yang disebut sebagai buku bahasa Using. Sepuluh judul berbentuk roman, dengan tujuh judul ditulis oleh Tulis S., dan tiga judul yang lain adalah karya Tiwiek S., Narko Sodrun Budiman, Ismoe Riyanto dan Moh. Syaiful. Ada tiga judul kumpulan sajak (guritan) yaitu buah tangan Kanjeng Sastra Taruna, Suci Hadi Suwita dan Yusuf Susilo Hartono. Selain itu ada lima judul kumpulan cerpen yaitu masing-masing karya Nardi, J.F.X. Hoery, Tiwiek SA, St. Sri Emyani dan R. Suwardanidjaja dan kumpulan bersama Kembang Ronce 2016 yang disunting oleh Antariksawan Jusuf dan Hani Z. Noor.

Lebih lanjut Pak Ajip menulis dalam akun FB Rancage: “Agul-Agul Belambangan karya Moh. Syaiful berupa roman sejarah, berlatar belakangkan sejarah setempat kerajaan Blambangan. Yang menjadi tokoh-tokohnya dikenal dalam legenda sejarah melainkan hidup dalam masarakat, seperti Agung Willis, Rempek Jagapati, Mas Ayu Wiwit, Ki Sumur Gemuling, Ki Macan Jingga, dll. Begitu juga nama-nama tempat terjadinya peristiwa banyak yang sekarang pun masih ada, walaupun ada yang namanya berubah.”

“Perjuangan para patriot Blambangan melawan Belanda (VOC) yang mau memperluas kekuasaannya menjajah Indonesia perlu diketahui oleh keturunannya sekarang. Maka roman sejarah adalah salah satu bentuk sastera yang dapat memenuhi kebutuhan itu. Roman sejarah yang menarik sebagai cerita dapat memberi tahu pembacanya tentang sejarah yang sebenarnya. Sayang bahwa jumlah roman sejarah dan penulisnya relatif tidak banyak, padahal banyak peristiwa sejarah di seluruh tanahair Indonesia yang akan menarik kalau dijadikan roman sejarah. Tokoh-tokoh sejarah di berbagai daerah di Indonesia banyak yang dapat dijadikan tokoh roman yang akan mengikat hati pembaca. Tapi penulisan roman sejarah memang memerlukan penelitian bukan hanya tentang legenda daerah, melainkan juga tentang naskah-naskah bahkan prasasti-prasasti agar dapat dipertahankan secara sejarah. Penulisan sejarah lokal yang dapat dijadikan bahan masih sedikit, dan bahan-bahan yang sudah diteliti pun banyak yang belum menarik pengarang untuk menjadi latar belakang ceritanya.”

“Dalam beberapa puluh tahun terakhir memang banyak penelitian yang dilakukan terhadap sejarah lokal beberapa daerah tapi belum merangsang pengarang kreatif untuk menyusun roman sejarah. Apa yang dilakukan oleh M. Syaiful menulis roman sejarah dengan latar belakang sejarah kerajaan Blambangan melawan Belanda niscaya akan membukakan mata keturunan Blambangan sekarang terhadap perjuangan nenek moyangnya mengusir penjajah. Dan yang berjuang melawan penjajah itu tidak hanya kerajaan Blambangan saja. Kerajaan-kerajaan lain pun di seluruih Indonesia melakukan perlawanan terhadap penjajah. Maka Hadiah Sastera “RancagĂ©” 2017 untuk karya dalam bahasa Jawa dihaturkan kepada Agul-agul Belambangan Roman sejarah karya Moh. Syaiful (terbitan Sengker Kawung Belambangan, Banyuwangi, 2016). “

Karya tulis berbahasa Using mulai banyak memenuhi pasar sejak tahun 2013. Pada tahun-tahun sebelumnya sesudah diterbitkannya Kamus Bahasa Daerah Using-Indonesia karya Hasan Ali (2002), hanya ada satu karya berbahasa Using, yaitu Pereng Puthuk Giri karya Abdullah Fauzi.

Tahun 2012, sekelompok dosen dari Universitas Jember, Ayu Sutarto, Marwoto dan Heru SP Saputra, mengeluarkan buku dongeng yang berjudul Mutiara Yang Tersisa III, Kearifan Lokal dalam Cerita Rakyat Using. Cerita utama disajikan dalam bahasa Indonesia, dan disandingkan bersamaan dengan bahasa Using dan bahasa Inggris.

Setelahnya bermunculan lebih selusin penerbitan, novel (Nawi BKL Inah, Niti Negari Bala Abangan, Agul-Agul Belambangan), kumpulan artikel (Membicarakan Seni dan Sastra Banyuwangi, Enam Mata Tentang Banyuwangi) kumpulan cerpen (Kembang Ronce 2013/2014/2015/2016, Jala Sutera, Balambangan 1771), kumpulan cerita anak (Markas Ketelon, Kemiren (Kisah Barong Jakripah dan Paman Iris)) dan penunjang pelajaran sekolah (Isun Dhemen Basa Using jilid 1 dan 2, Nganggit Nganggo Basa Using).

 
Paguyuban Sengker Kuwung Belambangan (SKB) merupakan sebuah paguyuban yang mempunyai ketertarikan dalam kegiatan budaya di Banyuwangi, dalam bidang dokumentasi budaya, pelatihan dan menyelenggarkan festival. Sejak tahun 2013, sudah menerbitkan 14 buku berbahasa Using dan menyelenggarakan pelatihan menulis dalam bahasa Using. Bukunya terdiri dari berbagai jenis: novel, kumpulan artikel, kumpulan cerpen, cerita anak-anak dan buku bahasa penunjang pelajaran sekolah.

   SKB setiap tahun dalam lima tahun terakhir secara rutin menyelenggarakan Lomba Mengarang Cerita Pendek Berbahasa Using. Dimulai dari tahun 2013, setiap tahunnya terdapat kurang lebih 50 naskah yang masuk ke panitia.

   Selain menyelenggarakan Pelatihan Menulis, Lomba Mengarang, menerbitkan berbagai buku, bekerjasama dengan tabloid Bisnis Banyuwangi memunculkan cerpen berbahasa Using seminggu sekali, yang terakhir, bekerjasama dengan Radio Blambangan 88,1 FM menyelenggarakan Lomba Ngeja Basa Using untuk murid SD.

  Kejadian minggu-minggu ini akan ditulis dalam sejarah perkembangan sastra Using, bahwa karya sastra Using sudah setara dengan karya bahasa daerah lainnya. Dan mudah-mudahan semakin banyak karya bermutu pada tahun-tahun mendatang.

 

Ditulis oleh Antariksawan Jusuf, ketua umum Sengker Kuwung Belambangan

Kamis, 16 Februari 2017

Lomba Ngeja dan Masa Depan Bahasa Using


 

Lomba Ngeja Bahasa Using pertama kali akan diadakan tanggal 19 Februari 2017. Terlihat seperti hal sepele, Lomba ini, bisa jadi akan berfungsi sebagai salah satu tonggak untuk meningkatkan kemampuan menulis dalam Bahasa Using dan sebagai pertahanan bahasa Using ke depan.

   Lomba akan dilaksanakan setiap Hari Minggu pukul 10 pagi di studio Radio Blambangan 88.1 FM Banyuwangi.

   Tiga orang peserta setiap minggunya akan bertanding. Setiap pemenang mingguan, akan bertanding pada minggu keempat pada babak semifinal. Dan tiga pemenang bulanan pada babak semifinal, akan bertanding pada minggu ke-13 tanggal 14 Mei 2017. Di situlah akan lahir juara 1, 2, 3.

   Melihat kedudukan bahasa Using yang semakin hari semakin terdesak, tercermin dalam perilaku penuturnya yang cenderung menggunakan bahasa yang lebih dominan (Jawa dan  Indonesia), perlu banyak pendekatan-pendekatan yang harus dilakukan untuk mempertahankannya. Misalnya, memperkaya kegiatan kebahasaan di luar ruang kelas, khususnya kegiatan tulis. Memberi lebih banyak kesempatan murid-murid menemukan penggunaan bahasa di luar kelas. Misalnya, ada program radio, ada majalah, ada karya sastra dll. Dengan kuatnya bahasa tulis, bahasa Using akan lebih tegak, lebih kuat menghadapi serbuan bahasa dominan.

   Saat ini kegiatan tulis menulis, baru sebatas lomba mengarang cerpen yang setiap tahun diadakan oleh Paguyuban Sengker Kuwung Belambangan (SKB), yang hasilnya dibukukan, penulisan cerpen di media massa (mingguan Bisnis Banyuwangi), serta penulisan periodikal maupun buku-buku lainnya, yang jumlahnya masih terbatas.

   Lomba Ngeja ini diharapkan nantinya akan membantu membangun dasar yang kuat bagi generasi Using di masa mendatang untuk mengakrabi kaidah tulis menulis yang sudah ada dan mengimplementasikannya dalam bentuk karya tulis.

   Memang, bentuk nguri-nguri dalam bentuk lisan, misalnya lomba mendongeng, lomba celathu, dan lomba sejenis tidak kalah penting. Namun, hanya dengan karya tulis, sastra Using bisa dikenal orang luar dan semakin mendudukkan kekuatan bahasa Using sebagai sebuah bahasa tersendiri.

   Contohnya, saat ini karya-karya tulis berbahasa Using, sedang dinilai oleh Yayasan Kebudayaan Rancage, sebuah lembaga yang mengapresiasi kegiatan menghidupkan bahasa lokal, dengan memberi penghargaan. Misalnya bahasa Sunda, Jawa, Bali, Batak dan Lampung. Tahun ini panitia masih menimbang apakah karya sastra Using, dinilai sebagai karya bahasa yang berdiri sendiri atau bagian dari Bahasa Jawa. (Cek buku-buku yang masuk di panitia Rancage di akun facebooknya: Yayasan Kebudayaan Rancage).

   Tanpa karya yang terbit secara konsisten dalam tiga tahun terakhir, Rancage tak akan melirik sastra yang berkembang di satu daerah tertentu. Tidak cukup hanya berkoar-koar bahwa kita ini punya bahasa yang berdiri sendiri, tanpa membuktikan dengan adanya karya. Lelah sudah kita berdebat apakah bahasa Using dialek atau bukan dari bahasa Jawa. Yang penting kita buktikan dengan karya, bahwa bahasa Using mempunyai kosakata dalam karya yang berbeda dengan bahasa Jawa.

   Lomba Ngeja Basa Using, tentu akan menjadi dasar untuk anak-anak Using menuliskan karya-karyanya dalam bahasa Using. Mereka akan diajari untuk menulis dengan ejaan yang benar, yang sudah mereka pelajari di sekolah. Mereka akan mengenali bagaimana menuliskan kata-kata dengan ejaan yang baku. Kesalahan-kesalahan apa yang sering timbul, yang sering mereka lakukan, sehingga mereka dapat memberi koreksi kesalahan tersebut lewat Lomba ini.

   Teknisnya, mereka akan dibacakan sebuah kata, dan mereka harus menuliskan, menirukan ucapannya, dan kemudian mengejanya. “Semaure Kudu Bener”, itu tagline Lomba tersebut. Karena peserta memang harus menjawab dengan benar, tidak asal buka mulut.

   Untuk anda-anda yang belum pernah secara formal belajar mengeja bahasa Using, inilah kesempatan untuk mempelajari ejaan yang baku dan benar. Sehingga ke depan, anda tidak lagi keliru menulis. Dan sekaligus, ujian, apakah anda lebih pintar dari anak SD, atau anda harus belajar dari mereka.

 

iwandear@gmail.com

Rabu, 08 Februari 2017

Lomba Ngeja Basa Using "Semaure Kudu Bener"




Paguyuban Sengker Kuwung Belambangan (SKB) bekerja sama dengan Radio Belambangan 88.1 FM menyelenggarakan Lomba Ngeja Basa Using “Semaure Kudu Bener”.

 

Lomba yang hanya boleh diikuti oleh siswa kelas 4 dan 5 sekolah dasar ini akan memulai debutnya tanggal 19 Februari 2017. Lomba diadakan di studio Blambangan setiap hari Minggu jam 10.00.

 

Lomba Ngeja, yang pertama kalinya diadakan di Banyuwangi, mempunyai tagline “Semaure Kudu Bener.” Semangat diadakannya lomba ini salah satunya adalah usaha untuk nguri-nguri Bahasa Using yang kedudukannya semakin terdesak. Pelajaran bahasa Using sebagai muatan lokal di sekolah dasar, perlu diberi penguatan dan pengayaan.

 

Diharapkan dengan adanya Lomba ini, siswa-siswi sekolah semakin terpacu untuk menulis Bahasa Using dengan ejaan yang benar, ejaan yang mereka pelajari di sekolah. Apalagi, selain Lomba ini, ada pula Lomba Mengarang Cerita Pendek Bahasa Using yang juga diselenggarakan oleh SKB.

 

Setiap minggu tiga orang peserta berlomba, dan pemenangnya diadu dengan dua orang pemenang mingguan lainnya pada minggu keempat. Pemenang bulanan ini akan diadu dengan dua orang pemenang bulanan lainnya, pada babak Grand Final yang direncanakan akan diadakan tanggal 14 Mei 2017.

 

Pemenang 1, 2, 3 masing-masing mendapat hadiah Sertifikat, Plakat dan Uang sebesar masing-masing Rp. 750.000, Rp. 500.000, dan Rp. 250.000.

 

Teknis perlombaan, setiap peserta menjawab pertanyaan yang diajukan oleh juri yang sekaligus bertindak sebagai penyiar, menuliskannya kemudian mengejanya. Pemenang ditentukan oleh salah benarnya dan akumulasi waktu tercepat apabila pemenang mendapat nilai yang sama.

   Apabila terdapat sengketa, rujukan Lomba ini adalah Kamus Bahasa Daerah Using-Indonesia yang ditulis oleh (alm) Hasan Al.

 

Persyaratan, setiap peserta mendaftar dengan membawa surat pengantar dari sekolah dan fotocopy akta kelahiran. Setiap sekolah diwakili oleh satu peserta.

 

 

 

 

Selasa, 29 November 2016

Duduk semeja melawan sebuah hegemoni


Duduk semeja melawan sebuah hegemoni

Sebuah Catatan dari Temu Sastra Mastera di Banyuwangi

Dalam diskusi tanya jawab setelah pemaparan di acara Temu Sastra Masyarakat Sastra Asia Tenggara (Mastera) di Universitas PGRI Banyuwangi Senin 28 November 2016 kemarin, ada usulan dari Kang Agus Bain yang merupakan pegiat di Aliansi Masyarakat Adat Nusantara (AMAN). Kang Agus melihat dalam perkembangan bahasa Using sekarang ini terdapat tiga “mazhab” penulisan, yaitu using, osing dan oseng. Usul Kang Agus sebaiknya orang-orang dari ketiga mazhab ini duduk bareng membicarakan persoalan tersebut.

Saya melihat usul ini hanya merupakan sebuah langkah mundur kalau dilakukan. Memang mayoritas orang seperti Kang Agus Bain ini adalah generasi ‘lama’ Banyuwangi yang tidak menikmati pelajaran Bahasa Using di sekolah. Jadi rata-rata mereka tidak tahu akan adanya ejaan dan tata bahasa baku. Seperti diketahui, pengajaran Bahasa Using sebagai muatan lokal baru diperkenalkan tahun 1997 di tiga kecamatan, setelah 2002 baru meluas ke berbagai kecamatan.

Generasi yang masuk sekolah SD sebelum 2002, banyak yang belum tahu kalau ternyata perangkat kebahasaan Bahasa Using sudah ada, yaitu Kamus Bahasa Daerah Using-Indonesia (2002), Pedoman Umum Ejaan Bahasa Using (2006) dan Tata Bahasa Baku Bahasa Using I (2006). Perdebatan berkepanjangan masalah ejaan, yang sampai diberi istilah ‘mazhab’ ini tidak akan terjadi kalau semua pihak mau mempelajari terlebih dahulu apa yang termuat dalam buku-buku ini. Dan semua pihak mau menurunkan tensi egonya sedikit, mempelajari dengan baik, agar apa yang sudah diwariskan oleh para sesepuh yang sudah susah payah menyusun seluruh perangkat bahasa itu dihargai sebagaimana mestinya.

Saya pikir sangat tidak adil membandingkan ketiga ‘mazhab’ untuk ‘duduk satu meja’, sebab hanya ada satu versi yang sudah ada Pedoman Ejaannya, ada Tata Bahasa dan ada kamusnya. Sementara versi yang lain hanya berupa versi pribadi yang keluar sporadis dalam media-media sosial. Bagaimana mungkin membandingkan sesuatu yang sudah jelas keberadaannya dalam bentuk buku dengan sesuatu yang masih dalam pikiran?

Salah seorang dari Badan Bahasa ikut menimpali, perdebatan dalam Bahasa Using akan membawa Bahasa Using menjadi lebih baik. Saya katakan, taraf perdebatannya sudah sampai pada taraf tidak konstruktif untuk Bahasa Using.

Bahasa Using ini memang miskin dalam tradisi tulisnya. Kalau dibilang karya fenomenal seperti Sritanjung, Sang Satyawan dan Sudamala dianggap karya berbahasa Using, juga kurang tepat karena ketiga karya itu ditulis dalam bahasa Kawi. Bahkan kata ‘using’ atau ‘sing’ (yang berarti tidak) pun tidak ada di dalamnya.

Setelah periode akhir 1800-an saat istilah using digunakan (menurut peneliti Belanda Ben Arps, istilah Using sudah dimuat dalam koran berbahasa Belanda), tidak muncul karya-karya berbahasa Using.

Saya membagi periode Bahasa Using tulis yang pertama antara 2002-2012 (saat perangkat kebahasaan sudah diterbitkan) dan tahun 2013 sampai sekarang (saat munculnya banyak karya berbahasa Using). Saat periode pertama itu hanya ada satu novelet, satu buku peribahasa, satu buku dongeng dan beberapa buku kumpulan puisi. Setelah tahun 2013, ada lebih dari 10 buku berbagai macam isi (novel, kumpulan cerpen, kumpulan artikel, kumpulan cerita anak, buku pengayaan sekolah) yang terbit. Pun demikian, untuk perkembangan Bahasa Using, masih perlu lebih banyak diterbitkan karya-karya lainnya.

Jadi kesimpulannya, untuk menunjang pengembangan dan pemertahanan Bahasa Using, perlu diperbanyak karya-karya. Berkarya. Berkarya. Berkarya. Kalau tidak, bahasa Using menghadapi ancaman dari luar, yaitu bahasa Jawa dan bahasa nasional. Dua bahasa dominan ini akan menyerap Bahasa Using, seperti yang saya amati pada hasil karya pemenang cerpen anak-anak SMP yang diselenggarakan oleh Sengker Kuwung Belambangan (SKB) dalam tiga tahun terakhir. Ada kecenderungan kenaikan prosentase penggunaan bahasa Jawa dari tahun ke tahun. Mudah-mudahan tren ini tidak semakin parah pada tahun-tahun berikutnya. Hegemoni ini harus dilawan kalau kita ingin Bahasa Using lebih tegak berdiri. Dan pihak yang bisa menolong untuk melawan hegemoni bahasa lain ini adalah orang Banyuwangi sendiri. Mestinya pihak-pihak orang Banyuwangi ini bersatu melawan ancaman 'luar' yang sudah di depan mata ini, dengan meninggalkan debat-debat yang tidak perlu.

iwandear@gmail.com

Selasa, 18 Oktober 2016

Bahasa Using lebih ringkas daripada bahasa Indonesia


Ada beberapa kata bahasa Using yang lebih ringkas daripada bahasa Indonesia. Kata yang diekspresikan hanya dengan satu kata, yang susah diartikan dengan satu padanan kata dalam bahasa Indonesia. Semua contoh diambil dari Kamus Bahasa Daerah Using-Indonesia.

Misalnya:

Bahasa Indonesia                                                                 Bahasa Using

 

Tidak punya malu                                                                                                 juari

Memancing, orang atau kail yang mudah dapat ikan                                  bangenan

Sesuatu yang menempel ke benda lain, misalnya karang gigi                    emplik

Telentang tak berdaya                                                                                         njekapang

Menaruh sesuatu sembarangan                                                                       gelibrugan

Tubuh rasanya hancur tak bertenaga                                                              impur

Bepergian kesana ke mari tanpa tujuan tertentu                                          keloproh

Pakaian terlalu ke bawah hampir menyentuh tanah                                    kengsreh

Dibacakan mantra dengan membakar dupa atau kemenyan                     kutug

Sakit perut yang tak tertahankan karena lapar                                              lempiriten

Buah yang muda tapi diperam supaya masak                                               mundur

Ikan laut yang sudah lama mati berbau busuk, bermata merah               manju

Bercerai atas permintaan istri                                                                           pasah

Capai karena terlalu lama menunggu sesuatu/seseorang                           pelekeren

Disuruh mengerjakan sesuatu terus menerus tanpa istirahat                    dipelentreng

Permainan judi dengan menebak gambar pada uang logam                      sampak

Burung yang terbang cepat ke arah tertentu, tapi tidak sampai hinggap sampar

Tidak langsung ke tempat tujuan, mampir ke sana ke mari                        selaper

Tunas batang padi yang tumbuh dari batang yang sudah dipanen           singgang

Melompat ke bawah                                                                                            temencog

Berusaha dengan sungguh-sungguh                                                                 ubed

Rasa pedas dan panas di tangan setelah memegang cabe                          kewedangen

Kamis, 06 Oktober 2016

Pelestarian Bahasa Using di Banyuwangi


Pelestarian Bahasa Using di Banyuwangi
Disampaikan sebagai salah satu makalah utama pada seminar internasional Bahasa Ibu sebagai Sumber Budaya Literasi, yang diselenggarakan oleh Balai Bahasa Jawa Barat tanggal 4-5 Oktober 2016 di Bandung.

ABSTRAK

Salah satu identitas yang merupakan ciri masyarakat di kabupaten paling ujung timur pulau Jawa, Banyuwangi, adalah bahasanya, yaitu bahasa Using. Daerah ini menurut Sri Margana (Perebutan Hegemoni Blambangan, 2013) belum memperoleh proporsi cukup dalam kajian kesejarahan Indonesia. Bahasa penduduk suku Using ini merupakan salah satu bahasa daerah utama yang digunakan oleh sebagian masyarakat, selain bahasa Jawa dan Madura.

   Bahasa Using, yang eksistensinya sebagai sebuah bahasa moderen diperjuangkan sejak tahun 1970-an, lebih dominan berkembang melalui  tradisi lisan. Selain sebagai bahasa pengantar dalam keluarga dan pergaulan, berkembang pula sastra lisan berupa lagu-lagu tradisional, maupun pantun (basanan) dan wangsalan yang digunakan dalam percakapan sehari-hari. Sementara bahasa Using tulis tidak berkembang dengan sempurna.

   Setelah diterbitkannya berbagai perangkat kebahasaan, seperti Kamus bahasa Using-Indonesia (2002), Pedoman Umum Ejaan Bahasa Using (2006) dan Tata Bahasa Baku Bahasa Using (2006) dan keluarnya Peraturan Daerah Nomor 5 tahun 2007 tentang Pembelajaran Bahasa Daerah pada Jenjang Pendidikan Dasar, sampai tahun 2012, hanya ada satu novelet berbahasa Using, enam buku pelajaran sekolah (2007), tiga buku dongeng dan satu buku tentang kata-kata mutiara dan peribahasa (2008).

   Usaha pelestarian bahasa tulis Using, revitalisasi, bukan language revival (Jones dan Singh, 2005 p. 105) dilakukan sekelompok masyarakat sejak tahun 2013 dengan mengadakan lomba mengarang cerpen, penerbitan berbagai macam buku sampai pada usaha penerbitan majalah berbahasa Using dan pemuatan cerita pendek mingguan di media massa.

   Tulisan ini membahas 1) Bagaimana usaha revitalisasi bahasa tulis Using dan dinamikanya dan 2) Bagaimana orang-orang Using bersikap dan bertindak untuk mempertahankan identitas diri melawan hegemoni bahasa lainnya.

Kata Kunci: revitalisasi bahasa, bahasa tulis Using, media buatan

 

PENDAHULUAN

Bahasa Using di Banyuwangi mengalami masa naik turun sejak awal abad 20 sampai sekarang. Sejak istilah Using diperkenalkan oleh C. Lekkerkerker (1923) maupun Joh. Scholte (1926) dan kumpulan kata-kata Bahasa Using yang ditulis oleh bupati Banyuwangi Notodiningrat (1910), serta sastrawan dan ahli bahasa Thomas Pigeaud (1929), bahasa Using mendapat perhatian lebih intens setelah tahun 1970-an.

   Sebelumnya Bahasa Using selalu dikatakan sebuah dialek Bahasa Jawa. Baru tahun 1987, seorang ahli bahasa dari Universitas Udayana, Suparman Herusantosa, menulis disertasinya berjudul: Bahasa Using di Kabupaten Banyuwangi. Meski setelahnya beberapa langkah dijalani, antara lain penerbitan Kamus Bahasa Daerah Using-Indonesia, Tata Bahasa Baku Bahasa Using, Tata Ejaan, Peraturan Daerah tentang Pengajaran Bahasa Using di sekolah, tak membuat bahasa Using tulis berkembang. Memang Bahasa Using kurang mendapat perhatian dari pemerintah daerah. Sejak tahun 2007, belum pernah ada lagi pelatihan untuk guru-guru pengajar bahasa Using, tidak ada lagi perbaikan materi pengajaran baik di tingkat sekolah menengah maupun sekolah dasar. Tidak pernah ada lagi penerbitan buku-buku penunjang pelajaran.

 

METODE PENELITIAN

Pembahasan ini menggunakan metode Deskriptif Kualitatif. Moleong (2007:6) memaknai Penelitian kualitatif sebagai upaya untuk memahami fenomena yang dialami oleh subyek penelitian misalnya pelaku, persepsi, motivasi, tindakan dan lain-lain. Deskripsi dijabarkan berdasarkan fakta yang ada atau fenomena yang secara empiris dilakukan oleh masyarakat penuturnya.

    McLuhan (Dalam Danesi, 2010:7) mengatakan bahwa media dipakai untuk merekam dan memancarkan pesan, menyatakan bagaimana manusia memproses dan mengingatnya. Media bisa dibagi menjadi tiga kategori dasar, yaitu Media Alami, Buatan dan Mekanis. Media Alami adalah pemancaran gagasan dengan cara berbasis teknologi, seperti suara, ekspresi wajah, dan gerakan tangan. Media Buatan adalah bagaimana gagasan direpresentasikan dan dikirimkan menggunakan satu artefak tertentu. Misalnya, buku, novel, lukisan dan patung. Media mekanis adalah bagaimana gagasan dikirimkan menggunakan peralatan mekanis temuan manusia seperti telepon, radio dan televisi. Batasan bahasan dalam tulisan ini adalah seputar Media Buatan, yaitu majalah, buku, dan harian/tabloid.

   Bahasa dalam Media Buatan dibatasi dalam uraian sebagai apa yang tertulis berbentuk buku, majalah atau muncul dalam media massa seperti tabloid atau koran. Naskah-naskah yang dibicarakan di sini adalah naskah tulis bahasa Using modern atau yang diterbitkan setelah munculnya Kamus Bahasa Daerah Using-Indonesia tulisan Hasan Ali tahun 2002, di mana di dalamnya juga terdapat Tata cara penulisan yang disebut baku dalam bahasa Using. Perangkat kebahasaan bahasa Using modern, sudah tertata dengan ejaan yang sudah ditetapkan dan setelahnya diajarkan di sekolah-sekolah di Banyuwangi.

 

PEMBAHASAN

1.       Asal mula Using dan sebutan bahasa Using

Sebuah bahasa yang berkembang di daerah ujung timur pulau Jawa, dan berbeda dengan bahasa Jawa pada umumnya ditengarai, tercatat saat tahun 1860-an, seorang bupati kudus bernama Candranagara berkunjung ke Banyuwangi dan menyatakan bahwa penduduk setempat menggunakan “...bahasa Jawa tetapi dengan cara desa” (Arps, 2010:225).

   Tahun 1881, seorang Belanda bernama Van der Tuuk mencatat dalam tulisan tangan dua buah buku yang tersimpan di Universitas Leiden dan diberi kode Lor 3269 dan 3270 bertahun 1881. Diperkirakan oleh Herusantosa (1987:71) salah satu naskah yang berjudul “Banjoewangi dialect” tersebut dipersiapkan untuk menyusun sebuah kamus. Terdapat 550 kata yang ada dalam naskah tersebut.

   Masih di akhir abad 19, sebuah karya sastra berjudul Serat Sritanjung, versi yang ditulis oleh pujangga yang tak menuliskan namanya, berbahasa Jawa Kuna dan beraksara Arab pegon itu selesai dituliskan kembali tanggal 12 Syawal 1315 H atau 5 Maret 1898. Dalam naskah tersebut belum ada penyebutan “bahasa Using” bahkan kata /sing/ atau /using/ tidak ditemukan. Sebagai ungkapan yang berarti ‘tidak’, bahasa Jawa kuna yang digunakan dalam naskah tersebut menggunakan istilah yang cenderung sebagai bahasa Jawa kuna yaitu /tan/ atau /nana/. Sebagai catatan kata /nana/ masih digunakan dalam bahasa Using modern.

   Bupati Banyuwangi tahun 1910-1920, Raden Tumenggung Haryo Notodiningrat, menulis sebuah babad (1915) yang juga memuat 440 kata Bahasa orang Blambangan, yang artinya berbeda dengan bahasa Jawa.

   Istilah Using baru muncul di awal abad 20. Pada sebuah penerbitan majalah Indische Gids II (1923:1031), C. Lekkerkerker menyebut ‘orang Using’ (de Oesingers) mempunyai kepribadian, bahasa dan adat yang berbeda dengan orang Jawa lainnya. Inilah salah satu catatan paling awal mengenai istilah Using (Ditulis Oesing karena masih menggunakan ejaan lama dan berbahasa Belanda, yang menggabungkan OE sebagai huruf U dalam ejaan baru).

   Pada tahun 1926, seorang Belanda bernama Joh. Scholte, memberikan ceramahnya tentang “Gandrung Banyuwangi” (Gandroeng van Banjoewangi), mengatakan “Para gandrung adalah putri-putri orang Using, suatu suku bangsa yang harus dianggap sebagai sisa-sisa orang Blambangan yang beragama Hindu Jawa dan yang hingga kini bertahan di antara para transmigran di Banyuwangi untuk memelihara semurni mungkin adat istiadat mereka...Nama Using diberikan kepada orang Blambangan oleh para pendatang berdasarkan kata penyangkal “Using” atau “Sing” yang berarti “Tidak” atau “Bukan”.

   Ditambahkan pula “Orang Blambangan sendiri menamakan dirinya orang Jawa Asli. Nama yang paling tepat untuk mereka adalah orang Blambangan.”

Thomas Pigeaud, ahli sastra yang menulis kamus Jawa-Belanda, mengumpulkan kosakata Using banyak sekali dan pada tahun 1929 sudah siap untuk diterbitkan (Suparman, 1987:72). Pigeaud, yang juga pernah tinggal di Bali utara, menyatakan bahwa banyak sekali kosa kata Banyuwangi yang dimasukkan ke dalam buku “Kawi-Balineesh” yang disusunnya. Dalam ulasannya tentang bahasa dan wilayah Using, Pigeaud mengatakan bahwa daerah Using semula lebih luas daripada yang ada sekarang. Desa Biting dan Kemiri (Jember), Patoan (Situbondo), Blendungan (Bondowoso) semula termasuk daerah Using. Bahkan dari segi bahasanya semula termasuk Using.

   Setelah sekitar 40 tahunan tanpa ada catatan tentang bahasa tulis Using, tahun 1970-an pemerintah daerah Banyuwangi, sebagai bagian dari rezim Orde Baru, mencari identitas kultural, antara lain lewat kesenian dan bahasa, untuk melawan perilaku menyimpang generasi muda akibat pengaruh barat (Pranoto, 2014:111). Selain untuk mengisi kebuntuan setelah peristiwa 1965, pemerintah daerah menggalakkan kembali kesenian daerah dan menegakkan Using sebagai identitas kultural daerah.

   Tahun 1974, seorang dosen Hukum, Abdurrahman, menyusun diktat 14 halaman yang berjudul: “Sekedar petunjuk untuk sekedar berbicara bahasa Osing.”  Antara lain isinya kaidah ucapan, masalah unda usuk dan dialog-dialog dalam bahasa Using serta terjemahannya dalam bahasa Indonesia. Juga disertai dengan rekaman percakapan, diterbitkan oleh FKSS IKIP Malang. (Suparman, 1987:71).

   Pencarian identitas kultural tersebut, termasuk di dalamnya adalah perjuangan Hasan Ali, penulis Kamus Daerah Using-Indonesia, mencari jalan agar bahasa Using, yang saat itu masih dianggap dialek jawa, berdiri sebagai sebuah bahasa tersendiri.

   Pada tahun 1987, seorang ahli bahasa asal Malang yang bermukim di Singaraja, Suparman Herusantosa, mempertahankan disertasinya di Universitas Indonesia, berjudul “Bahasa Using di Kabupaten Banyuwangi.” Suparman pula yang menyemangati Hasan Ali untuk menggeluti bahasa Using secara ilmiah, kalau tidak bahasa Using akan punah. (Arps, 2010).

   Sebutan “Using” atau “Bahasa Using” sebenarnya bukan tanpa penolakan. Melihat asal-usulnya, yaitu sebutan dari para pendatang terhadap suku asli, budayawan Banyuwangi Endro Wilis (2010) mengatakan bahwa masyarakat Banyuwangi seharusnya tersinggung dengan sebutan yang merendahkan tersebut. Dia menyarankan sebutan “Bahasa Banyuwangen” atau “Bahasa Blambangan” yang bisa menjadi alternatif yang lebih terhormat. Dengan alasan kesejarahan, penulis pernah mengusulkan mengembalikan segala kata Using menjadi Belambangan, jadi kabupaten Banyuwangi menjadi kabupaten Belambangan; bahasa Using menjadi bahasa Belambangan (Jawa Pos Radar Banyuwangi, Maret 2014).

   Setelah beberapa kegiatan, misalnya Saresehan Bahasa Using (1990) dan Kongres Bahasa Jawa di Batu (1996), bahasa Using mendapat rekomendasi untuk diajarkan di sekolah, berdasarkan SK Kakanwil Depdikbud Provinsi Jatim tahun 1997. Mulailah pengenalan pengajaran bahasa Using terbatas di sekolah dasar di tiga kecamatan dan diajarkan secara menyeluruh tahun 2005.

 

2.       Periode 2002 – 2012

Abdurrahman (1974) dalam buku kecilnya “Sekedar petunjuk untuk dapat berbicara bahasa Osing”, sebenarnya sudah memulai peringatan akan “lonceng kematian” bahasa Using dengan menulis “makin terdesaknya bahasa aslinya.”

   Tidak ada yang bisa menolong bahasa Using kecuali masyarakat penggunanya sendiri. Seperti dikatakan oleh Fennel yang dikutip oleh Jones dan Singh (2005:122), ”Bahasa minoritas yang terus mengecil jumlahnya,....hanya dapat diselamatkan oleh dirinya sendiri dan kemudian, hanya anggota masyarakat penggunanya yang berupaya untuk menghentikan pengecilannya.”

   Salah satu tahun terpenting dalam perkembangan bahasa Using tulis adalah diterbitkannya Kamus Bahasa Daerah Using-Indonesia oleh Dewan Kesenian Blambangan tahun 2002. Dalam kamus tersebut disisipkan pula Tata Ejaan Bahasa Using. Dari sinilah bahasa Using moderen memulai langkahnya dan menggerakkan penerbitan lain yang signifikan dalam perkembangan bahasa Using.

   Selain tiga buku pelajaran Lancar Basa Using untuk Sekolah Dasar masing-masing kelas 4,5,6 (2005) dan tiga buku pelajaran Lancar Basa Using untuk SMP masing-masing untuk kelas 7, 8, 9 terbit tahun 2007, serta sebuah buku Dongeng (2002), Unen-Unen Basa Using (2003). Dua buku yang disebut terakhir lebih banyak sebagai buku penunjang pelajaran.

   Pada tahun 2005, Dewan Kesenian Blambangan menerbitkan Pereng Puthuk Giri, sebuah novelet bahasa Using pertama, yang ditulis oleh Abdullah Fauzi. Novelet ini merupakan karya prosa pertama dalam periode bahasa Using moderen.

   Tahun 2012, sekelompok dosen dari Universitas Jember, Ayu Sutarto, Marwoto dan Heru SP Saputra, mengeluarkan buku dongeng yang berjudul Mutiara Yang Tersisa III, Kearifan Lokal dalam Cerita Rakyat Using. Cerita utama disajikan dalam bahasa Indonesia, dan disandingkan bersamaan dengan bahasa Using dan bahasa Inggris.

 

3.       Periode 2013 dan seterusnya

Sampai tahun 2013 ini, tidak cukup banyak Media Buatan yang dapat diakses oleh pelajar yang belajar bahasa Using di sekolah. Idealnya, anak-anak sekolah tak hanya belajar mengenai bahasa tersebut di dalam kelas, tetapi mendapati bahasa tersebut di luar kelas.

Kekhawatiran tersebut didasari oleh ancaman kematian bahasa itu sendiri.

When a language dies, it is not because a community has forgotten how to speak, but because another language has gradually ousted the old one as the dominant language for political and social reasons. Typically, a younger generation will learn an ‘old’ language from their parents as a mother tongue, but will be exposed from a young age to another more fashionable and socially useful language at school.” (Aitchison, 2001:235).

(Kematian sebuah bahasa bukan karena komunitas tersebut lupa cara bertutur, tetapi karena bahasa lain secara perlahan menggantikannya sebagai bahasa yang lebih dominan secara politis maupun sosial. Biasanya, generasi mudanya belajar ‘bahasa kuna’ dari orang tua mereka sebagai bahasa ibu, lantas berhadapan dengan bahasa lain yang lebih kekinian dan secara sosial lebih bermanfaat di sekolah.)

   Seperti akar bahasanya, yaitu bahasa Kawi, bahasa Using tidak mengenal unggah-ungguh berdasar perbedaan kasta sosial seperti bahasa Jawa. Tetapi justru karena itu, oleh sebagian besar pendatang Jawa, bahasa Using dianggap tidak bermartabat. Dengan kuatnya pengaruh Jawa, generasi Using, apalagi yang berasal dari keluarga Jawa, memandang bahasa ini kurang bergengsi.

   Dalam lingkungan pergaulan sekarang, generasi tersebut juga lebih diajarkan berbahasa Indonesia, bahkan berbahasa Inggris yang lebih banyak ditemui dalam pergaulan.

   Yang membuat situasinya makin parah adalah: bahasa Using tidak mempunyai tradisi tulis yang kuat. Layaknya karya tradisional lainnya, sastra using berkembang sebagai sastra lisan, dalam bentuk lagu-lagu rakyat, pantun dan lain-lain.

   Keadaan itu menimbulkan kegerahan beberapa orang diaspora Banyuwangi maupun yang tinggal di Banyuwangi. Sekumpulan orang yang mempunyai visi sama untuk meningkatkan budaya baca tulis bahasa Using khususnya dan ikut menjaga budaya secara umum. Budaya membaca, harus juga didukung dengan tersedianya buku-buku. Munculnya buku harus didukung oleh penulisan, jadi terjaga adanya sebuah kegiatan literasi yang berkelanjutan.

   Kelompok komunitas ini bergerak dengan menggunakan pendanaan mandiri tanpa bantuan pemerintah.

   Buku-buku yang diterbitkan ini sebagian dijual bebas di toko buku dan sebagian lagi dihibahkan ke sekolah-sekolah dan rumah baca untuk menggairahkan karya tulis berbahasa Using. Lomba mengarang tahunan itu sekarang sudah memasuki tahun yang keempat. Buku kumpulan hasil lombanya yang diberi judul Kembang Ronce sudah terbit tiga judul di tahun 2013-2014-2015. Gairah menulis sebenarnya sudah cukup besar karena setiap tahun rata-rata ada sekitar 50 naskah yang masuk ke panitia.

   Walaupun hasil Lomba setiap tahun menunjukkan hasil yang relatif stagnan, yang disayangkan adalah Kelompok umur SD bahkan berkurang sampai sama sekali tidak ada yang berpartisipasi.

Menilik perkembangannya, seperti yang terlihat dalam hasil lomba mengarang cerita pendek berbahasa Using, terjadilah apa yang disebut “Bunuhdiri Bahasa” (Language suicide). Fenomena ini terjadi saat dua bahasa yang mirip, yang kurang bergengsi meminjam kosakata, konstruksi dan ucapan dari bahasa lain yang secara social lebih diterima. Dalam proses jangka panjang, akhirnya bahasa tersebut akan diserap secara menyeluruh (Jean Aitchison,2001).

   Banyak kosakata dan ungkapan yang dipakai dalam hasil karangan tersebut, merupakan pinjaman dari bahasa Jawa, yang mirip dengan bahasa Using. Bahkan kadang memakai ungkapan bahasa Indonesia. Dalam buku Isun Dhemen Basa Using #2, disebutkan Bahasa Jawa dan Bahasa Using, karena akar yang sama tadi, mempunyai: a. Kata-kata yang sama tetapi beda arti b. Kata-kata yang mirip dengan arti yang sama c. Kata-kata dan ungkapan yang sama sekali berbeda. (Jusuf: 2014).

   Bisa dikatakan tahun 2013 merupakan salah satu tonggak penting dalam perkembangan bahasa Using dalam Media Buatan. Tahun tersebut ditandai dengan terbitnya empat buku berbahasa Using, dan dimulainya kegiatan tahunan yang menjadikan tumbuhnya kegiatan menulis dalam bahasa Using.

   Buku dongeng yang ditampilkan dalam tujuh bahasa sekaligus ditulis oleh pegiat wisata Aekanu Hariyono, berjudul Kemiren (Kisah Barong Jakripah dan Paman Iris). Cerita tersebut diambil dari legenda rakyat Kemiren Banyuwangi, yang sering ditampilkan dalam pertunjukan tradisional Barong. Cerita dalam bahasa Indonesia dan Using, dan ditampilkan pula dalam bahasa Inggris, Belanda, Perancis, Jawa dan Italia.

   Sebuah novel dwi bahasa Using-Indonesia, Nawi BKL Inah, diterbitkan oleh Penerbit Republika di Jakarta Juni 2013. Pada akhir tahun itu juga, diterbitkan buku Isun Dhemen Basa Using, yang merupakan buku penunjang pelajaran sekolah.

   Tahun 2014, merupakan tahun yang aktif untuk karya Bahasa Using yang muncul dalam Media Buatan dalam bentuk buku-buku:

1.       Enam Mata Tentang Banyuwangi (kumpulan artikel tiga bahasa)

2.       Markas Ketelon (kumpulan cerita anak-anak)

3.       Kembang Ronce 2014 (kumpulan cerita pendek hasil Lomba Mengarang)

   Di lain pihak, perkembangan berikutnya, tahun 2014 juga membawa kabar buruk dalam bahasa Using. Setelah pengajaran bahasa Using di SMP dan Tsanawiyah dibubarkan menyusul Kurikulum 2013 yang mensyaratkan guru harus mengajar sesuai dengan bidang studinya, terjadi pula efek “kurang komunikasi” dari pihak yang berurusan dengan Perencanaan Status dan pihak yang berususan dengan Perencanaan Korpus.

   Dalam istilah Strategi Perencanaan Bahasa, Corpus Planning yaitu perubahan pada bahasanya, sementara Status Planning dikatakan bersifat sosiopolitis sehingga tidak hanya melulu berurusan dengan bahasa tetapi menyangkut juga unsur sosial, bisnis, media dan sebagainya.

   Singkat kata, Status Planning dilaksanakan oleh politisi dan petugas administrasi, sementara Corpus Planning oleh ahli bahasa. Karena ahli bahasa biasanya tidak punya posisi menentukan secara politis, sementara politisi tidak punya pengetahuan sosiolinguistik yang cukup, pertukaran ide-ide antar dua kubu ini sering tidak terkoordinasi dengan benar, bahkan malah tidak terjadi sama sekali. Akibatnya, proses promosi pengembangan bahasa menjadi melemah dalam kadar yang signifikan (Bartens 2001:29).

   Meski sudah ada Peraturan Daerah nomor 5 tahun 2007 tentang Pembelajaran Bahasa Daerah pada Jenjang Pendidikan Dasar dan Pengakuan oleh Badan Bahasa Pusat tentang kontribusi Bahasa Using pada Bahasa Indonesia (Budiwiyanto, 2011), pengajaran bahasa Using mengalami penyusutan karena keluarnya Peraturan Gubernur Jawa Timur Nomor 19 tahun 2014, pasal 2:

 

“Bahasa daerah diajarkan secara terpisah sebagai mata pelajaran muatan lokal wajib di seluruh sekolah/madrasah di Jawa Timur, yang meliputi Bahasa Jawa dan bahasa Madura dengan Kurikulum sebagaimana tersebut dalam Lampiran.”

 

   Dengan tidak disebut secara hitam putih dalam Pergub tersebut, dalam sebuah pelatihan menulis, seorang guru menerangkan bahwa sebagian guru sekolah dasar juga meninggalkan pengajaran bahasa Using karena Pergub tersebut.

Penerbitan karya berbahasa Using dalam Media Buatan di tahun 2015 menjadi lebih produktif lagi:

1.       Nganggit Nganggo Basa Using (pelajaran menulis)

2.       Jala Sutera (kumpulan cerpen)

3.       Niti Negari Bala Abangan (novel dwi bahasa Using-Indonesia)

4.       Belambangan 1771 (kumpulan cerpen sejarah)

5.       Kembang Ronce 2015 (kumpulan cerpen hasil Lomba Mengarang)

   Sampai pertengahan 2016, meski baru satu buku yang terbit, yaitu Isun Dhemen Basa Using 2, yang merupakan buku penunjang pelajaran sekolah, komunitas tersebut berhasil memulai kerjasamanya untuk menerbitkan cerpen setiap minggu di media cetak Tabloid Bisnis Banyuwangi mulai Maret 2016.

   Komunitas juga memberi penguatan dalam dunia maya dengan membentuk grup Facebook: 1. Pelajaran Bahasa Using dan 2. Cerpen Using. Dalam media ini, segala pertanyaan menyangkut materi masing-masing didiskusikan. Untuk grup Pelajaran Bahasa Using, rujukan yang digunakan adalah pelajaran Bahasa Using yang diajarkan di sekolah. Demikian juga pelatihan-pelatihan menulis yang dilaksanakan untuk umum maupun untuk guru-guru pengajar bahasa Using.

 

KESIMPULAN DAN SARAN

Usaha revitalisasi bahasa Using lewat Media Buatan di Banyuwangi tidak banyak melibatkan peran pemerintah. Setelah keluarnya Perda tentang Pengajaran Bahasa Using tahun 2007, tidak ada lagi usaha-usaha yang dilakukan pemerintah untuk mendorong tegaknya bahasa Using di Banyuwangi.

   Bahasa Using menghadapi Bunuhdiri Bahasa karena kuatnya pengaruh bahasa lain terbukti banyaknya kosakata yang dipakai dalam hasil Lomba Mengarang cerita pendek Berbahasa Using. Sehingga perlu dicarikan jalan penguatan dalam hal pengajaran di dalam kelas maupun materi-materi Media Buatan yang menunjang berkembangnya bahasa tersebut.

   Disarankan agar 1) diperbanyak pelatihan untuk guru-guru pengajar, terutama yang tidak mempunyai latar belakang bahasa Using, 2) diperbanyak buku-buku pelajaran maupun pengayaan, 3) diperbanyak media yang menggunakan bahasa Using terutama Media Buatan dan Media Mekanis, 4)pemerintah daerah mempunyai perhatian yang lebih intens terhadap bahasa Using.

 

REFERENSI:

Aitchison, Jean, 2001, Language change: progress or decay?, Cambridge University Press, Cambridge

Arifin, Winarsih P. 1995, Babad Blambangan, Bentang, Yogyakarta

Arps, Bernard, 2010, ‘Terwujudnya Bahasa Using di Banyuwangi dan Peranan Media Elektronik di dalamnya (Selayang Pandang 1970-2009) dalam Geliat Bahasa Selaras Zaman: Perubahan Bahasa-Bahasa di Indonesia pasca Orde Baru, ILCAA Tokyo University for Foreign Studies, Tokyo

Budiwiyanto, Adi, Kontribusi Kosakata Bahasa Daerah Dalam Bahasa Indonesia, artikel Badan Pengembangan Dan Pembinaan Bahasa, (diunduh tanggal 15 Juli 2016) http://badanbahasa.kemdikbud.go.id/lamanbahasa/artikel/1285

Danesi, Marcel, 2010, Pengantar Memahami Semiotika Media, Jalasutra, Yogyakarta

Jones, Mari C. and Ishtla Singh, 2005, Exploring Language Change, Routledge, New York

Jusuf, Antariksawan ed., 2014, Membicarakan Seni dan Sastra Banyuwangi, Pustaka Larasan, Denpasar

Jusuf, Antariksawan dan Hani Z. Noor, Isun Dhemen Basa Using 2, SKB, Banyuwangi

Jusuf, Antariksawan, Dari Using dan Banyuwangi kembali ke Blambangan, artikel di Jawa Pos Radar Banyuwangi, 20 Juni 2014

--------------------------, The Imminent Death of Banyuwangi’s Using Language, artikel  di The Jakarta Post, 1 Nov 2014

Hariyono, Aekanu, 2013, Kemiren (Kisah Barong Jakripah dan Paman Iris), Kiling Osing Banyuwangi, Banyuwangi

Herusantosa, Suparman, 1987, Bahasa Using di Kabupaten Banyuwangi, UI, disertasi tidak diterbitkan

Margana, Sri, 2012, Perebutan Hegemoni Blambangan, Pustaka Ifada, Yogyakarta

Maskur dkk, 2005, Lancar Basa Using untuk SD/MI kelas 4, 5, 6, Pemkab Banyuwangi

---------------, 2007, Lancar Basa Using untuk SMP/MTs kelas 7,8,9 Pemkab Banyuwangi

Moleong, Lexi J, 2004, Metodologi Penelitian Kualitatif, Remaja Rosda Karya, Bandung

Sutarto, Ayu dkk, 2012, Mutiara yang Tersisa III, Kearifan Lokal dalam Cerita Rakyat Using, Kompyaswisda Jatim, Jember

Wilis, Endro,  Istilah ‘Using’ adalah Racun yang Melumpuhkan Jiwa dalam Lembar Kebudayaan, PSBB, Banyuwangi edisi 10 Maret 2010