Kamis, 09 Juni 2016


 
 
Isun Dhemen Bahasa Using #2 (Bahasa Jawa vs Bahasa Using)

Hambatan apa yang membuat bahasa Using terseok-seok di halaman rumahnya sendiri? Salah satunya adalah pengaruh bahasa luar: Jawa, Indonesia dan cara pandang masyarakat terhadap dirinya sendiri.
Soal kuatnya Bahasa Jawa, banyak orang Banyuwangi keturunan keluarga Jawa merasa Bahasa Using bukan bahasa yang mempunyai tingkat yang sama dengan bahasa Jawa. Hal ini terjadi karena mereka mengukur “baju” Using menggunakan ukuran Jawa. Seperti diketahui, bahasa Jawa menggunakan unggah-ungguh perbedaan pilihan kata berdasarkan kasta sosial orang. Sementara Bahasa Using lebih cenderung egaliter, tanpa membedakan kasta sosial seseorang. Meski sekarang ada besiki, versi “halus” bahasa Using yang tidak sampai 1000 kata.
   Pada saat diadakan pelatihan menulis untuk guru-guru Bahasa Using di Aula Pendidikan Nasional tahun 2015 lalu, seorang guru Bahasa Using mengatakan, dia tidak menyarankan anaknya berbahasa Using, karena seorang muridnya berkata padanya: “Pak Guru, nong cangkeme ana upane.” Memakai ukuran Bahasa Jawa, pak guru tersebut berkesimpulan muridnya kurang ajar. Karena cangkem merupakan kata yang terbilang “kasar” diucapkan oleh seorang murid terhadap gurunya. Kalau memakai ukuran Bahasa Jawa. Tapi tidak dengan ukuran Bahasa Using. Bisa dipahami, gegar lintas budaya (cross-cultural shocks) mengurangi kekuatan keberadaan Bahasa Using. Wajar, seperti dikutip Suparman Herusantosa dalam disertasinya “Bahasa Using di Kabupaten Banyuwangi” dari Ayatrohaedi, bahasa yang pemakainya lebih kecil akan dipengaruhi oleh bahasa yang lebih besar.
   Bahasa Indonesia sebagai bahasa nasional, sebagai bahasa pengantar di sekolah, juga makin memojokkan posisi bahasa Using. Masih dalam disertasi Suparman, mengutip Mario Pei (1965:48), bahwa sejak bahasa nasional diberlakukan, bahasa daerah (dialek) akan terus mengecil.
Secara kodrat, kita memang tidak bisa mengerem perubahan. Paling tidak yang bisa dilakukan adalah mengerem kondisi tersebut. Memperlambat tergerusnya Bahasa Using adalah dengan lebih banyak menggunakan kosakata Using, daripada bahasa yang mempengaruhinya.
   Itulah salah satu ajakan yang muncul dalam buku Isun Dhemen Basa Using #2. Buku sebelumnya, Isun Dhemen Basa Using, lebih banyak menyajikann kata-kata benda. Sementara IDBU 2, menawarkan hal lain: lawan kata, cara penulisan dalam bahasa Using baku, kata-kata yang berakhiran suara yang sama (ini penting untuk pembelajar yang akan mencari kata-kata untuk basanan atau pantun, dalam Bahasa Using). Dan yang paling penting IDBU#2, menyajikan pilihan kosakata Using, daripada bahasa Jawa atau Indonesia.
   Apalagi, karena asal-usulnya yang sama, yaitu Bahasa Kawi, Bahasa Jawa dan Using, mempunyai banyak persamaan sekaligus perbedaan.

1.       Kata yang sama tetapi artinya berbeda:

Kata
Using
Jawa
Coret
korek api
Coret
Gendheng
Tuli
Gila
Gering
Kurus
Sakit
Jumputan
‘rengginang’
jenis motif batik
Kendi
Apa; mana; berapa
Cerek dari tanah liat
Kokoh
Kuah
makan nasi dan kuahnya dicampur
Lamuk
Berterbangan ditiup angin
Nyamuk
Luput
Salah
Meleset
Mbok
kakak perempuan
Ibu
Saba
pisang kepok
Mengunjungi
Sangar
masakan dengan kuah santan
Menyeramkan
Santhet
memikat dengan mantra
Sihir
Sawi
Singkong
sejenis sayur

2.       Ada juga kata yang mirip dengan arti yang sama

Using
Jawa
Arti Indonesia
 
 
 
Ambi
ambek
dengan; bersama
Amet
amek
Ambil
Anteni
enteni
Tunggu
Apuwa
apaa
Mengapa
Arep
ape
Akan
Bengen
biyen
Dulu
Cidhek
cedhak
Dekat
Ciut
sempit
Sempit
Deleh
dekek
Taruh

3. Masing-masing Bahasa Jawa dan Using mempunya kata yang berbeda
 

Sudah ada kata Using ini
Jangan pakai kata Jawa ini
Arti Indonesianya
 
 
 
Aran
Jeneng
Nama
Aron
Waras
Sembuh
Bangur
Aluwung
Lebih baik
Berak
Bengok
Jerit
Candhak
Cekel
Pegang
Canthuk
Uleg-uleg
Anak cobek
Capah
Delamakan
Telapak
Cetholan/gerunggung
Rengginang
‘rengginang’
Cumpu
Ndilalah
Ternyata (tidak seperti yang diharap)
Cumpune
Tibake
Ternyata
Curung
tundun
Tandan
Dhemenane
Senengane
Kesukaannya
Dhogolan
Ote-ote
Bertelanjang dada
Dhingklik
jinjit
Jinjit
Elom
Luwe
Lapar
Enget
Iling
Ingat
 

Kata-kata di atas, adalah sebagian yang diambil dari buku Isun Dhemen Basa Using #2. Pengalaman mengedit cerpen berbahasa Using hasil Lomba selama empat tahun terakhir, banyak sekali penulis yang menggunakan Bahasa Jawa atau Indonesia, meski sudah tersedia Bahasa Usingnya. Entah karena kemalasan mencari atau memang tidak tahu. Yang jelas kalau kita ingin Bahasa Using lebih tegak berdiri, gunakan bahasa Using selama ada istilahnya. Dan Jangan gunakan kata dari bahasa yang lain.
iwandear@gmail.com

Buku-buku berbahasa Using, termasuk Isun Dhemen Basa Using 2, bisa didapatkan di toko buku Timur Bersaudara, Jl. Jenderal Sudirman, dekat Perliman, atau Ruang Pamer Disperindagtam, Jl. A. Yani, sebelah selatan TMP. Atau untuk yang luar kota, bisa order ke: basausing@gmail.com

Rabu, 08 Juni 2016

Isun Dhemen Basa Using


Isun Dhemen Basa Using

Pertanyaan yang sudah sering dilontarkan oleh banyak orang, kapan kamus Using-Indonesia diterbitkan lagi? Sebuah pertanyaan yang sampai saat ini jawabannya adalah: hanya Tuhan yang tahu.
   Lantas buku apa yang menjadi rujukan dan membantu anak-anak dan orangtua yang sedang belajar bahasa Using?
   Buku Isun Dhemen Basa Using menjawab sebagian pertanyaan tersebut. Diterbitkan pertama kali bulan Desember 2013, karena tingginya permintaan dikeluarkan cetakan keduanya pada bulan Mei 2015.
   Buku ini dimaksudkan untuk memperkaya kosakata pembelajar, dengan susunan berbagai macam kata, utamanya kata benda, yang sudah dikelompokkan menurut jenis bendanya.      Misalnya, ada kategori benda-benda dalam rumah, bagian-bagian rumah, binatang, pekerjaan, penyakit, kata-kata yang berhubungan dengan agama, ritual, juga kata-kata yang berhububgan dengan petani, peralatannya, tumbuh-tumbuhan serta rajakaya dan lain sebagainya. Seperti kamus kata-kata ini sudah disusun secara alfabetis.
   Untuk pembelajar bahasa, ada pula susunan kata-kata yang dikategorikan sebagai kata besiki, yaitu versi "halus" dari basa Using. Besiki, diyakini sebagai adaptasi orang Using terhadap pengaruh bahasa Jawa yang mempunyai unggah-ungguh bahasa berdasarkan kasta sosial. Sementara, bahasa Using, yang mirip awal akarnya yaitu bahasa Kawi, tidak mengenal perbedaan pilihan kata berdasarkan kasta sosial, menyerap kebiasaan unggah-ungguh tersebut tetapi menerapkannya dengan cara yang berbeda. Besiki tidak digunakan dari anak ke bapaknya, atau ponakan pada pamannya, besiki lebih banyak digunakan saat bercakap dengan orang yang tidak begitu dikenal, orang asing, lebih sebagai bentuk penghormatan. Ada sekitar 500 kata Using yang mempunyai versi Besiki dalam buku ini.
   Di luar kata-kata benda tersebut, buku ini memuat juga puluhan Wewarah, nasihat khas orang Using Banyuwangi yg bisa digunakan sebagai pengingat untuk anak-anak maupun orang dewasa. Wewarah ini ditulis oleh seniman pengarang lagu yang sudah menelorkan lebih dari 300 judul lagu: Pak Andang CY.

   Pada edisi cetakan kedua, ditambahkan deskripsi tentang Panggonan Ngelencer, tempat wisata yang ada di Banyuwangi. Gunanya lebih untuk guru Bahasa Using, memperkaya pengetahuan anak didiknya tentang kekayaan alam yang daerah mereka punyai.

   Setahun setelah terbit cetakan kedua, terbitlah Isun Dhemen Basa Using #2. Isinya? Kita tunggu pada ulasan berikutnya.

   Buku-buku berbahasa Using, bisa didapatkan di toko buku Timur Bersaudara, Jl. Jenderal Sudirman, dekat Perliman, atau Ruang Pamer Disperindagtam, Jl. A. Yani, sebelah selatan TMP. Atau untuk yang luar kota, bisa order ke: basausing@gmail.com

Selasa, 07 Juni 2016

Dokumenter Vicky Banyuwangi, juwara ring In-Docs



Dina iku Kamis 27 Mei 2016, Erasmus Huis ring Kedutaan Walanda Jakarta muter Sang Penari, pelem dokumenter gawenane lare Banyuwangi Vicky Hendri. Pelem dokumenter iku salah siji teka rong proyek pelem dokumenter hang nggawa tema Dissappearing Sounds (Suwara-suwara hang lamat-lamat Ilang). Lomba lan produksine digarap ambi In-Docs, yayasan swasta hang disponsori ambi Ford Foundation.

Setemene hang milu lomba ana 20 proposal sak Indonesia, hang juwara ana lima, taping hang diproduksi mung telung judhul, hang uwis dadi loro, kelebu ane Vicky. Banyuwangi juwara!

Vicky melaku nyang Jakarta dikancani ambi kang Samsul, seniman tari asal Kemiren hang dadi lakone ring pelem dokumentere, nduduhaken gok ring Banyuwangi magih ana seniman tari hang mati urip nyendhenaken nasibe nyang seni. Kang Samsul, hang sedina-dinane dadi guru honorer ring SMKN 1 Banyuwangi, kala-kala bisa dadi jaranan buta, melibeng nunggang sepidha udut teka desa siji nyang desa liyane, milu dadi penari ring Gandrung Sewu, kadhang sampek dadi maskot klub tembung Persewangi, nganggo kostum penyu njuget-njuget pelencatan ring ngarepe penonton tembung. Lan iyane hing wedi golet rejeki mung teka seni. Ring saben dinane, Kang Samsul iki ya magih njaring wader nong banyu ring Kemiren dienggo iwak segane anake.

Kang seru apike, Vicky mbandhingaken lan nyandhingaken paran hang dilakoni Kang Samsul ambi lakon sejarah Wong Agung Wilis ring Banyuwangi. Cerita jayane raja Belambangan kaya diputer maning ring jaman saiki kelawan nyuguhaken karakter-karakter ring jugetane Kang Samsul ditepak-tepakaken ambi umbak umbul uripe Wong Agung Wilis. Paran hang wis dadi sejarah, ya magih ana gandhengane ambi kedadeyan saikine.
 
                                                 Vicky Hendri Kurniawan (nomer telu teka kiwa)
                                              ambi Kang Samsul nong diskusi pelem dokumenter
                                                         Ring Erasmus Huis Kedutaan Walanda Jakarta
 

Apuwa Vicky duwe karep nggarap cerita uripe Kang Samsul hang kelebu sing pati hebat? Apuwa hing nggarap tema “seksi” kaya dene lare hang teka Makassar nggarap “Reklamasi” pesisir Makassar hang nggawe susahe wong njaring (nelayan) hang manggon ring pesisir kana?

“Ya mula Sun seja nggarap ceritane Kang Samsul, dudu cerita-cerita gedhi liyane. Malah cerita susah uripe Kang Samsul iki hang mula kudune diangkat, kerana cerita digi iki hing ana hang mareki,” jare Vicky lare Segubang hang pelem dokumentere tau menang sak Indonesia.

Kelawan nggawe pelem ceritane penari kaya Kang Samsul, Vicky kayane arep mbukak matane uwong-uwong akeh gok majune kesenian ring Banyuwangi, durung bisa akeh mbantu jejeg uripe para seniman hang ngelakoni urip gandolan ring seni.
iwandear@gmail.com

Senin, 06 Juni 2016

Kosakata Using dan Kamus Bahasa Daerah USING-INDONESIA



Sebuah artikel yang ditulis oleh Adi Budiwiyanto, dari Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa (BP2B), membicarakan tentang kontribusi kosakata dari bahasa daerah dalam Bahasa Indonesia. http://badanbahasa.kemdikbud.go.id/lamanbahasa/artikel/1285.

Di antara 514 bahasa daerah yang ada di Indonesia, Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) memuat kosakata kurang lebih 70 bahasa dan beberapa dialek. Dalam KBBI edisi keempat itu, terdapat entri sebanyak 3.592 kosakata dari bahasa daerah.

Bahasa Using menduduki tempat ke 9 dari 70 bahasa daerah yang memberi kontribusi kosakata dalam KBBI, sebanyak 46 kata atau 1,28 persen. Memang terasa sedikit dibanding bahasa Jawa 1109 kata atau 30,87 persen, tapi sudah lebih bagus dari bahasa-bahasa daerah lain seperti Batak (32 kata), Bugis (24) dan bahasa daerah lain.

Jelas oleh BP2B, bahasa Using dikategorikan sebagai sebuah bahasa dan bukan dialek Jawa. Barangkali, artikel ini menjadi jawaban orang-orang Banyuwangi yang masih meragukan kedudukan Bahasa Using dalam percaturan perbahasaan nasional. Terlebih lagi saat munculnya, Pergub 19/2014 tentang Mata Pelajaran Bahasa Daerah sebagai Muatan Lokal Wajib di Sekolah/Madrasah dan Perda Jatim No. 9/2014 tentang Penyelenggaraan Pendidikan. Tiba-tiba beberapa orang Banyuwangi, seperti kehilangan kepercayaan diri terhadap bahasanya sendiri. Pergub tersebut, memang tidak secara hitam putih menyebut bahasa Using sebagai bahasa lokal yang boleh diajarkan di sekolah. Orang-orang itu lupa bahwa Banyuwangi mempunyai Perda No. 5 tahun 2005 tentang Pengajaran Bahasa Using di sekolah.

Soal kosakata Bahasa Using, mau tidak mau orang merujuk pada Kamus Bahasa Daerah USING-INDONESIA yang disusun oleh Hasan Ali. Sejauh pengamatan saya, kamus ini adalah kamus Using yang terlengkap di dunia. Meski tidak pernah diperbaharui lagi sejak diterbitkannya tahun 2002, mentok sampai cetakan kedua, tidak ada produk kamus Using yang bahkan mendekatinya. Wajar saja, kamus ini menjadi rujukan banyak orang mengenai bahasa Using.

Yang membuat penyusunnya perlu diacungi jempol adalah beliau ini tak hanya menyusun kamus dengan kurang lebih 24.000 entri, beliau juga menulis buku tentang Bahasa Using yang lain yaitu Pedoman Umum Ejaan Bahasa Using (Cara Menulis dan Membaca Bahasa Using) dan Tata Bahasa Baku BAHASA USING.

Dan tidak berhenti di sana. Perjuangannya yang lebih dahsyat lagi adalah: membawa Bahasa Using menjadi pelajaran muatan lokal di sekolah-sekolah. Jadi apapun yang dikatakan orang, apakah itu kamus merupakan opini penulisnya, tidak mengurangi nilai kerja keras beliau menghasilkan buku-buku yang menjadi dasar rujukan seluruh pengajaran Bahasa Using sekarang.

Dengan jiwa besar beliau, kalau pun masih hidup, barangkali beliau tidak akan mengatakan begini kepada pengritiknya: Ini bukuku, ini kamusku. Mana bukumu, maka kamusmu?” Karena saya sangat tahu, beliau sangat menghormati orang-orang yang secara pemikiran berseberangan dengannya.  Meskipun orang-orang yang berseberangan dengan beliau tersebut, kemampuannya hanya pada mencela pekerjaan beliau dan tidak pernah berbuat apa-apa terhadap bahasa Using. Para pencela itu tidak pernah menulis buku, tidak pernah menulis kamus. Hanya mencela. Yang artinya tidak membangun Bahasa Using, malah ingin menghancurkannya.

Dengan begitu terang-benderangnya kedudukan Bahasa Using di BP2B, maka keraguan yang dikumandangkan sekelompok orang dengan mempersoalkan lagi masalah ejaan adalah langkah mundur. Oh ya, BP2B, menulis dengan ejaan USING dan bukan memakai ejaan yang lain.

Lebih penting adalah memikirkan bagaimana guru-guru bisa mendapat lebih banyak buku pengayaan untuk materi ajar, bagaimana guru-guru bisa meningkatkan pengetahuan tentang Bahasa Using dengan mengadakan pelatihan-pelatihan. Dan harus dipikirkan pula, bagaimana kesinambungan ribuan siswa yang saat ini menerima pelajaran Bahasa Using di sekolah, jika masih saja berkutat dan meributkan masalah ejaan dan kedudukan Bahasa Using itu sendiri.

#SingKakeyanBecong #SanggaKamusBanyuwangi #Siji-sijineKamusBasausing  

iwandear@gmail.com

Selasa, 17 Mei 2016

Juni 2016, Tiga Tahun Gerakan Buku Berbahasa Using Banyuwangi



Bulan Juni 2016 mendatang, sebuah upaya pelestarian bahasa Using melalui penulisan buku akan mencapai tahun ketiganya. Bertempat di Pelinggihan Dinas Pariwisata tiga tahun lalu, sebuah novel dwi bahasa Using-Indonesia berjudul Nawi BKL Inah diluncurkan. Novel yang diterbitkan oleh Republika Penerbit itu merupakan tonggak kecil yang mengawali penerbitan buku-buku lain berbahasa Using maupun buku dwi bahasa sebagai bagian dari gerakan “menghidupkan” bahasa tulis Using di kalangan masyarakat Banyuwangi, pemilik bahasa tersebut.
Bahasa Using yang sebenarnya sudah diperkenalkan sebagai muatan lokal di sekolah dasar tahun 1997. Sejak diundangkan lewat Perda No. 5 tahun 2005, ia semakin mendapat amunisi untuk bergerak ke depan. Sayangnya Perda tersebut juga tidak memicu tumbuhnya karya tulis berbahasa Using. Layaknya bahasa daerah kecil lainnya, bahasa Using lebih berkembang sebagai bahasa lisan, seperti dalam lagu-lagu daerah. (Menurut Ferguson yang dikutip Soepomo dalam disertasi Suparman Herusantosa di Universitas Indonesia berjudul Bahasa Using di Kabupaten Banyuwangi (1987), “Bahasa Daerah Kecil” yaitu bahasa yang prestasinya rendah, tidak mempunyai tradisi sastra, tidak memiliki kodifikasi dan penguasaannya hanya melalui keluarga dan masyarakat dalam situasi tidak formal. Bahasa Daerah Kecil adalah bahasa yang digunakan oleh kurang dari satu juta penduduk.)
Kalaupun ada karya tulis sebatas kumpulan puisi yang tidak beredar luas.
Pada mulanya, buku berbahasa Using  diawali dengan diterbitkannya Kamus Bahasa Daerah Using-Indonesia yang diluncurkan tahun 2002, ditulis oleh almarhum Hasan Ali. Belakangan penulis yang sama mengeluarkan Pedoman Umum Ejaan Bahasa Using (2006 ) dan Tata Bahasa Baku Bahasa Using (2006). Sebagai materi pembahasan bahasa, dua buku terakhir ini berpengantar bahasa Indonesia.
Setelahnya, terbit  pula karya tulis berbahasa Using yang sifatnya sebagai buku pengayaan bacaan sekolah berupa Dongeng (Cerita Rakyat Banyuwangi) tahun 2002, karya keroyokan seniman budayawan Banyuwangi dan Unen-unen Basa Using (2003)karya maestro pengarang lagu Banyuwangi Andang CY. Dengan diajarkannya bahasa Using di sekolah, lantas belakangan muncul buku pelajaran dengan wujudnya tiga jilid buku pelajaran sekolah SD, Lancar Basa Using (2005) dan tiga jilid buku SMP Paseh Basa Using (2005).
Tahun 2005, sastrawan Abdullah Fauzi atau yang dikenal sebagai Kang Ujik, menulis novelet Pereng Puthuk Giri. Inilah karya sastra prosa berbahasa Using pertama yang pernah diterbitkan. Pegiat budaya sekaligus professor dari Universitas Jember, almarhum Prof. Ayu Sutarto bersama Marwoto dan Heru SP Saputra, tahun 2013 menerbitkan buku cerita anak-anak tiga bahasa Using, Indonesia dan Inggris, berjudul: Mutiara yang Tersisa III, Kearifan Lokal Dalam Cerita Rakyat Using.
Sementara majalah Seblang yang diterbitkan oleh Dewan Kesenian Blambangan tidak pernah lagi terlihat kelebatnya. Justru Balai Bahasa Jawa Timur di Surabaya yang masih rutin menerbitkan majalah Lontar Using, meski hanya dua kali dalam setahun. Tetapi majalah ini satu-satunya yang ikut menjaga eksistensi bahasa tulis Using dalam sebuah penerbitan periodikal.
Bulan Juni 2013, Nawi BKL Inah diterbitkan dan diberi pengantar oleh sastrawan Seno Gumira Ajidarma, ditulis menggunakan bahasa Using dengan kaidah yang tidak mengikuti kaidah baku penulisan bahasa. Dalam pengantarnya, penulisnya menyadari sepenuhnya format penulisan yang tidak sesuai dengan tata bahasa baku seperti yang sudah diajarkan di sekolah-sekolah, meski dengan resiko, novel tersebut tidak bisa direkomendasikan untuk bacaan anak sekolah.
Nawi BKL Inah merupakan sebuah prosa liris dengan susunan yang terikat pada jumlah baris dan persamaan bunyi pada akhir barisnya. Sebagai sesuatu yang baru dalam penulisan karya sastra berbahasa Using, novel ini setiap tahun menjadi kajian skripsi sarjana:
1.       Trin Meilasari dari Universitas Negeri Surabaya dengan skripsi berjudul: PAMILIHE TEMBUNG LANN LELEWANE BASA SAJRONE LIRIK CARITA BASA USING NAWI BKL INAH ANGGITANE ANTARIKSAWAN JUSUF LAN HANI Z. NOOR (2014)
 
2.       Maulana Affandi dari Fakultas Sastra Universitas Jember dengan skripsi berjudul: NOVEL NAWI BKL INAH KARYA ANTARIKSAWAN JUSUF DAN HANI Z. NOOR: KAJIAN HUMANIORA (2015)
 
3.       Dayu Roshinta P.S. dari Universitas Muhammadiyah Malang dengan judul: ANALISIS DIKSI DALAM PROSA LIRIK NAWI BKL INAH BAHASA USING KARYA ANTARIKSAWAN JUSUF (2016)
 
Pada saat peluncurannya, penulis juga mengadakan lomba mengarang cerita pendek berbahasa Using sebagai usaha untuk mengajak masyarakat lebih terlibat penulisan karya tulis berbahasa Using. Pada akhir tahun itu juga, hasil karya pemenang dan karya bagus lainnya, dibukukan dalam sebuah buku kumpulan cerita pendek berjudul Kembang Ronce 2013. Dan pada tahun-tahun setelahnya, lomba tersebut menjadi bagian tak terpisahkan dari usaha pelestarian bahasa Using. Sehingga terbit juga buku kumpulan cerpen hasil lomba: Kembang Ronce 2014, Kembang Ronce 2015.
 Pada akhir tahun itu juga terbit buku: Isun Dhemen Basa Using (2013), yang berisi berbagai informasi kata benda, nama-nama binatang, kata-kata yang berhubungan dengan agama, ritual dsb. Buku tersebut menjadi rujukan siswa dan guru sekolah dalam proses belajar mengajar. Memenuhi permintaan yang tinggi, buku tersebut mengalami cetakan kedua tahun 2015 dan bahkan menyusul seri keduanya Isun Dhemen Basa Using 2, bulan Mei 2016.
Sejak penerbitan buku Isun Dhemen Basa Using dan Kembang Ronce 2013, seluruh penerbitan buku-buku tersebut menggunakan kaidah bahasa sesuai aturan yang diajarkan di sekolah. Sehingga sebagian buku seperti buku cerita serial anak-anak Markas Ketelon (2014) dan Kembang Ronce 2014 dapat dibagikan ke sekolah-sekolah dalam sebuah acara Hibah Buku, kerjasama antara Ikawangi Jabodetabek dan SKB serta Dinas Pendidikan Banyuwangi.  Buku lain yang terbit adalah Nggesahaken Seni lan Sastra Banyuwangi yang merupakan buku dwi bahasa Using-Indonesia, kumpulan artikel berbagai topik seputar seni dan sastra Banyuwangi. Kontributor untuk buku ini antara lain Dwi Pranoto, Eko Budi Setianto, Hasan Basri, Hasan Sentot, Moh. Syaiful dan Mas Robin.
Tahun 2015, merupakan tahun yang cukup produktif untuk penerbitan buku-buku berbahasa Using. Selain mencetak kembali Isun Dhemen Basa Using, ada juga kumpulan artikel berbahasa Using, Indonesia dan Inggris: Enam Mata Tentang Banyuwangi yang ditulis oleh Hasnan Singodimayan, Hasan Basri dan Antariksawan Jusuf. Lantas menyusul kumpulan cerpen yang ditulis oleh Moh. Syaiful dan Nur Holipah Jala Sutra. Lantas ada pula buku panduan menulis dalam bahasa Using, Nganggit Nganggo Basa Using dan novel dwi bahasa Using-Indonesia Niti Negari Bala Abangan yang ditulis oleh budayawan produktif Banyuwangi Hasnan Singodimayan. Tahun 2015, ditutup dengan diluncurkannya dua buah buku Kembang Ronce 2015 dan Balambangan 1771, kumpulan cerpen seputar perjuangan rakyat Blambangan melawan penjajah Belanda. Selain buku, diterbitkan pula sebuah permainan anak-anak kuarter dengan tema seputar kekayaan budaya, adat, geografi, flora dan fauna Banyuwangi.
Tahun 2016 diawali dengan terbitnya buku Isun Dhemen Basa Using 2 yang peluncurannya bulan Mei dilaksanakan bersamaan dengan pengumuman lomba Mengarang Menggunakan Bahasa Using.
Mudah-mudahan, usaha pelestarian bahasa Using makin maju di masa mendatang.
Antariksawan Jusuf
penulis bahasa Using dan Ketua Paguyuban Sengker Kuwung Belambangan (SKB)
antariksawanjusuf.blogspot.com

Minggu, 13 Maret 2016

Langkah kecil dalam catatan perjalanan Bahasa Using

Tanggal 6 Maret 2016 yang lalu, ada satu peristiwa yang di masa datang bisa tercatat sebagai salah satu langkah penting, sebuah tonggak bersejarah, dalam perjalanan perjuangan, perkembangan dan pelestarian Bahasa Using.
Hari itu, sebuah tabloid mingguan yang terbit di Banyuwangi yaitu "Bisnis Banyuwangi" untuk pertama kalinya memuat sebuah cerita pendek berbahasa Using di salah satu halamannya. Kebetulan cerita pendek tersebut ditulis oleh cerpenis muda Banyuwangi Nur Holipah dengan judul "Patung Gandrung".
Halaman Cerpen berbahasa Using itu akan menjadi sebuah bagian yang hadir secara
rutin setiap minggunya. Memang jika melihat ukurannya yang hanya setengah halaman terlihat sepele. Tetapi untuk perkembangan bahasa Using, kehadirannya menjadi amat sangat signifikan. Mengapa? Inilah untuk pertama kalinya bahasa Using mendapat tempat dalam sebuah penerbitan media cetak umum secara rutin. Setengah halaman itu memberi ruang yang begitu besar bagi bahasa Using untuk terus berkembang.
Selama ini memang bahasa Using tidak banyak diberi peluang untuk berkembang dalam bentuk bahasa tulis. Bahasa Using lebih berkembang dalam bahasa tutur lewat lagu-lagu tradisional, lewat basanan dan wangsalan atau dalam percakapan-percakapan.
Saat ini media yang masih secara rutin diterbitkan dengan menggunakan Bahasa Using adalah majalah Lontar Using yang diterbitkan oleh Balai Bahasa Jawa Timur. Tetapi rentang penerbitannya yang hanya enam bulan sekali dan ditambah dengan jangkauan distribusinya yang terbatas, majalah Lontar Using kurang menimbulkan dampak yang luas, terutama pada masyarakat umum sebagai penutur bahasa Using.
Sebelumnya, juga ada diterbitkan beberapa buku berbahasa Using di luar buku-buku pelajaran sekolah dan penunjangnya, yang diterbitkan secara mandiri, antara lain oleh Sengker Kuwung Belambangan, sebuah organisasi yang mempunyai perhatian kepada perkembangan bahasa Using. Buku-buku tersebut misalnya; kumpulan cerita:Kembang Ronce, Jala Sutera, dan Markas Ketelon. Kumpulan artikel: Nggesahaken Seni lan Sastra Banyuwangi dan Enam Mata Tentang
Banyuwangi. Novel: Nawi BKL Inah dan Niti Negari Bala Abangan dan buku penunjang pelajaran sekolah: Isun Dhemen Basa Using dan Nganggit Nganggo Basa Using.
Koran Radar Banyuwangi pernah memuat cerpen berbahasa Using sebanyak tiga judul dalam edisi minggunya, setelah itu selesai.
Jadi keberanian mingguan "Bisnis Banyuwangi" menyediakan halaman berbahasa Using sungguh seperti oase yang menyegarkan yang selama ini ditunggu-tunggu oleh para pegiat Bahasa Using.
Dengan adanya halaman yang didedikasikan menggunakan bahasa Using, diharapkan dapat memperluas jangkauan distribusi media berbahasa Using ke berbagai lapisan masyarakat. Para pengguna bahasa Using dapat menikmati karya sastra dalam bahasa Using lebih sering. Munculnya karya sastra yang lebih banyak ini juga memberi peluang berkembangnya bahasa Using. Karena pengarang seringkali memunculkan istilah dan lema baru yang belum tercatat dalam Kamus Bahasa Daerah Using-Indonesia yang sejak penerbitannya tahun 2002 lalu belum pernah diperbaharui.
Saya berharap, koran Bisnis Banyuwangi di masa mendatang, bisa memberi halaman lebih luas lagi untuk bisa mewadahi bentuk tulisan lain, tidak hanya sekedar cerpen. Karena untuk menjadi sebagai sebuah bahasa yang utuh, bahasa Using juga harus bisa dan banyak digunakan dalam berbagai bentuk tulisan lainnya: artikel populer, esai, pelajaran, reportase bahkan bahasa ilmiah.
Ayo, ikut menulis dalam halaman tersebut. Itu akan jauuuuh lebih mulia daripada sekedar berdebat apakah bahasa Using itu merupakan sebuah bahasa atau dialek, atau berebut merasa paling benar soal penulisan ejaan sementara ejaan yang baku sudah memiliki pedomannya dan sudah pula diajarkan di sekolah sejak tahun 2007.
Mungkin tidak ada keuntungan material dari langkah kecil upaya pelestarian ini karena ini bukan sebuah proyek yang berharap dan bergantung pada kucuran dana dari manapun. Akan tetapi percayalah, bahwa suatu saat nanti, upaya ini akan menjadi catatan indah dalam perjalanan perkembangan dan pelestarian Bahasa Using.
Kadhung kepingin basa Using iki ngadeg jejeg, aja mung abrak-abrak belarak, aja mung omong kelamong.
Mayo, gancang siapaken naskahe, padha milu nguri-uri basa Using, kadhung dudu awak dhewek hang nguripi aju sapa maning?.
Untuk ikut berpartisipasi dalam cerpen bahasa Using, tulis 6000 karakter atau kurang lebih tiga halaman, dan kirim ke: basausing@gmail.com.

Selasa, 01 Maret 2016

Obituari: Prof Ayu Sutarto


 Suatu sore setelah lebaran Juli 2015. Dalam medsos facebook saya menggunggah beberapa foto setelah berkeliling di Jember bagian utara, sepanjang jalan di atas sungai. Salah seorang yang memberi komen dalam foto itu adalah Professor Ayu Sutarto. Beliau mempersilahkan saya untuk mampir di sanggarnya yang asri di pinggir Kali Bedadung.
Selepas magrib saya menuju ke sanggar tersebut, bertepatan dengan Pak Ayu yang hendak meninggalkan rumahnya. Melihat saya datang, beliau yang hendak bersilaturahim ke tetangga, berbalik arah dan membawa saya ke sanggarnya.
Sebelumnya saya hanya mengenal beliau dari namanya yang sering disebut-sebut dalam perbincangan dengan budayawan Hasnan Singodimayan. Bahwa orang Pacitan ini sangat besar perhatiannya pada budaya Jawa Timur, khususnya Using, Tengger dan Madura.
Perkenalan lewat media sosial itu kemudian membawa pada pertukaran buku. Saya pernah memberikan beberapa buku berbahasa Using: Enam Mata Tentang Banyuwangi, Kembang Ronce, Markas Ketelon  dan Nawi BKL Inah.
Sore itu beliau menghadiahi saya sebuah dua buah buku. Sebenarnya ada buku yang ingin saya punyai dari beliau yaitu Kamus Budaya dan Religi Using. Tapi ternyata buku tersebut hanya tersedia di kampus Fak Sastra Universitas Jember, tempat beliau mengajar sehari-harinya. Akhirnya saya mendapatkan buku beliau lewat salah satu mahasiswanya.
“Senang  selalu menjadi yang pertama,” kata beliau. “Karena orang lain belum melakukannya.”
Memang beliau termasuk orang luar Banyuwangi yang mempunyai perhatian besar pada Banyuwangi. Oleh beberapa budayawan Banyuwangi, Pak Ayu dengan segala gelar dan jaringan akademisnya, selalu dianggap “membela” orang Banyuwangi dalam berbagai kesempatan.
Termasuk dalam ‘pembelaannya’ itu adalah terbitnya buku dongeng cerita rakyat Banyuwangi dan ensiklopedia bersampul merah itu.
Beliau sangat bangga dengan sanggarnya yang menjadi tempat pembelajaran anak-anak, tempat bermain, sekaligus oase penyejuk pada makin sedikitnya tempat bermain untuk anak-anak. Ada egrang, hulahop, dan berbagai mainan anak-anak yang tersusun rapi.
Di seberang tempat baca dan bermain anak-anak, ada lapangan kecil dan di sebelahnya lagi ada tempat yang paling beliau banggakan yaitu perpustakaannya yang berisi lebih dari 15.000 buku dan berbagai jurnal ilmiah. Tempat ini tidak hanya tempat baca. Di lantai atasnya, ada juga kamar yang bisa disewa untuk peneliti yang mau menginap. Di sebelah perpustakaannya, terdapat dapur kejujuran, di mana para tamu bisa membuat sendiri teh atau kopi, dan membayarnya pada tempat yang sudah disediakan. Saya katakan, USK Pinggir Kali Bedadung milik Prof Ayu, salah satu tempat jujugan wisata yang semestinya dipelihara dan menjadi percontohan untuk berbagai daerah. Misi menghidupkan dan nguri-uri budaya, sekaligus menjadi tempat akademisi menemukan berbagai rujukan untuk bacaan dan penelitian.
Pada akhirnya, saya mengemukakan  untuk memperbanyak lagi Kamus Budaya dan Religi Using. Beliau setuju, hanya dengan kompensasi yang digunakan untuk mendukung kehidupan USK. Saya setuju, meski belum sampai pada tahap membicarakan detilnya.
Terakhir, saya mendengar beliau masuk rumah sakit tanggal 14 Desember 2015, bertepatan dengan seminar bahasa Using yang diselenggarakan di pendopo Kabupaten. Direncanakan beliau akan menjadi salah satu pembicara dalam seminar tersebut. Tapi rupanya Yang Maha Berkehendak mempunyai rencana lain untuk beliau dengan memanggilnya tanggal 1 Maret 2016.
Prof. Ayu adalah pribadi yang ngemong, sangat bersahaja, merendah dengan kemampuannya yang luar biasa. Angkat topi untuk usahanya mendirikan USK dan menghidupinya dari kantong pribadi. Prof. Ayu adalah kekuatan yang menjadi sandaran banyak orang. Mudah-mudahan peninggalannya menjadi ladang amal yang tak berhenti mengalir untuk namanya yang saya yakin akan terus dikenang.